Home / Foto & Video Nusantara / Paradoks Watak Manusia Gadget di Pantai Tanjung Karang Donggala, Palu
Merenda Istimewanya Jogja
Ombak mendebur, angin berembus, di kejauhan gemunung (dok. pribadi)

Paradoks Watak Manusia Gadget di Pantai Tanjung Karang Donggala, Palu

Oleh: Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I. & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Banawa, Donggala, Palu, Aquilajogja.com
Kamu berada di mana?

Kalau ada besar, berarti ada kecil. Ada Kabonga Besar, ada Kabonga Kecil. Keduanya adalah kelurahan di bawah naungan Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Donggala tidak seberapa jauh dari Palu, ibukota provinsi, hanya sekitar 32 kilometer.

Asalku Kabonga Besar, bagian negeri yang memiliki topografi menawan, bebukitan dan berpantai. Ragam etnis pun tak kalah menawan. Adalah puluhan suku Kaili, etnis asli mayoritas setempat, dan sebagian lagi terdiri dari keturunan Arab dan Bugis-Makassar. Jokowi pernah menghebohkan dalam salah satu temu wicaranya ketika menanyakan ‘suku Kaili berasal dari mana’.

Aku selalu bangga menjadi bagian dari sejarah dan kekayaan etnografis Donggala. Akan tetapi, aku tidak pernah bangga dengan perilaku sebagian orang yang kontras dengan sikap ‘orang kaya’ yang seharusnya. Dan terutama, itu tergambar jelas di Pantai Tanjung Karang, Benawa, Donggala. Jauhnya hanya sepelemparan dari Kabonga.

Merenda Istimewanya Jogja
Snorkeling bersama ayah dan ibu, di balik kebiruan laut terhampar terumbu karang mempesona (dok. pribadi)

Aku berada di pantai ini, yang sedikit melingkar sembari menggaris indah pesisir Pulau Sulawesi. Airnya jernih, pasirnya putih lagi lembut dan pantainya cocok untuk renang. Berderet rumah makan dan penginapan, belum lagi pondok atau cottage menyenangkan untuk bercengkrama tanpa lepas pandang ke laut.

Keluarga besarku punya kumpulan yang rutin mengadakan arisan. Tanjung Karang hari itu menyaksikan keakraban di antara kami. Makanan dan minuman telah dipersiapkan bersama, dan dimakan lahap di teras. Debur-debur ombak dengan puas menjilati bibir pantai bersama lidah kami yang bergerak lincah menandai setiap rasa yang sedang terkunyah.

Senja turun, laut membiru syahdu menggoda hasrat untuk snorkeling atau diving. Bahkan untuk yang tidak bisa berenang, cukup memakai pelampung dan menenggelamkan wajah setengah untuk nikmati taman terumbu karang berpelangi.

Kenikmatan yang mendaki ini tak mampu sempurna karena tak mungkin tutup mata pada kontras yang semena-mena. Orang-orang itu, sebagian pengunjung pantai,  lupa bahwa keindahan yang mereka nikmati dengan sebebas kaki melangkah itu harus dijaga. Seenaknya membuang sampah! Bertumpuk-tumpuk tak peduli, mereka santai menikmati kelembutan angin di sekeliling yang dikotori ala sembrono.

Donggala dianugerahi kekayaan budaya dan alam yang tidak biasa, maka setiap orang di sini sebenarnya lahir sudah kaya. Perilaku sebagian orang, sungguh mengecewakan, tidak menunjukkan tabiat kaya!

Merenda Istimewanya Jogja
Saat arisan keluarga besar (dok. pribadi)

Aku heran bahwa orang-orang  datang untuk menikmati pantai yang justru mereka kotori! Apakah tujuan satu-satunya adalah hasrat swafoto tiada batas?

Apa pendapatmu tentang Istimewanya Jogja?

Hingga hari ini, aku tetap membawa rekaman pengalaman baik di Borobudur maupun Prambanan. Aku mengambil master dalam studi agama Islam di UIN Suka Jogjakarta. Ada banyak tempat yang kusukai, termasuk tongkrongan asyik di sekitar UGM sambil makan gudeg atau mie rebus Jowo. Akan tetapi, memori Borobudur dan Prambanan menempati urutan atas.

Aku pikir Jogja istimewa karena asosiasinya dengan dua candi luar biasa di atas. Prambanan yang luas dan hijau, ada museum lukisan dan bisa sepedaan keliling. Borobudur yang tak kalah cantik, sebuah pengalaman istimewa memandang dari ketinggiannya.

Adalah sejarah panjang Hinduisme dan Buddhisme sebagai ‘cetak biru’ Jawa-Sumatra bahkan sebagian besar Nusantara yang seperti air, mengambil rupa kultural beragam-ragam: makanan, bahasa, arsitektur hingga gending.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogjcom

About Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.

Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.
Dosen Uni. Alkhairaat Palu & IAIN Palu- Pengasuh di Ponpes Putri Alkhairaat Pusat Palu - UIN Suka, Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean