Home / Pariwisata dan Lingkungan Hidup / Part 2/2 – Lelaki Jogja Suka Menjahit, Minat dan Kesenangannya Membawa Berkah
https://aquilajogja.com/2018/03/18/part-1-2-lelaki-jogja-suka-menjahit-minat-dan-kesenangannya-membawa-berkah-1/
Tas GunaGoni di antara berbagai produk yang digelar di Pasar Komunitas Jogja (dok. pribadi)

Part 2/2 – Lelaki Jogja Suka Menjahit, Minat dan Kesenangannya Membawa Berkah

Oleh: Andreas Bimo Wijoseno, S.Pd.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Saat ini bagi siapa pun sepertinya mudah saja untuk memulai bisnis atau usaha, apalagi ditunjang teknologi internet. Kita bisa berjualan apa saja dan di mana saja. Bahkan bisa berbisnis tanpa modal besar, misalnya, menjadi reseller. Akun di media sosial bisa dijadikan toko untuk berdagang.

Namun reseller hanya mengandalkan produk yang beredar di internet, dan banyak sekali yang melakukannya. Kita menjual produk yang hampir sama, bahkan persis sama, dengan perbedaan harga yang tipis sekali. Saingan banyak dan ketat, tinggal masalah siapa yang paling kuat berkompetisi dan bertahan.

Yang aku mau katakan adalah bisnis membutuhkan pembeda atau keunikan sebagai nilai lebih dari produk yang kita tawarkan, di luar persaingan harga.

Saya ingin melanjutkan kisah GunaGoni Jogja, menjahit tas dari goni bekas sehingga pantas disebut GunaGoni.

Secara kasat mata, produk saya ini unik dan beda. Tetapi tas dari goni bekas siapa yang mau melirik? Gampang saja! Konsumennya pasti orang nyentrik dan unik. Tapi ada berapa orang yang nyentrik dan unik?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sangat penting dalam merenda bisnis dengan produk sendiri. Satu dua orang memang ada yang datang untuk dibuatkan tas goni. Pertanyaan berikutnya, kalau tas goni bekas ini jadi produk andalan saya, berapa banyak dan berapa lama saya bisa menjual tas goni bekas ini?

Merenda Istimewanya Jogja
Suasana Pasar Sasen (Istimewa)

Sampai sekarang pun, saya sebenarnya belum tahu jawabannya. Maka saya perlu mencoba melempar GunaGonni ke pasar riil.

Akan tetapi, saya belum berani dan belum punya modal untuk menyewa sebuah kios atau toko. Produknya saja masih sedikit. Membayangkan menjaga toko berjam-jam dan berhari-hari saja sudah gentar. Membayar pegawai toko belum ada dananya.

Sebagian orang akan mangkrak di titik ini. Pengalaman saya, momen kita merasa kurang berdaya adalah peluang asal kita mengubah persepsi. Selalu ada peluang! Ada benarnya banyak kawan banyak rejeki.

Seorang kawan memberi info tentang pasar komunitas di Jogjakarta. Atau bisa dibilang sebuah acara kumpul berformat garage sale. Saya pun mencoba berjualan di sana. Saat itu belum laku sama sekali. Justru saya yang berbelanja dagangan pedagang lain.

Merugikah saya? Ternyata tidak sama sekali. Sejak saat itu, produk saya mulai dikenal. Dari sinilah muncul ide untuk membuat sendiri pasar komunitas juga.

Kenapa saya tertantang membuat pasar komunitas? Berjualan di pasar komunitas itu menyenangkan. Bisa saling mengenal antar pedagang dan pembeli karena memang berdasarkan jalinan pertemanan. Dalam suasana kekeluargaan, pasar komunitas menjadi wahana rekreasi sambil berdagang.

Saya dan beberapa teman membentuk Pasar Sasen. Pasar sebulan sekali di setiap hari Minggu pertama. Tas goni bekas saya selalu hadir mengisi pasar. Dan jalinan pertemanan inilah awal konsumen setia GunaGoni.

Lelaki Jogja menjahit, dan karenanya dia menggagas pasar komunitas yang mendatangkan pelanggan-pelanggan setia!

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Anda pelaku UKM, klik di sini ya

About Andreas Bimo Wijoseno, S.Pd.

Andreas Bimo Wijoseno, S.Pd.
Penjahit GunaGoni, Inisiator Pasar Sasen Jogja, Mantan Wartawan Intisari Jakarta - Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean