Home / Headline / Logo Pariwisata Jogja: Menuju Keistimewaan atau Ketidakistimewaan?
Merenda Istimewanya Jogja
Logo Pariwisata Jogja Istimewa (Istimewa)

Logo Pariwisata Jogja: Menuju Keistimewaan atau Ketidakistimewaan?

Oleh: Yulius Pribadi, MIKom.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Logo adalah bagian dari identitas suatu kelompok atau kota, tak terkecuali Kota Jogjakarta.

Ada satu pertanyaan penting bagi setiap warga. Apakah Anda mengerti dan bisa merasakan makna logo kota Anda?

Logo dibuat untuk menunjukkan kekhasan suatu wilayah, khususnya logo pariwisata. Kekhasan itu disampaikan dengan tulisan mengenai nama suatu kota yang disertai dengan suatu slogan. Kita mengenal “Wonderful Indonesia”, “Beautiful Malang”, “Shining Batu” atau “Jogja Istimewa”.

Setiap frase di atas dimaksudkan untuk menunjukkan kekhasan wilayah tersebut.

Lebih dari itu, frase-frase itu berfungsi sebagai branding dari suatu daerah. Branding ini harus khas disesuaikan dengan situasi dan kemampuan suatu daerah.

Ketika menjadi juri dalam rebranding pariwisata kabupaten Purworejo tahun 2017 lalu, saya beserta seluruh juri berusaha mengevaluasi komposisi logo yang dilombakan itu dengan kekhasan yang dimiliki Purworejo. Kami hendak memastikan bahwa logo pariwisata yang disampaikan kepada khalayak tersebut merepresentasikan kekhasan dan nilai jual yang akan ditawarkan kepada wisatawan.

Logo pariwisata membicarakan kotanya. Publik seharusnya terbantu dengannya dan para pelancong dapat membayangkan akan mendapatkan apa jika mengunjungi wilayah tersebut.

Logo pariwisata Jogja Istimewa menciptakan peluang, dan di saat yang sama, sebuah amanah berat. Ia adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, pelaku wisata dan masyarakat luas.

Merenda Istimewanya Jogja
Kampung kuliner yang terkesan kurang teratur di tengah lahan pertanian karena adanya peluang pasar, yaitu mereka yang bekerja di Mall Hartono Jogja (Foto: Aquilajogja)

Ketika Jogja berani membranding dirinya “istimewa”, ia adalah sebuah tugas bersama untuk menepati janji.

Ketika Jogja berani membranding dirinya sebagai kota budaya, maka harus mampu menampilkan sisi pengelolaan dan penghormatan budaya setempat. Sarana dan pra-sarana juga harus mendukung untuk mencapi lokasi destinasi wisata budaya.

Pemerintah, pelaku wisata, serta masyarakat harus mampu meciptakan atmosfer wisata budaya secara berkesinambungan. Wisatawan pun akan merasa terpenuhi hasratnya dengan promosi yang ditawarkan melalui tampilan logo pariwisata tersebut.

Logo menanda suatu wilayah sekaligus memudahkan pengerahan sumber daya masyarakat untuk membangun wilayahnya. Ia mempersatukan warga Jogja, bukan justru mencipta konflik karena, misalnya, DIY begitu gemar mengeluarkan ijin pendirian hotel dan usaha tanpa mengindahkan kultur dan masyarakat lokal.

Apakah logo Kota Jogja telah membangunkan dan merenda istimewanya Jogja, dapat dilihat dari seberapa jauh kohesifitas kelompok dapat dibangun dengan lebih mudah dan terarah. Kita harus selalu ingat bahwa sebuah simbol yang efektif akan menyederhanakan dan memudahkan seluruh elemen masyarakat untuk menerjemahkan kekhasan wilayahnya.

Sudahkah demikian?

Setiap logo yang disepakati dapat menciptakan feeling connected, feeling supported, sehingga terciptalah saling percaya (trusting others). Apabila dapat diwujudkan, dimensi sosial dari Fujishin dalam bukunya Creating Effective Groups kiranya dapat diminimalisasikan.

Kota yang abai memerhatikan dimensi sosial akan sangat diwarnai oleh kompetisi, kekuatiran, dan tidak adanya saling percaya. Dan itu menuju ketidakistimewaan!

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi atau pasang iklan, klik di sini ya

About Yulius Pribadi, MIKom

Yulius Pribadi, MIKom
Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta - Universitas Gadjah Mada Yogyakarta - University of Hawaii Kapiolani Community College

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean