Home / Headline / Tenggelamnya KM. Sinar Bangun, Mata Mereka Tertuju Ke Arah Danau Toba
Merenda Istimewanya Jogja
KM Sinar Bangun di hari naas, diduga tenggelam karena kelebihan muatan dan cuaca buruk (Istimewa)

Tenggelamnya KM. Sinar Bangun, Mata Mereka Tertuju Ke Arah Danau Toba

Oleh: Delima Silalahi, M.Si.

Danau Toba, Parapat, Aquilajogja.com – Mata katanya memancarkan hasrat di kedalaman jiwa. Siang itu, bukan pandangan berbinar yang kutemui, namun mata-mata nanar yang kosong menatap ke arah Danau Toba. Aku ikut melihat ke sana, beriak air seperti biasanya dan bebukitan menghampar indah. Destinasi wisata yang sedang digenjot agar sekelas internasional berubah bebal.

Tenda-tenda darurat muncul bertebaran bak jamur di musim penghujan. Mereka yang bertopang dagu di bawahnya terpekur. Mereka melawan dingin dan sepi dalam hujan air mata. Orang-orang yang mereka kasihi ditelan Danau Toba dalam tenggelamnya KM. Sinar Bangun (18/06/2018), yang berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, menuju Pelabuhan Tiga Ras, Parapat.

Berjaket kulit hitam lusuh duduk beralaskan tikar plastik tipis, tubuh kurus itu bernama Pak Purba. Lehernya dibalut syal biru kucel, bibirnya hitam kering, mata merah sembab dalam kekosongan. Dia telah kehabisan air mata, hampir tak peduli aku yang mendekatinya.

Kusodorkan sebotol air mineral ke tangannya. “Terima kasih”, lirih dia menatapku. “Bapak sudah makan?” tanyaku sambil menawarkan sebungkus biskuit. Dia menggeleng tak bersemangat.

Istri beliau memilih berdiri di tepi danau menunggu kabar, bahkan bila hanya kesiur angin. Setelah dua malam, mereka hanya lirih berbisik, “Di mana anak kami saat ini?”

Pada hari naas yang menelan ratusan korban itu, anaknya yang adalah buruh dan masih lajang hanya pamit ke Samosir naik sepeda motor bersama kekasihnya, bukan pamit untuk selamanya.

Merenda Istimewanya Jogja
Keluarga korban menatap lurus ke arah Danau Toba (dok. pribadi)

Di sudut lain di bawah tenda yang sama, keluarga korban baik anak bayi hingga lanjut usia duduk berkelompok penuh kedukaan. Mata-mata sembab dan merah itu saling meminjam harapan dan iman.

“Kami sudah sangat lelah, fisik dan pikiran. Tak tahu berbuat apa. Ingin turun mencari ke danau tidak diperbolehkan. Banyak sekali orang tapi hanya melihat-lihat ke danau” tutur Pak Sihombing yang sedang mencari adiknya.

“Ini hari keempat di sini, dinginnya malam sudah tak kami rasakan. Lapar pun sudah tidak lagi mendesak. Yang penting kami bisa menunggu anak-anak kecintaan kami ditemukan”, kata seorang ibu yang duduk lesu dikelilingi sanak-saudaranya.

Aku kembali menatap ke arah Danau Toba bersama mereka. Tidak ada apa-apa di sana, alam berjalan naluriah. Dan itu menyakitkan.

“Kami bolak-balik RS. Raya Tiga Ras, karena katanya korban yang ditemukan akan dibawa ke sana”, kata Pak Amin yang kehilangan empat orang saudaranya. “Di sini susah, walau makanan disediakan oleh posko, kadang kita tak kebagian, terpaksa beli di luar dan sangat memberatkan. Entah sampai kapan ini berakhir”, katanya lagi.

“Aku bingung melihat para regu penolong yang datang dari mana-mana, bergerombol tapi tak turun ke danau. Semua menunggu komando entah dari siapa, tak ada komando. Ada banyak kapal menganggur di tepi danau, mengapa tak ikut mencari,” kata Bapak lain yang dua anaknya juga belum ditemukan.

Merenda Istimewanya Jogja
Polisi mengamankan lokasi yang kedatangan tamu-tamu penting (dok. pribadi)

Berharap, sedih, menyesal, kecewa, dan marah, bergantian rasa berkecamuk di tengah keluarga korban.

“Kami sudah pasrah menerima kenyataan kondisi anak kami seperti apa, tapi kami akan puas melihat dan membawa jasad mereka,” kata seorang Bapak.

Siang itu, Kamis, 21 Juni 2018, selain ramai oleh keluarga korban, Pelabuhan Tiga Ras juga disibukkan oleh kehadiran para pejabat dari pusat dan provinsi. Ada Menteri Perhubungan, Kapolri, Panglima TNI, Gubernur Sumatera Utara, Direktur BPOPKDT, para Bupati, Kapolres dan pejabat-pejabat lainnya.

Di destinasi wisata yang hendak diinternasionalkan itu, berjejer mobil-mobil mewah milik mereka yang sedang membincangkan tubuh-tubuh yang enggan dikembalikan Toba. Polisi-polisi di ruas jalan mengatur lalu-lintas agar tidak mengganggu.

Keluarga korban tidak memalingkan mata ke arah orang-orang penting tersebut. Dari dalam tenda atau berjejer di tepian, tatapan mereka tetap lurus ke arah danau. Setiap kapal Tim SAR merapat, langsung bertanya penuh harap, “Sudah adakah yang ditemukan?”

Aku lihat semua ini, orang-orang menatap nanar, menajamkan telinga mendengar berita, di keheningan yang tak peduli. Mungkin mereka sudah tidak mampu mengartikan kata “duka”.

Kecuali di tenda-tenda dapur umum ada kesibukan yang layak untuk destinasi wisata internasional: selfie.

Para petugas giat memasak dan melayani para relawan yang hendak makan atau minum. Pemberi sumbangan logistik juga datang bergantian ke posko untuk menyerahkan bantuannya sembari swafoto. Orang-orang ini bertukar tawa satu dengan yang lain melepas kepenatan dan mungkin rasa bosan, karena ratusan tubuh yang membengkak di bawah sana harus menunggu para petinggi negeri selesai rapat.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin bagi kisahmu, klik di sini ya

About Delima Silalahi, M.Si.

Delima Silalahi, M.Si.
Direktur Kelompok Studi dan Pengembangan Prakarsa Masyarakat, Parapat - USU Medan - UGM Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean