Home / Headline / Alien Muslim dari Area-18: Spiderman Perancis di Pusaran Perdebatan Imigrasi Eropa
Merenda Istimewanya Jogja
Spiderman Area-18 Gassama diterima Presiden Macron di istana (Istimewa)

Alien Muslim dari Area-18: Spiderman Perancis di Pusaran Perdebatan Imigrasi Eropa

Oleh: Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Paris, Aquilajogja.com – Anak umur 4 tahun tergantung di pembatas balkon, sedangkan orang tuanya tidak di rumah. Tetangga apartemen sebelah tidak tahu yang harus dilakukan. Orang-orang yang berkumpul di bawah sudah bergidik menanti tragedi mengerikan.

Paris Sabtu malam 28 Mei itu dicengkram ketakutan, sebelum dari kerumunan menyeruak anak muda berkulit hitam, rambutnya agak menggimbal.

Dengan gesit dan ditopang ketahanan otot yang mengagumkan, orang tak dikenal tersebut memanjat balkon demi balkon, mengayunkan tubuhnya dengan ringannya bak laba-laba melewati 4 lantai. Penonton bersorak dan memberinya semangat, bertepuk tangan untuk keperkasaan dan keberanian luar biasa ini.

Bayi berumur 4 tahun itu berhasil diselematkan. Dan tuan penolongnya digelari publik ‘Spiderman Area-18’, merujuk pada wilayah tempat kejadian. Paris terbagi dalam 20 arrondissement atau kota.

Cerita laba-laba Perancis belum selesai, berbeda dengan Spiderman Hollywood yang padat dengan romantisme. Seperti Area-51 di gurun Nevada Amerika Serikat, lokasi yang diisukan tempat mendaratnya alien namun disembunyikan rapat-rapat oleh pemerintah, Area-18 juga meletuskan kontroversi.

Laba-laba hitamitu, yang kemudian diketahui bernama Mamoudou Gassama dan berumur 22 tahun, ternyata seorang imigran ilegal beragama Islam dari Mali, Afrika Barat.

Seperti para imigran lainnya, dia harus bertaruh nyawa melalui wilayah-wilayah berbahaya Burkina Faso, Nigeria dan  Libya sebelum menerabas Laut Mediterania yang berisiko maut menuju Italia. Setelah itu, ia berhasil memasuki Paris, Perancis, di bulan September tanpa dokumen-dokumen resmi.

Merenda Istimewanya Jogja
Bagi pemburu alien, Area-51 adalah situs pendaratan UFO yang disembunyikan pemerintah. Daerah terpencil ini adalah oase bagi pecinta alien (Istimewa)

Ini justru keberanian yang jauh lebih besar, menempuh ribuan risiko demi memperbaiki hidup di Eropa, namun secara hukum adalah salah. Dan karena ilegal, dia adalah “alien”, yang bukan dalam arti sekadar warga asing, namun orang yang tak diharapkan!

Di sisi lain, masyarakat memuji keberanian dan kemanusiaan yang sangat besar yang ia lakukan tanpa pamrih itu.

Hari minggunya, dia diundang ke Istana Élysée untuk bertemu Presiden Perancis Emmanuel Macron.

“Saya katakan padanya, sebagai pengakuan atas tindakan heroiknya, berkas-berkasnya akan diurus secepat mungkin,” kata Presiden dalam akun Facebook resminya. Beliau mengundangnya untuk menjadi warga negara Perancis, bahkan Dinas Pemadam Kebakaran Paris sangat ingin merekrutnya.

Peristiwa ini memicu kembali perdebatan tentang definisi pencari suaka, imigran dan pengungsi. Macron mengambil posisi tegas terhadap isu imigran meskipun ironisnya mengalahkan Marine Le Pen, pemimpin sayap kanan yang anti imigrasi, dalam pemilu presiden tahun lalu. Dalam pandangannya, kasus Gassama adalah pengecualian, bukan pelonggaran aturan.

Eropa telah lama menghadapi masalah gelombang pengungsian dari berbagai wilayah konflik di Timur Tengah dan Afrika.

Tahun 2016, kamp pengungsi migran dekat bagian utara Kota Calais musnah dilalap api, namun tidak menyurutkan ratusan pengungsi dari Afghanistan, Eritrea dan Ethiopia mengumpul ke situ dengan harapan bisa memasuki Inggris.  Di Paris, tenda-tenda darurat kaum migran di bawah jembatan dan di taman-taman seringkali dibongkar polisi namun bermunculan lagi.

Pemerintahan Macron menerima pencari suaka dengan alasan mereka dalam bahaya, bukan pengungsi biasa bertujuan ekonomi semata, sebuah kebijakan yang mendapat kritikan keras dari kelompok-kelompok HAM.

Gassama adalah alien ilegal dengan motif ekonomi, namun diberi kelonggaran lantaran heroismenya. Dia menjadi segelintir orang beruntung yang boleh menetap karena “talenta luar biasa”. Tahun 2017, hanya 5 orang yang seberuntung dia, lebih sedikit dari tahun 2016 yang membukukan 6 orang.

Bukan kali pertama bagi Paris melihat pahlawan dari Mali. Januari 2015, Lassana Bathily, migran Muslim Mali berumur 24 tahun, melakukan hal yang sangat berisiko demi kemanusiaan.

Waktu itu terjadi serangan teroris dalam peristiwa karikatur Charlie Hebdo. Seorang bersenjata menyerang supermarket halal dekat  Porte de Vincennes, Perancis Timur. Bathily menyembunyikan para pembeli di ruang pendingin. Untuk keberaniannya ini, dia dianugerahi kewarganegaraan Perancis dan sekarang bekerja di Balai Kota Paris.

Akan tetapi, isunya sekarang adalah, “Apakah harus menunggu seorang migran ilegal bertindak secara luar biasa menyelamatkan nyawa seseorang supaya dia diperlakukan lebih manusiawi?” demikian keluh Raphaël Glucksmann, pemimpin redaksi sebuah terbitan kiri di akun Facebook-nya.

Koran-koran Perancis pun didominasi berbagai perdebatan pakar hukum dan politisi tentang rancangan UU yang mendorong negara mempercepat pemulangan para imigran bermotif ekonomi.

Spiderman Area-18 menyiratkan sebuah masyarakat yang sedang bergulat mencari jawaban terbaik terhadap tantangan imigrasi baik di Perancis maupun Eropa secara umum.

Ingin bagi pengalaman, klik di sini ya

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean