Home / Headline / Pengelana Jogja di Filipina: Sapi dalam Kesadaran Krisna, Islam Nusantara dan Katolikisme
Merenda Istimewanya Jogja
Dalam Veda, sapi merupakan hewan suci yang harus dilindungi dan dihormati (doj. pribadi)

Pengelana Jogja di Filipina: Sapi dalam Kesadaran Krisna, Islam Nusantara dan Katolikisme

Oleh: Yadu Nandana & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Manila, Filipina, Aquilajogja.com – Politik dagang sapi, frasa yang kerap diumpatkan di ruang publik untuk mengkritisi – atau mencemooh – perilaku sebagian politisi yang barter kepentingan demi konsensi-konsensi politik. Sapi juga terkadang dikaitkan dengan mega korupsi oleh partai politik tertentu, ataupun praktik kongkalikong yang dilakukan pihak-pihak yang mengais fulus ilegal dalam ketahanan pangan nasional.

Sapi, akan tetapi, punya kisah yang jauh lebih menarik di bumi Nusantara.

Sebuah tradisi diwariskan sejak abad ke-15 di kompleks Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Setiap perayaan hari raya Idul Adha, Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus hanya berkurban kerbau dan kambing, bukan sapi.

(Baca juga: Islam Nusantara Mewujud dalam Tradisi Nyadran di Dusun Jogonalan, Jawa Tengah)

Hal ini terkait syiar agama Islam Wali Songo, khususnya Sunan Kudus atau Djakfar Sodiq, yang pernah menjadi panglima perang Kerajaan Demak di zaman Sultan Patah (abad ke-15). Beliau dianugerahi tanah perdikan, Desa Tajug, yang  sebagian besar warganya beragama Hindu. Demi menghormati kesakralan sapi sebagai kendaraan Krisna dalam Hinduisme, Sunan meminta pengikutnya tak boleh menyembelih sapi.

Aku baru kembali dari Filipina, dan benak sesak dengan kisah ‘sapi nusantara’ yang secara unik kutemukan dalam persinggahan di negeri Katolik  tersebut.

Awalnya sebuah perjalanan spiritual ke negeri ginseng Korea Selatan dari tanggal 7 – 22 Juni 2018. Tujuan utama berkunjung ke kuil umat Hindu dan atau praktisi Bhakti-Yoga dalam organisasi ISKCON (International Society for Krishna Consciosness) guna mempresentasikan Om Sri Surabhi Campaign atau  Kampanye Perlindungan Sapi.

Merenda Istimewanya Jogja

Pustaka Suci Veda tegas menyebutkan bahwa sapi merupakan hewan suci yang harus dilindungi dan dihormati. Om Sri Surabhi Campaign memperkenalkan kembali akan keagungan sapi, minimal kepada umat Hindu.

Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, aku harus transit selama 14 jam di Filipina. Ada gejolak jiwa untuk mengunjungi kuil-kuil ISKCON di Manila dan sekitarnya.

Petugas imigrasi tampak kaget saat memberi stempel pada passport-ku hanya untuk beberapa jam singgah sebelum terbang malamnya ke Jakarta. “Mengapa begitu cepat?” tanya dia keheranan.

Dengan riang kujelaskan keinginan lama mengunjungi kuil ISKCON Sri-Sri Radha-Madhava Mandir di Makati dan ISKCON Vraja Eco Village di Laguna. Dan aku diterimanya dengan ramah.

Ini kali pertama aku menginjak tanah Manila. Dari Ninoy Aquino Int’l Airport, aku menggunakan jasa Grab. Sopir paruh baya melayani dengan cekatan, apalagi beliau fasih  berbahasa Inggris sehingga perjalanan selama 45 menit asyik mengobrolkan Filipina dan Indonesia.

Akan tetapi, kaget rupanya tema sentral dalam pengalaman di negeri Katolik ini.

Begitu tiba di ISKCON Sri-Sri Radha-Madhava Mandir, Makati, giliran aku yang harus kaget disambut bagai keluarga yang lama tak berkunjung.

Saudara-saudari yang menyambutku juga tak kalah kagetnya bahwa seorang mahasiswa Jogja, Indonesia, dengan sengaja memilih transit di negerinya hanya untuk  menyerap energi baik di Manila Temple.

(Baca juga: Dokter Jogja Berbusana Blankon dan Jarit di Tengah Dinginnya Salju New York)

Memang begitulah adanya. Aku mendapatkan tiket pernerbangan yang mengharuskan transit  sebelum penerbangan menuju Soekarno-Hatta, Jakarta. Ada pilihan tiga negara, dan aku memilih Filipina.

Merenda Istimewanya Jogja

Kekagetan mereka dikonversi dalam anugerah rasa kekeluargaan yang membuatku merasa sangat nyaman sebagai minoritas di negeri mayoritas Katolik ini. Dengan penuh kasih, aku diantar ke tempat yang selama ini kukagumi, yakni Vraja-Dhama Eco Village di Laguna.

Energi positif kurasakan begitu kuat di sini, sebuah pengalaman kesadaran Krisna yang sulit dijelaskan. Ada hening yang memperdamaikan seluruh unsur kehidupan.

Aku merasakan bahwa istimewanya Islam Nusantara telah mengendap lama di Filipina. Sunan Kudus membangun Tajug layaknya kota Al- Quds di Filistin, yang di zaman khalifah Umar bin Khatthab merupakan kekuatan Islam setelah Mekkah dan Madinah. Islam mengislam tanpa ayunan pedang. Setetespun darah tak tertumpah. Gereja atau sinagoga tak dirubuhkan, malah kebebasan beragama dijamin.

(Baca juga:  Islam dan Katolik di Pulau Muna Bersatu Tidak Bercerai, Berpisah Tidak Punya Antara)

Orang-orang yang kutemui memberikan bantuan dan pelayanan layaknya menyambut keluarga kandung oleh kehendak ilahi. Aku semakin tersadar, betapa hendaknya kita belajar untuk berusaha memberikan pelayanan terbaik, bahkan kepada mereka yang bukan terlahir dari ibu kandung kita.

Saat tatapan sapi kuil menimpa tatapanku, jiwaku ‘dipukul kaget final’ tentang kasih pelayanan. Krisna pun rela reinkarnasi demi  melayani manusia. Yesus sendiri berkata, “Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani”.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi atau pasang iklan, klik di sini ya

About Yadu Nandana

Yadu Nandana
Spiritual Millennial & Traveller - Spiritual Writer - Mahasiswa STIE SBI Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean