Home / Headline / Sukun Bertuah di Pulau Ende Menginspirasi Pancasila, Jokowi Membangkitkan Soekarno
Merenda Istimewanya Jogja
Patung Soekarno di bawah Pohon Sukun, tepi laut Sawu, Ende, Flores (Istimewa)

Sukun Bertuah di Pulau Ende Menginspirasi Pancasila, Jokowi Membangkitkan Soekarno

Oleh: EmKhébé, S.Ag.

Ende, Flores, NTT, Aquilajogja.com – Berdesir angin di pantai Kota Ende, Flores, sebuah pohon sukun melambaikan dedaunan berbentuk jari-jari yang agak lebar. Pohon yang tidak begitu tinggi tersebut tumbuh dan tetap terpelihara sejak dahulu, seakan prasasti hidup yang menghening.

Soekarno dikucilkan di pulau terpencil Ende, ulah Belanda yang hendak menggagalkan gelora jiwanya. Jauh dari dugaan mereka, karma telah mengatur dengan rapi. Sang Proklamator RI duduk meminjam naungan teduh sukun. Dan bagai sang Budha di bawah Pohon Bodhi, beliau menenun inspirasi alam ke dalam filsafat sila-sila sebagai dasar pendirian NKRI yang hendak disabotase kolonialis Eropa.

Pancasila melahirkan dirinya di dalam kejelian yang awas. Bung Karno tak sekadar memikirkan tentang pohon sukun dan dedaunan lebar yang melindunginya dari terik matahari Flores, dan kencangnya angin selatan dari laut Sawu. Jiwanya menggelorakan cita-cita yang jauh lebih luhur dan agung: terbebasnya bangsa Indonesia yang lelah ratusan tahun berada dicengkeram kebiadaban Belanda dan Jepang.

Hembusan angin laut menggoyang daun-daun sukun, alam membeber kekayaan Nusantara yang tersirat pada jari-jari helai daun sukun di atas kepala. Orang yang paling ditakuti Belanda dan antek-anteknya ini telah kenyang diasingkan, dan justru karenanya, pengasingan telah memperkaya batinnya akan keberagaman suku, budaya, adat-istiadat, bahasa, agama serta kepercayaan yang bukan berasal dari bangsa-bangsa asing.

Merenda Istimewanya Jogja
Taman di Pulau Ende yang sering dikunjungi Soekarno selama pengasingannya di sana (Istimewa)

Soekarno melihat Nusantara, bukan Jawa atau Sumatra saja. Dan di bentang Katulistiwa, ada semua yang merupakan objek dengki bangsa-bangsa Barat.

Soekarno melihat karma negerinya sebagai bangsa besar dalam krirstal-kristal sila yang dihidupi serta menghidupi masyarakat turun-temurun. “Kita tidak perlu meminjam bahasa dan istilah-istilah asing untuk menjadi jiwa suatu bangsa,” batinnya menggelegak.

Daun sukun yang lebar, berjari-jari, yang menyatu pada sehelai daun itu seakan menghentakkan naluri perjuangan Bung Karno. Pancasila, istilah dan ideologi yang tepat untuk merangkul seluruh masyarakat di dalam kesatuan, senasib dan seperjuangan biarpun berbeda-beda. Kekayaan suku-suku bangsa di Nusantara adalah bhineka, suatu fakta yang sudah ada. Keberagaman ibarat jari-jemari pada daun sukun yang menyatu – tunggal ika, banyak jari pada satu tangkai daun, itulah bumi Nusantara!

Terik matahari Flores terasa menyengat di ubun-ubun Soekarno. Di atasnya matahari ‘menyeringai’ penuh kuasa tetapi adil bagi semua makhluk.

Suku-suku di Nusantara semua memiliki budaya, bahasa dan kepercayaan yang beragam, tetapi semua berada di bawah satu langit, satu matahari. Ketuhanan yang Maha Esa, pemersatu berbagai aliran kepercayaan akan sang Khalik.

Hembusan angin datang dari lereng gunung Kelimutu, danau tiga warna dalam satu kawah; berbeda tetapi berdampingan tanpa mengacaukan. Seperti juga masyarakat Nusantara, Sabang sampai Merauke, hidup berdampingan laiknya jari-jari sukun, cocok menjadi sila Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Merenda Istimewanya Jogja
Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (KOMPAS.com / FITRI PRAWITASARI)

Dari Sabang sampai Merauke, Sangir Talaud hingga Pulau Rote, ribuan pulau serupa manik-manik yang kokoh merangkai satu menyatu. Bila setiap pulau dan suku hidup terpisah, kebudayaan yang mempersatukan menjadi hal yang mustahil terjadi. Daun sukun, pohon yang terbuka menerima angin itu, jemari daunnya juga melambaikan kesatuan dan nafas persatuan. Sila ketiga diapit mesra oleh keempat sila yang lain menjadi satu-kesatuan yang kokoh.

Di bawah naungan pohon sukun, Bung Karno merasakan keramahan, keakraban sapaan persaudaraan dari orang-orang Ende Lio. Kedengaran kasar tetapi sorot mata persahabatan dan senyum mereka mengisyaratkan beda bukan musuh, keberagaman bukan ancaman. Di bawah pohon sukun itu mereka dapat bertukar cerita tentang cita-cita dan keistimewaan setiap ritual budaya. Lambaian daun sukun diterpa angin dari laut Sawu, seakan mengisyaratkan perlu adanya musyawarah untuk mencapai mufakat di antara seluruh komponen anak bangsa.

Keadilan Sosial merupakan cita-cita bersama yang wajib terus-menerus diupayakan. Pemimpin yang dipilih secara demokratis menjadi pelopor terwujudnya keadilan sosial, tetapi itu harus dibina secara berkelanjutan.

Aku melihat pohon sukun di kota Ende, di tepi laut Sawu, ‘saksi’ bisu yang mesti dimaknai oleh anak-anak Nusantara secara bijak. Aku ingat Jokowi, dia sedang membangkitkan Soekarno!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin menulis atau berdonasi, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogjacom

About EmKhébé, S.Ag.

EmKhébé, S.Ag.
Katekis dan Pendidik, Jakarta - STFK Pradnyawidya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean