Home / Kisah Perjuangan / Part 2/2 – Rebung Bambu Sanxia, Buruh Migran Indonesia Bertani di Taiwan
Merenda Istimewanya Jogja
Di tengah kebun, belajar mencipta kegembiraan dalam rasa syukur (dok. pribadi)

Part 2/2 – Rebung Bambu Sanxia, Buruh Migran Indonesia Bertani di Taiwan

Oleh: Vina Fajarianti & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Xansia, Taipei, Aquilajogja.com – Kegembiran seorang simbok tercipta dalam perjuangan bagi anak terkasih. Kadangkala buruh migran dicemooh justru karena dianggap tega meninggalkan anak demi duit. Padahal, kami belajar ‘mencipta’ kegembiraan setiap harinya agar mampu melayari sepi dan terkadang, sedih yang mengaduk.

Tinggal bersama petani-petani Desa Sanxia, Taiwan, aku belajar menemukan bahwa di setiap celah gerombol bambu ada kebahagiaan tak bercela dalam rebung-rebung yang kudapati.

Kampung bernuansa pedesaan Jawa ini sederhana warganya, besar visinya. Indonesia gudangnya hutan bambu, tetapi baru kusadari ekonomi rebung setelah di tanah rantau. Setiap panen per tiga hari, majikanku bakal mengumpulkan 300-400 bonggol yang nilai jualnya (setelah direbus) mencapai kisaran Rp. 150 – 200 ribu/kg.

Merenda Istimewanya Jogja
Rebung-Rebung Sanxia, Taiwan, yang selesai di rebus dan siap dijual (dok. pribadi)

Bukan soal uang yang sedang kubicarakan,namun fakta tak terbantahkan bahwa nasib peduli bukan pada kepiluan hidup namun kebulatan tekad untuk mengubah hidup.

Pengetahuan ini sangat berkesan bagiku, mengingat bahwa setelah perceraianku 5 tahun yang lalu, aku tidak mempunyai apapun. Anak semata wayangku mau masuk sekolah, dompet melongo tanpa uang sepeserpun. Aku melihat cincin pernikahan untuk terakhir kalinya, lantas kulego untuk biaya pendaftaran sekolah.

Aku sadar harus bekerja, dan itu pukulan deras. Aku tidak mempunyai keahlian apapun. Bekerja ikut orang, apalagi sebagai asisten rumah tangga di negeri asing, sungguh jauh dari bayangan.  Di depan mata, anakku berdiri dengan polos. Aku harus berontak, tak sudi dia terjerembab labirin nestapa.

Merenda Istimewanya Jogja
Desa Sanxia, Taiwan, yang bernuansa pedesaan Jawa (dok, pribadi)

Koper kukemas, aku mengepak sayap ke tanah leluhur orang meski tanpa bekal ketrampilan.  Yang aku tahu hanya satu: seorang putra sedang menguncup dalam gelak tawanya. Dia tanggung jawabku.

(Baca juga: Mantan TKW Hong Kong Menegur Overekspose Televisi Atas Aksi Terorisme)

Sanxia membuka wawasanku selebar kehidupan itu sendiri. Orang-orang desa menunjukkan bagaimana menunggang nasib dengan lihai, dan menjadikan gembira sebuah peluang setiap harinya.

Tuhan sungguh maha cinta. Martabat kehidupan bagi anakku perlahan tergenggam. Aku merencanakan beberapa hal termasuk membuka peternakan ayam petelur sepulangku ke Malang kelak.

Rupanya Tuhan belum puas dengan lelaki kecil dalam hidupku, dia melengkapi hidupku dengan lelaki dewasa. Di tanah asing yang menjadi sekolah kehidupanku, aku dianugerahi gembira lain.

Ibu by Iwan Fals (Video: LUPUSKUE)

Dua tahun yang lalu, aku mengenal seorang pria sederhana yang rendah hati. Dia sangat baik, perlakuan dia ke aku benar-benar membuatku kembali percaya cinta.

Kekasihku punya kesukaan khusus pada Jogjakarta. Selain banyak makanan enak, dia bilang bahwa penduduknya sangat ramah. Yang teristimewa adalah dia sangat menyukai musik tradisional. Matanya berbinar-binar bila menceritakan musik Angklung yang biasanya ada tiap sore hingga malam di Malioboro.

Pria yang sangat terdidik ini sering menyapa aku di desa terpencil  Sanxia, menyapa seorang buruh migran asli Malang yang justru bertani di Taiwan. Tak terasa kami sudah hampir tiga tahun menjalani pahit getir dalam sebuah hubungan.

Bila di awal pendakian terjal hidup kutemukan putraku dalam setiap rebung, kini setiap rebung menceritakan dua lelaki terkasih yang membuat Allah begitu dekat dan nyata. Aku masih belajar mencipta bahagia, namun kini ditambah syukur setiap hari.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Anda BMI ingin berbagi kisah, klik di sini ya

About Vina Fajarianti

Vina Fajarianti
Buruh Migran Indonesia (BMI), Taiwan - Akan membuka usaha ayam petelur kelak di Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean