Home / Headline / Korupsi dan Terorisme, Mengapa Mengalihkan Kasusnya pada Allah sebagai Pencoba?
Merenda Istimewanya Jogja
Presiden Jokowi berfoto bersama dalam pembukaan APKASI (Florentina Budi Kurniawati)

Korupsi dan Terorisme, Mengapa Mengalihkan Kasusnya pada Allah sebagai Pencoba?

Jakarta, Aquilajogja.com – Korupsi adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, sama halnya dengan terorisme. Entah berapa pejabat, politisi dan komprador-kompradornya harus dipenjarakan, tidak seorang pun pasti. Publik rasanya lelah menonton berita penangkapan yang belum jua menimbulkan efek jera.

Apakah korupsi semacam sekolah kriminal yang beroperasi secara berjenjang sehingga patah satu tumbuh seribu? Pertanyaan seperti ini mencengkram benak anak-anak bangsa.

Bangsa Indonesia menanggung beban perilaku korupsi yang tidak ringan, apalagi agama kerap menjadi isu tambahan. Sudah jamak melihat koruptor justru mempertontonkan ‘kesalehan dadakan’. Tidak jauh bedanya dengan barisan penggarong uang umat, sejumlah pemilik agen umroh, yang enteng berdalih ‘khilaf dan dicobai Allah’.

Sekian lama mengamati gerak-gerik Presiden Joko Widodo, beliau mestinya orang yang paling pening kepalanya.

Dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XI Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang (06/07/2018), Presiden Jokowi mengingatkan para kepala daerah untuk menjaga integritas  amanah yang diemban, mengingat banyak terungkapnya praktik korupsi, suap, dan gratifikasi oleh KPK.

Sebagaimana diketahui, Kamis, 5 Juli 2018, kemarin, Kepala Negara bertemu dengan sejumlah bupati di Istana Kepresidenan Bogor. Dalam pertemuan itu, semua bupati dipersilakan menyampaikan masukan-masukannya terkait pemerintahan.

Merenda Istimewanya Jogja
Jokowi membuka Rakernas XI APKASI 2018 (Sekretariat Presiden)

“Semua kemarin blak-blakan. Tetapi yang paling banyak ditakuti sekarang ini banyak gubernur, bupati, dan wali kota yang ditangkap KPK,” ujar Presiden mengisahkan kembali pertemuan kemarin.

Menurutnya, bila seorang kepala daerah tidak bersentuhan dengan praktik-praktik seperti menerima suap, gratifikasi dan korupsi, maka sepatutnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Oleh karenanya ia mengingatkan para kepala daerah untuk menghindari praktik-praktik tersebut.

“Jangan main-main yang namanya korupsi, suap, dan gratifikasi. Kalau tidak bersentuhan tidak perlu takut dan khawatir. Hati-hati, karena setiap bulan, setiap minggu ada (OTT KPK),” tuturnya.

Kepala Negara merasa sedih  mendengar kabar soal adanya tangkap tangan para kepala daerah. “Saya juga sangat sedih, jangan dipikir saya senang. Tengah malam tahu-tahu dapat berita, pagi subuh tahu-tahu dapat berita,” ucapnya.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian dan Ketua Umum APKASI Mardani Maming.

Korupsi sebagaimana terorisme adalah perilaku kompleks yang dilakukan secara sadar, pasti bukan karena khilaf. Maka pertanyaannya masih sama. Apakah korupsi sebenarnya dianggap lumrah sehingga saat tertangkap, sebagian pelaku justru mengalihkan kasusnya pada Allah sebagai pencoba? Apakah justifikasinya sehingga terorisme yang jelas terorganisir tersebut harus dianggap sebagai cobaan?

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi atau berdonasi, klik di sini

About Admin

Admin
‘Kodok melihat dari bawah, manusia memandang dari daratan, mata Aquila mengamati dari angkasa. Aquila berarti ‘Rajawali yang baik hati’, sang pembawa sukacita bagi dunia. Baca Aquilajogja.com dan jadinya Rajawali-Rajawali Nusantara’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean