Home / Kesehatan dan Farmakologi / Kisah Cinta Perawat Panti Rapih Jogja, Reuni dan Serangan Jantung karena Mantan
Merenda Istimewanya Jogja
Bersama suami, sesama alumni AKPER Panti Rapih, setiap hari kami 'reuni' (dok. pribadi)

Kisah Cinta Perawat Panti Rapih Jogja, Reuni dan Serangan Jantung karena Mantan

Oleh: Katharina Indah Aryanti, Amd.Kep.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Bekerja adalah cita-citaku semenjak dahulu. Dipikir-dipikir, cita citaku banyak sebenarnya. Aku bahkan sempat sangat ingin menjadi penari dan mendaftar ke SMKI (Sekolah Menengah Kesenian Indonesia) tetapi tidak diperbolehkan bapak. Ingin jadi guru, itupun ditentang beliau.

Bapak sangat ingin anaknya menjadi dokter, perawat atau bidan. Untuk menjadi seorang dokter butuh waktu lama dan biaya besar, belum lagi saingan masuk universitas negeri sangat ketat. Kalau masuk universitas swasta, jurusan kedokteran itu mahal sekali. Di tahun 1995 saja, swasta mematok harga  10-20 juta atau sekarang setara 100-200 juta. Sebagai PNS guru dengan gaji minim, beliau merasa tidak sanggup menyekolahkan.

Begitulah kisahnya mengapa aku ‘terdampar’ di sekolah keperawatan. Masa studi hanya tiga tahun dan langsung bisa bekerja.

Menjadi perawat biasa tanpa embel-embel jabatan struktural tentu dituntut bekerja dengan jadwal shift. Tidak masalah bagiku, malah ada nikmatnya. Jika bekerja siang, aku bisa bangun agak siang. Jika bekerja pagi, sorenya aku bisa bepergian. Dan jika masuk malam, esoknya sepanjang siang aku punya waktu luang untuk tidur!

Sebenarnya aku mau bercerita tentang reuni, bukan tentang pekerjaanku. Akan tetapi, sudah naluriah selalu ingin bercerita mengenai pekerjaanku saking bangganya diriku bisa menjalaninya. Bekerja sebagai korps medis itu keren, menuntut dedikasi dan cinta pada profesi sekalipun dulunya bukan pilihan pertama.

Merenda Istimewanya Jogja
RS Panti Rapih Jogja yang asri, sejuk dan bersih (Istimewa)

Selain itu, tidak mungkin aku membahas reuni tanpa membeber pekerjaanku di RS Panti Rapih dekat bundaran UGM Yogyakarta itu. Keduanya berhubungan erat seperti di bawah ini.

Setelah menjadi perawat, aku termasuk alumni dari empat lembaga pendidikan yang telah berjasa mengentaskanku dari kemiskinan, yaitu TK, SD, SMP, SMA dan Akper Panti Rapih Yogyakarta. Di setiap tempat ini, aku memiliki teman-teman yang kemudian disebut alumni, dan bila bertemu kembali disebut reuni.

Aku hobi ajang reuni? Sama sekali tidak. Aku suka berinteraksi dengan mereka lewat media namun untuk bertemu langsung sebenarnya enggan.

Sebagai pribadi, aku punya kecenderungan introvert, tentunya tanpa tidak menjadi supel dan ramah. Aku agak menutup diri dan penyendiri, maka ‘membenci’ reuni.

Reuni tentu banyak manfaatnya, namun bisa juga tidak bermanfaat jika sekedar bertemu atau pamer foto. Saat ada kesediha,  semua berbelasungkawa namun tak semua mendapat porsi yang sama. Ada lho grup reuni yg sama sekali tidak berduka cita dengan kejadian bom gereja Sura baya, namun membabi buta menyerukan prihatin untukk negara tetangga.

Reuni juga membebani jiwa. Saat ajak suami, misalnya, sebagian orang mesti mengatakan hal-hal yang menyinggung perasaan. Bayangkan saja, mereka berkomentar kalau suamimu awet muda, ganteng dan pujian lainnya. Dan kamu dipaksa merenungkan diri, “Apakah aku demikian tua dan jelek sehingga tak pantas mendapatkannya? Teganya mereka!

Ruth Sahanaya – Memori | Official Video (Aquarius Musikindo)

Reuni juga membutuhkan biaya, kadang cukup besar. Makan dan iuran wajib perlu dibayar. Tak masalah kalau lagi punya uang.  Bagaimana bila sedang pas-pasan, sementara tidak semua orang mau mengerti bahwa tidak semua orang itu kaya. Kadang malah disemprot dengan kata-kata, “Ah, kamu kog pelit! Iuran segitu saja tak mau, padahal akan ditraktir, kog memilih tidak datang?”

Dari semua itu, ada satu hal yang paling merisaukan karena menyangkut keselamatan jiwa. Reuni bikin nyawaku terancam!

Dokter sudah berpesan agar aku menjaga kendali perasaan. Jantungku tidak boleh berdetak berlebihan, atau berisiko serangan mendadak.

Bukan, bukan masalah uang atau suamiku yang awet muda. Reuni akan merusak suasana, menyerang perasaanku, tepat di saat jantungku berdenyut kencang saat bertemu seseorang. Orang itu bernama “mantan”. Aku bisa mati berdiri! Bukankah Ruth Sahanaya bilang bahwa reuni bak ‘memori kau membuka luka lama yang kuingin lupa’?

Alasan terakhir itulah yg membuatku tidak datang ke reuni. Alasan yg mana? Yang itu, bahwa aku adalah perawat, terikat kerja shift dan tak kenal kata libur. Betul, kedengarannya tidak nyambung karena sesungguhnya hanya tolnya Jokowi yang akan menyambungkan pulau-pulau menjadi satu Indonesia Raya.

Masih suasana lebaran, mohon aku dimaafkan.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi pengalaman atau pasang iklan, klik di sini ya

About Katharina Indah Aryanti, Amd.Kep

Katharina Indah Aryanti, Amd.Kep
Perawat RS Panti Rapih Yogyakarta - Penghobi Masak - Akademi Keperawatan Panti Rapih Yogyakarta

One comment

  1. Rasa manis, asem, dan asin ada di tulisanmu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean