Home / Catatan Jurnalis / Sultan Jogjakarta Menolak Jalan Tol, Sebuah Kearifan Kultural Tanpa Membangkang
Merenda Istimewanya Jogja
Sri Sultan hamengku Buwono X, Raja dan Gubernur Jogjakarta (Istimewa)

Sultan Jogjakarta Menolak Jalan Tol, Sebuah Kearifan Kultural Tanpa Membangkang

Oleh: Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Seorang gubernur bukan saja pejabat formal, dia harus menjadi orang yang paling setia dengan karakter dan historitas kota yang dipimpinnya. Istimewanya Jogja adalah bukan hanya memiliki gubernur, namun pertama-tama beliau adalah seorang Sultan.

Pemerintahan Jokowi punya impian besar mempersiapkan Indonesia sebagai negara digdaya. Pilihan yang sangat logis adalah membangun infrastruktur yang memungkinkan efektivitas arus manusia, barang dan jasa, dengan multi efek domino di berbagai sektor.

Kala proyek jalan tol yang akan mengintegrasikan Jogja, Solo dan Semarang (Joglosemar), tidak sekadar kata namun secara fisik tersambung rapi, Sultan Jogja Hamengku Buwono X menunjukkan kapasitasnya sebagai pengageng budaya.

Beliau tegas menolak! Bukan pembangkangan, hanya sebuah kearifan yang patut diteladani pusat dan petinggi setiap provinsi lainnya. Beliau bertindak secara adaptif sesuai kondisi-kondisi lokal tanpa menafikan faedah Joglosemar itu sendiri.

(Baca juga: Seruan Doktor LIPI: Balikin Arkade Pengetahuan Kota Jogja!)

Proyek jalan tol dimaksud akan meliputi Jogja-Solo dan Semarang Jogja. Jalur Jogja – Solo memiliki risiko kultural yang tidak main-main.

“Jadi Solo – Jogja akan memiliki jalan tol, kami keberatan bila akan melewati daerah Prambanan. Banyak situs di sana yang belum terverifikasi, teridentifikasi dan diteliti,” tegas Sultan saat menghadiri acara Syawalan di Pendapa Parasamya, Bantul, Senin (25/6/2018).

Dunia mengenal Jogjakarta sebagai kota budaya. Bisa dibayangkan ironi itu bahwa Jogja membolehkan dibuldozer berbagai situs dan warisan budaya yang telah membentuk karakter khas dirinya selama berabad-abad?

Merenda Istimewanya Jogja
Kompleks Candi Prambanan, jejak Hinduisme yang merupakan salah satu DNA kultural bangsa Jawa, bahkan sebagian besar Indonesia (Istimewa)

Pertimbangan lain yang tak kalah pentingnya adalah keberpihakan Keraton kepada masyarakat. Proses pembangunan tol tidak semudah dibayangkan karena harus melalui pembebasan lahan. Belum lagi bahwa sebagian lahan terdampak mungkin saja merupakan berbagai situs cagar budaya.

(Baca juga: Spirit Jogja yang Tidak Bisa Dibuldozer: Kantin, Perlawanan Kethoprak dan Bonbin Reborn Jilid 2)

Tol Semarang – Jogja rencananya berawal dari Bawen(Jawa Tengah) hingga Secang di daerah Magelang sampai Jogja melalui bagian utara wilayah Demak Ijo melewati ringroad utara sisi barat dan melewati Selokan Mataram di Kabupaten Sleman.

Pemda DIY pun melobi Pemerintah Pusat untuk bersepakat mengalihkan jalan tol sehingga tidak perlu menerabas Prambanan. Satu opsi adalah tol dibuat di atas Jalan Jogja Solo, dengan sistem jalan bertingkat, hingga tembus Ringroad Utara. Cara ini mungkin lebih murah sehingga alokasi dana lebih efisien.

Di titik ini, kembali Sultan menunjukkan kapasitasnya sebagai gubernur dan raja Jogjakarta. Beliau kembali menolak rencana pusat tanpa membangkang seperti sangkaan sebagian orang.

Jalur tol yang masuk wilayah Jogjakarta dijadikan outer ringroad yang melintasi sejumlah area terluar DIY sehingga akan lebih bermanfaat dibandingkan jalan tol.

“Dengan outer ringroad ini kami tidak perlu jalan tol lagi. Kami sebenarnya keberatan dengan proyek Jalan Tol di wilayah Jogjakarta karena perekonomian rakyat seperti pasar akan mati oleh Jalan Tol,” pungkas Sultan.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi kisah atau pasang iklan, klik di sini ya

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean