Home / Kesehatan dan Farmakologi / Luka Bakar di Rumah Tangga, Mengobati Luka dan Mitos
Merenda Istimewanya Jogja
Luka bakar bukan luka biasa, harus ditangani dengan benar (Istimewa)

Luka Bakar di Rumah Tangga, Mengobati Luka dan Mitos

Oleh: dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H. 

Surabaya, Aquilajogja.com – Aku seorang dokter, namun terkadang justru harus ‘mengobati’ mitos di masyarakat. Mengoleskan pasta gigi, mentega, margarin atau kecap, misalnya, dipercaya akan mengurangi panas akibat luka bakar . Entah siapa yang memulainya, padahal tidak ada bukti cara tersebut bermanfaat bahkan berisiko memperparah.

Luka bakar adalah luka akibat panas, ledakan, listrik, cairan kimia, dan dingin yang membekukan. Panas dapat berupa api, cairan panas, atau sentuhan dengan benda panas. Luka bakar akibat cairan panas paling sering ditemukan di rumah tangga. Sebagian diobati sendiri dan sembuh, sebagian memerlukan rawat jalan, dan sebagian memerlukan rawat inap dan pemulihan yang lama.

Luka bakar bukan luka biasa. Bila mengenai lebih dari seperlima luas tubuh akan mengakibatkan perubahan pola metabolisme. Perubahan ini cukup serius sehingga dapat mengancam jiwa. Penyembuhan luka bakar semacam ini memakan waktu lama, biaya tinggi, dan beban psikologis yang luar biasa bagi penderita dan keluarganya.

(Baca juga: Hipertensi, Pengincar Nyawa dalam Senyap)

Besarnya bahaya luka bakar akibat cairan panas di rumah tangga sama besar bagi orang dewasa maupun anak-anak. Dengan luas permukaan tubuh anak yang lebih kecil dari dewasa, bahaya luka bakar akibat cairan panas menjadi jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, anak-anak dan orang tua perlu mendapatkan perlindungan khusus terhadap bahaya tersebut.

Merenda Istimewanya Jogja
Tidak ada bukti bahwa mengoleskan pasta gigi atau lainnya akan mengurangi nyeri luka bakar (Istimewa)

Sebagian anak-anak terkena luka bakar akibat cairan panas karena ketidakhati-hatian orang dewasa di sekitarnya. Menuangkan air panas sebelum air dingin ketika menyiapkan air mandi contohnya. Atau ingin cepat mendapatkan air hangat dengan cara membuka keran air panas dulu sebelum air dingin. Meletakkan panci atau baskom air panas di lantai, dan lain sebagainya.

Mungkin sebagian orang mengira panas harus didinginkan, dan dingin pasta gigi akan menekan panas luka. Masuk akal! Namun pertolongan yang keliru akan memperdalam luka bakar sehingga lebih lama sembuh.

Panas luka bakar harus segera dibasuh dengan air bersih yang mengalir selama 15-25 menit. Tutupkan handuk kering di atasnya untuk mengurangi air yang menempel, kemudian tutup luka dengan kain bersih dan kering atau dengan kain kassa dan bawa segera ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan terdekat.

Sangat tidak disarankan menolong penderita luka bakar dengan bahan-bahan selain yang disebutkan di atas.

Apabila terdapat lepuh pada kulit yang terkena luka bakar, upayakan agar tidak pecah. Biarkan dokter di pelayanan kesehatan yang menilai apakah lepuh tersebut perlu dipecahkan atau tidak. Dokter pertama yang ditemui di pelayanan kesehatan akan dapat menentukan apakah luka bakar dapat dirawat jalan, dirawat inap, atau dikirim ke pelayanan kesehatan yang tingkatnya lebih tinggi.

Rumah adalah benteng pertama atau mitra medis dalam penanganan awal luka bakar. Kemitraan itu berbasis sains, bukan mitos.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Anda dokter dan ingin kontribusi, klik di sini

About dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H.

Dr. Robertus Arian Datusanantyo, M.P.H.
FKU Universitas Gadjah Mada & Paska Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta - Sedang Pendidikan Spesialis di Universitas Airlangga, Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean