Home / Headline / Guru Tua Pembawa Alkhairaat Bersyiar “Inni Bu’itstu Mualliman”, Aku Diutus Menjadi Pendidik
Merenda Istimewanya Jogja
Abnaul khairaat di Haul Guru Tua (dok. pribadi)

Guru Tua Pembawa Alkhairaat Bersyiar “Inni Bu’itstu Mualliman”, Aku Diutus Menjadi Pendidik

Oleh: Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I. & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Palu, Sulteng, Aquilajogja.com – Bilapun sejarah hidupku bisa diubah, aku menolak. Aku bahagia sebagai abnaul khairaat (sebutan bagi sesiapa yang menimba ilmu di Alkhairaat) dan setiap tahun, merayakan haul Guru Tua.

Sejarah bagiku soal keutamaan yang diwariskan antar generasi. Ingatan itu tak jua rela memudar, sebuah patri emosional bersama Papa Tua (Kakek) yang tiada berbanding. Aku bisa memutarnya berulang-ulang. Beliau pulang dengan membawa kotak makanan dan bercerita baru saja kembali dari perayaan haul Guru Tua.

Pikiran bocahku tidak begitu mengerti makna haul. Aku hanya tahu seseorang yang sangat dihormati seisi rumah, potret wajahnya terbingkai rapi menghiasi dinding. Dan untuk itulah, Papa Tua sangat antusias setiap kali berangkat, begitu pula saat pulang haul, setiap tahunnya.

Merenda Istimewanya Jogja
Habib Idrus bin Salim Aljufrie, sang Guru Tua yang bersyiar “Aku diutus menjadi pendidik”

Waktu melesatkan masa remaja kepadaku. Aku lalu mondok di Pesantren Putri Alkhairaat Pusat Palu dan melihat dinding pondok berhias foto yang sama.

Haul rupanya berkait peringatan wafatnya Habib Idrus bin Salim Aljufrie, sang pendiri Yayasan Perguruan Islam Alkhairaat Palu, Sulawesi Tengah, yang sejak berdirinya telah melahirkan ribuan madrasah yang tersebar di kawasan Indonesia Timur. Beliau lebih dikenal dengan sapaan Guru Tua.

Habib dilahirkan di kota Taris, Hadhramaut, Yaman, pada tanggal 15 Sya’ban tahun 1309 H (1890 M) dan wafat pada hari senin, 12 Syawal pada tahun 1389 H atau bertepatan dengan 22 Desember 1969. 12 Syawal inilah yang diperingati sebagai haul Guru Tua setiap tahunnya.

Merenda Istimewanya Jogja
Santri pondok, alumni, tamu dan masyarakat berbaur dalam ucap syukur (dok. pribadi)

Gelar Guru yang disematkan padanya sungguh melekat di sanubari para muridnya, baik murid langsung maupun bukan. Aku tidak pernah berjumpa dengan beliau, namun sejarah keluargaku mengajarkan kedekatan dan hormat padanya. Aku sudah mengenalnya sejak kecil, mengenalnya melalui gambarnya.

Nyaris setiap rumah di kampungku memajang gambarnya. Bisa dipastikan seluruh abnaul khairaat di manapun berada pasti memajang fotonya yang mulia, sebuah bentuk takzim dan kecintaan padanya.

Kukabarkan tanpa ragu pada dunia bahwa menjadi abnaul khairaat adalah kebanggaan dan kesyukuran tak terlukis. Setiap alumni bersyukur diberi kesempatan mengecap pendidikan di Madrasah Alkhairaat, sebuah sejarah peluh dan air mata agar pendidikan sungguh mencerdaskan umat.

Festival Raudhah
Wanita Islam Alkhairaat (WIA)

Syair agung warisan beliau bersyiar “dengan ilmu setiap bangsa menjadi tinggi di antara umat manusia, dan mencapai kemuliaan di antara bangsa-bangsa”. Syair agung warisan beliau bersyiar “inni bu’itstu mualliman”, aku diutus untuk menjadi pendidik”.

Aku mengambil bagian dalam pelaksanaan haul 2018, tahun istimewa karena merupakan “Haul Emas” Guru Tua, bertepatan dengan hari jadi Alkhairaat 30 Juni. Pelaksanaan pun bergeser dengan sejumlah pertimbangan, tadinya 12  syawal menjadi 16 syawal.

Rasa syukur penuh takzim memenuhi sanubari menyaksikan antusiasme abnaul khairaat dan masyarakat luas yang berbondong-bondong menghadirinya. Tak ada kata merugi pun lelah atau penyesalan bagi tamu-tamu haul dari berbagai daerah walaupun mereka harus menginap bahkan berdesak-desakan.

Merenda Istimewanya Jogja
Festival Raudhah (dok. pribadi)

Rombongan Wanita Islam Alkhairaat  (WIA) dan santri-santri dari Poso serta beberapa kabupaten lainnya di Sulteng dan Gorontalo memadati kamar asrama putri yang tidak sanggup lagi menampung. Harus himpit-himpitan, namun bahagia.

Tamu-tamu dari berbagai daerah Sulawesi Tengah maupun luar provinsi seperti Kalimantan, Manado, Ternate dan lainnya juga berdatangan. Kompleks Alkhairaat ramai dengan berbagai kesibukan menyambut haul. Panitia Haul dan seluruh abnaaul khairaat bahu-membahu mensukseskan haul Sabtu 30 Juni 2018.

Semarak haul semakin mempesona dengan adanya Festival Raudhah yang mendapatkan dukungan dan perhatian khusus dari Pemkot dan DPRD Kota Palu ini. Festival diisi dengan berbagai lomba seperti seni qasidah kontemporer, jepeng, hadrah, hafalan Qur’an dan pembacaan Syair Guru Tua yang dilaksanakan di kompleks Alkhairaat Pusat.

Merenda Istimewanya Jogja
Papa Tua (bersama Mama Tua), salah satu murid langsung Guru Tua (dok. pribadi)

Aku adalah sebuah titik dalam lautan manusia yang berkumpul mengucap syukur pada Tuhan atas hadirnya sang Guru yang menghiasi Nusantara dengan cahaya Alkhairaat: ilmu dan akhlak.

Ingatanku membawa pulang senyum di wajah Papa Tua sepulangnya menghadiri haul Guru Tua. Aku berjalan di antara ruang waktu hingga sayup telingaku mendengar sebuah nama. Rupanya para perintis Alkhairaat, murid-murid awal Guru Tua, sedang dibacakan di panggung utama. Nama Papa Tua disebut.

Seketika cahaya Alkhairaat memendar di wajahku. Aku siap diutus sebagai pendidik.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah atau berdonasi, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogjacom

About Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.

Dwi Pratiwi Lestari, M.Pd.I.
Dosen Uni. Alkhairaat Palu & IAIN Palu- Pengasuh di Ponpes Putri Alkhairaat Pusat Palu - UIN Suka, Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean