Home / Headline / Katakan dengan Bunga, Sebuah Perlawanan Kreatif terhadap Abrasi Pantai Samas Jogja
Merenda Istimewanya Jogja
Aku menemukan sebuah taman bunga di Pantai Samas, Jogja, tempat indra melihat bunga sebagai perlawanan kreatif (dok. pribadi)

Katakan dengan Bunga, Sebuah Perlawanan Kreatif terhadap Abrasi Pantai Samas Jogja

Oleh: Robertus Sutartomo Tirta & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Pantai Samas, Jogjakarta, Aquilajogja.com – Entahlah, aku tidak tahu mengapa bunga harus dianggap feminin. Seorang putri yang dianugerahkan Allah padaku, apakah bunga cukup mewakili gambaran dirinya?

Bunga adalah salah satu keindahan yang patut dinikmati dan disyukuri. Harusnya demikian saja: dinikmati dan disyukuri sebagaimana dirinya memancarkan keindahan tersebut secara utuh.

Manusia sayangnya suka mengambil alih alam untuk kepentingan dirinya. Putriku yang cantik memang bisa diibaratkan bunga, dan hanya sebatas itu: ibarat bunga, bukan bunga itu sendiri. Bunga hanya upaya menampakkan sosoknya, tetapi tidak bakal sanggup mewakili setiap keindahan dalam dirinya sebagai ciptaan Allah.

Aku melatih mengapresiasi Allah dalam ciptaanNya dengan cara di atas. Sangat asyik, tidak dikontrol gagasan keindahan seperti yang diajarkan film atau novel romantis kepada kita. Dan keindahan justru paling indah ketika muncul sebagai anugerah yang tak terbayangkan.

Merenda Istimewanya Jogja

Suatu hari tanpa rencana, aku pacu sepeda motorku di sepanjang Jalan Parangtritis, Jogjakarta menuju sebuah pantai. Entah mengapa, hasrat justru menghentikan aku di gerbang Pantai Samas Bantul, yang jaraknya sekitar 27 kilometer dari Kota Jogja. Aku melupakan Pantai Parangtritis yang sebenarnya sudah tinggal beberapa saat lagi.

Ada beberapa sepeda motor yang terparkir di situ. Tiga pemuda juru parkir sigap menunjukkan tempat parkir. Mereka meminta motor tidak dikunci supaya mudah dipindahkan bilamana diperlukan.

Ada magnet keindahan di sini, tak terduga sebelumnya. Sebuah areal khusus yang sanggup mengisi indra dengan nikmat dan syukur. Sebuah taman bunga, mini dalam ukuran bila dibandingkan bentangan pantai, raksasa dalam keindahannya.

Tiket masuk Rp. 5.000 per orang dan ongkos parkir ditarik Rp. 3.000 per sepeda motor. Aku melangkah masuk taman, disambut patung orang yang sedang menebarkan jala atau jaring penangkap ikan.

Merenda Istimewanya Jogja

Ada dua ayunan dengan latar belakang tanaman bunga. Kulihat sebuah menara pandang yang terbuat dari bambu untuk memandang pantai laut selatan di kejauhan. Ada pula dua tempat untuk “selfie” dengan latar belakang tulisan “Bantul” dari jeriken plastik bekas oli dan hiasan susunan lingkaran-lingkaran.

Areal ini bukan sekadar taman, namun anugerah di tengah terik menyengat! Bagiku yang baru saja dilabrak panas menusuk,  dia menjadi kecantikan yang tak terkira.

Bila ingin melanjutkan menikmati pantai, perjalanan dapat dilanjutkan menuju pantai. Setelah melewati gerbang tiket terus ke selatan sampai Pantai Samas (Samudera Emas) yang rusak oleh abrasi. Jika belok ke kanan akan kita jumpai beberapa destinasi tempat wisata lain, seperti Menara Mercusuar, Pantai Goa Cemara, Pantai Kuweru, dan Pantai Baru.

Merenda Istimewanya Jogja

Sesungguhnya sebuah ironi bahwa aku hendak menikmati pantai namun sebuah taman, sekitar sehektar luasnya, justru lebih mewakili keindahan daripada pantai yang rusak parah karena abrasi, sedang birokrasi entah seberapa peduli. Di provinsi yang katanya istimewa, batinku bergolak, sebuah pantai melawan kehancuran dalam kesendirian.

Aku duduk di ayunan, di kejauhan ombak-ombak berkejaran tiada lelah. Mana mungkin membatasi bebungaan warna-warni surgawi hanya kepada soal-soal feminin? Indra mengajarkan sudut pandang berbeda.

Bunga-bunga ini bisa dipandang sebagai simbol perlawanan dan kreativitas warga lokal yang lelah melihat alam rusak tanpa kendali. Romantisme dalam peribahasa itu diubah secara radikal, “(Kami) katakan dengan bunga!”

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini ya

About Robertus Sutartomo Tirta

Robertus Sutartomo Tirta
Penulis & Onthelis Solo - Pensiunan Guru SMA - Universitas Negeri Surakarta (UNS), Solo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean