Home / Kisah Perjuangan / Part 1/2 – Rebung Bambu Sanxia, Buruh Migran Indonesia Bertani di Taiwan
Merenda Istimewanya Jogja
Siang mulai terik saat kupandang hamparan kebun bambu di Desa Sanxia, Taiwan (dok. pribadi)

Part 1/2 – Rebung Bambu Sanxia, Buruh Migran Indonesia Bertani di Taiwan

Oleh: Vina Fajarianti & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Xansia, Taipei, Aquilajogja.com – Sejauh memandang seperti hutan bambu menghijau yang disulap Walikota Surabaya Risma di atas lahan pembuangan sampah. Di setiap pokok bambu menyembul seperti gunungan-gunungan kecil. Aku menunduk kagum pada rebung-rebung yang siap panen ini.

Orang memanggilku Vina Fajarianti. Aku anak di rantau Taiwan, ribuan laksa menjauhi Kota Malang, Jawa Timur, tempat aku dibesarkan. Senafas namaku, subuh adalah waktu terbaik untuk mengamati bambu-bambu muda.

Tidak seperti sangkaan orang, Taiwan tidak hanya hutan pencakar langit. Desa Sanxia yang berjarak hanya sekitar sejam dari Taipei adalah kisah tersendiri. Di sini, nyaris semua warga adalah petani rebung, dan sebagian sayur-sayuran.

Awal menginjakkan kaki ke Taiwan tahun 2015, aku mengira akan tinggal di apartemen tinggi bertingkat di tengah kota yang enggan mengaso barang sejenak. Hidupku sebagai seorang buruh migran Indonesia (BMI) justru berulah, ia membuka lembaran pengalaman baru. Aku justru ditempatkan di sebuah keluarga petani Sanxia.

Merenda Istimewanya Jogja
Kebun sayuran yang kukelola (dok. pribadi)

Terasa janggal memandang keluar yang lebih mirip pedesaan di Jawa. Tugasku terbilang ringan, hanya merawat orang tua keluarga petani. Itupun hanya dimulai siang hari. Di pagi hari aku turun kebun, menggarap lahan bercocok tanam satur-mayur untuk dikonsumsi bersama.

Tidak terasa 3 tahun sudah di lelakon BMI. Pekerjaan sebagai perawat orang tua ternyata sangat menyenangkan. Keluarga majikan memperlakukan diriku dengan baik. Aku mendapatkan libur setiap bulan yang kupergunakan untuk bertemu dengan sesama perantau, travelling dan belanja-belanja.

(Baca juga: Seorang Pria Jogja Mendapat Pesan WA dari Kekasihnya yang Telah Meninggal Dunia)

Subuh tadi kala fajar masih menyamar dalam remang, kutelusuri rebung-rebung yang tudungnya dibasahi embun menetes. Teringat aku pada kemben simbok yang basah melekat ke pinggulnya kala memandikan anaknya di perigi.

Dadaku berdegub diterjang getaran rindu.

Merenda Istimewanya Jogja
Sebuah rebung menyembul indah (Istimewa)

Aku juga seorang simbok buat putra semata wayangku. Setiap ayunan cangkul, segelas kecil peluh yang menetes saat kurebus rebung-rebung sebelum dijual, setiap capek yang kurasa mengurus orang tua majikan, setiap potong adalah perjuangan bagi masa depan lelaki kecil yang kucinta.

Dulu simbok yang berkemben memandikan diriku. Sekarang aku bermandi keringat, betis berlepotan tanah, wajah kecipratan panas rebusan rebung. Kehidupan adalah sebuah siklus, simbok untuk anak terkasih.

(Baca juga: Kisah Cinta Perawat Panti Rapih Jogja, Reuni dan Serangan Jantung karena Mantan)

Aku menunduk lebih dalam, mengamati rebung yang paling istimewa. Kutahu di balik kupasan selaput adalah daging putih yang legit nan wangi.

Putraku mengetahui bahwa simboknya adalah petani di negeri orang. Namun putraku tak menyadari hal ini, bahwa setiap rebung mengingatkan aku pada kehidupan yang sedang menguncup dalam dirinya.

Ada rindu terkirim hingga potongan terkecilnya supaya dibawa angin melintas Samudra Pasifik. Kiranya engkau di Malang, sang rebung kerinduanku, memiliki hidup yang bermartabat.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Anda BMI ingin berbagi kisah, klik di sini ya

About Vina Fajarianti

Vina Fajarianti
Buruh Migran Indonesia (BMI), Taiwan - Akan membuka usaha ayam petelur di Malang **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean