Home / Foto & Video Nusantara / Biarawati Katolik di Bukit Keling Flores: Mendengarkan Allah yang Memintalku Sejak di Kandungan
Merenda Istimewanya Jogja
Di bawah sebatang pohon, Nilo di Bukit Keling, suasana doa yang sangat khusuk (dok. pribadi)

Biarawati Katolik di Bukit Keling Flores: Mendengarkan Allah yang Memintalku Sejak di Kandungan

Oleh: Sr. Fierda Sinaga, S.H., SCMM

Nilo, Maumere, Flores, Aquilajogja.com
Kamu berada di mana?

Seorang filsut katanya pernah berkata bahwa hidup ibarat terpelanting ke dalam dunia, dan setelahnya menuju kematian. Di antara kelahiran dan kematian adalah pencarian makna, dan bila perlu, menciptakan makna-makna.  Meski tidak sepakat, menarik juga cara dia menguraikan pikirannya.

Hidup bagiku adalah menemukan panggilan Allah, sebuah dorongan otentik yang Allah sendiri telah pintalkan ke dalam jiwa-raga kala sejak dari kandungan bundaku. Hidup berarti berjalan ke dalam makna yang ada, sebuah jiwa yang terpanggil istimewa untuk bercengkrama dengan keilahian.

(Baca juga: Misionaris Perempuan dari Filipina dan Jerman Ini Mencari Apa di Flores?)

Biarawati adalah pilihan hidup yang kuambil dengan sadar. Aku harus menjalani tahun-tahun panjang digembleng mental, dilatih di jalan doa, diutus menjalani kuliah dan berbagai praktik kerja di sejumlah tempat, supaya kian meyakini siapa aku bagi Allah.

Dan tiba momen itu, keputusan mengucapkan kaul kekal, puncak dari tahun-tahun panjang persiapan sebelum janji membaktikan hidup sepenuhnya bagi kemuliaan Allah melalui kaul kemurnian (selibat), kemiskinan dan ketaatan.

Aku yakin telah menemukan mutiara kehidupanku yang Allah semaikan sejak kandungan ibuku ditiupkan Roh Surgawi yang adalah milikNya semata.

Merenda Istimewanya Jogja
Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo, Bukit Keling, Maumere (Istimewa)

Bersama dengan beberapa teman, aku angkat sauh menuju Pulau Flores, NTT, ke pusat biara Konggregasi SCMM.

Dua hari sebelum upacara kaul kekal tanggal 22 September, 2016,  kami diajak beberapa biarawati berkeliling berwisata indahnya alam Flores yang luar biasa cantiknya.

Hingga akhirnya, kami dibawa mendaki sebuah bukit bernama Keling, Maumere, ke tempat doa di puncaknya. Panas membara sepanjang jalan terbayar lunas begitu kami menginjak pelataran yang sangat damai dalam suasana doa yang khusuk.

(Baca juga: Nona Roe Mengaku dari Ende, Inferior Kolektif Masyarakat Flores?)

Orang-orang Flores menyebutnya Nilo, dan gelar Bunda Maria yang ditatahkan di sana adalah”Maria Bunda Segala Bangsa”. Banyak umat Katolik datang untuk berdoa karena mereka yakin banyak yang mendapatkan mukjizat khususnya orang sakit lewat perantaraan Maria.

Rasanya tidak ingin meninggalkan momen indah itu tanpa bukti visual bahwa pernah berlutut, seorang putri di hadapan Bapanya, dan mengajukan doa-doa serta menyentuh dengan tangan sendiri Bunda yang menjadi penolong bagi banyak orang.

Perasaan bangga dan terharu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, laksana mimpi di siang bolong. Ternyata aku sudah sampai juga ke bukit yang telah kudengar ceritanya ini!

Apa pandanganmu tentang istimewanya Jogja?

Meskipun belum pernah ke Jogjakarta (aku merencakan akan ke sana), aku sudah begitu banyak ‘mengetahui’ dari berbagai sumber termasuk teman-temanku.

Aku tahu ia adalah sebuah kota yang cantik alamnya, berlimpah kekayaaan budayanya, sarat sejarah dan dipenuhi kampus serta tempat belajar lainnya. Jogja menempati daftar utama dari tempat-tempat yang ingin kukunjungi bilamana ada kesempatan kelak.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin bagi kisahmu, klik di sini ya

About Sr. Fierda Sinaga, S.H., SCMM

Sr. Fierda Sinaga, S.H., SCMM
Biarawati & Pendidik - Universitas St. Thomas Medan **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapi klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean