Home / Buku, Musik, dan Film / Pintar Bermain Musik Namun Sulit Berinovasi? Kuncinya: Jamming
Ilustrasi jamming

Pintar Bermain Musik Namun Sulit Berinovasi? Kuncinya: Jamming

Oleh: Himawan Cahya, S.Pd.

Surabaya, Aquilajogja.com – Seorang wali murid mendatangi saya. Dengan sedikit protes, dia mempertanyakan mengapa nilai pelajaran musik anaknya kurang bagus padahal sudah lama mengikuti les musik di lembaga kursus terkenal dan sering tampil di berbagai konser. Pertanyaan ini mencerminkan kecenderungan masyarakat yang mengukur hanya dari segi ‘bisa melakukan’, bukan ‘bisa menemukan’.

Saya jelaskan bahwa guru hanya menilai apa yang siswa kerjakan di kelas. Di samping itu, kurikulum musik International Baccalaureate (IB) sangat berorientasi pada proses. Pintar bermain biola tidak serta merta bagus nilai musiknya. Setidaknya dua kriteria sangat menentukan, yaitu thinking creatively dan responding (berpikir kreatif dan berdaya tanggap).

Memainkan komposisi “Air on the G string” karya Johann Sebastian Bach, baik dinamika atau tempo, sesuai tuntutan partitur, bukanlah indikator kreativitas. Keahlian mungkin iya, tapi bukan kreativitas. Musisi bukan tukang atau penerjemah. Dia adalah pelukis yang menafsirkan gagasan melalui media suara.

Banyak anak pandai memainkan musik, tetapi sedikit yang bisa menciptakan musik. Banyak sekolah musik formal yang hanya melatih siswa menjadi tukang musik, tanpa banyak memberi kesempatan kepada mereka untuk jamming (bermain musik secara spontan berkelanjutan), berimprovisasi, berkreasi, dan berkontribusi menghasilkan karya tertentu sebagai musical response atas fenomena tertentu di dalam dirinya, orang lain, maupun lingkungan sekitar.

Siswa saya tadi memang jago sekali bermain piano klasik, namun bakal tiba-tiba macet bila diminta melanjutkan melodi awal yang sudah saya tuliskan untuknya. Bukan karea dia bodoh, tetapi kurang dibiasakan oleh guru lesnya.

Creative thinking butuh pembiasaan. Dan jamming menjadi sarana sangat ampuh untuk merangsang, merawat, dan menyuburkan kreativitas anak. Setiap anak pada dasarnya potensial untuk kreatif. Lingkungan belajar yang kelirulah yang menyebabkan dia lulus sebagai tukang yang tidak bisa bekerja tanpa pesanan gagasan.

Kurikulum yang skill-based mencetak pemain-pemain musik handal. Kurikulum yang creativity-based menghasilkan pribadi-pribadi yang kreatif dalam menghadapi persoalan walaupun mungkin bukan sebagai musisi.

Pendidikan musik yang berbasis kreativitas menggiring siswa tidak hanya untuk menyaji ulang fixed box yang bernama partitur itu, melainkan juga, lebih-lebih, men-‘destruct’ the box, and reconstruct it (membedah ulang partitur dan membangun yang baru dengan racikan interpretasi, irama dan harmoni yang serba baru), tentu dengan tetap menghargai komposisi aslinya.

Pendidikan kreativitas mengajarkan skill bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana agar siswa ahli dalam berinovasi.

Musical jamming adalah pembelajaran kreativitas yang paling murah meriah dan alamiah. Anak-anak berkumpul untuk memainkan ide musik secara spontan dan demokratis, tanpa memikirkan benar-salah, atau mempertimbangkan level keahlian formal.

Ia ibarat perkumpulan balita dari berbagai umur yang saling berceloteh dengan bebas, berusaha mendiskusikan topik tertentu dalam keterbatasan kemampuan wicaranya. Merdeka, murni, egaliter, dan tentu saja, kreatif.

Dalam aktivitas jamming, orang tidak saling mengkritik, melainkan saling mengisi kekurangan, dan menikmati hasilnya. Mereka berusaha menciptakan ketakjuban, dan merayakannya bersama-sama. Ide-ide yang brilian dan di luar dugaan sering bermunculan begitu saja, seperti layaknya balita yang tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mengundang kelucuan bagi orang tuanya.

Gagasan dulu, kemampuan bicara menyusul kemudian. Menjadi musikal dulu, setelah itu baru berpikir soal memainkan alat musik dengan benar.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi, klik di sini ya

About Himawan Cahya, S.Pd.

Himawan Cahya, S.Pd.
Guru Musik Sekolah Ciputra, Surabaya - Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean