Home / Terbaru / Alam Melucu di Gunungkidul, Jogjakarta, Petani Hanya Bisa Pasrah?
Merenda Istimewanya Jogja
Petani yang bekerja demi kehidupan banyak orang sayangnya kerap 'diajar'pasrah dengan dalih peristiwa alam (Ilustrasi/Aquilajogja)

Alam Melucu di Gunungkidul, Jogjakarta, Petani Hanya Bisa Pasrah?

Oleh: Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Gunungkidul, Jogjakarta, Aquilajogja.com  – Terkadang alam melucu seperti kejadian di Gunungkidul, Jogjakarta. Tahun ini, kemarau datang lebih awal sehingga terjadi kekeringan di sejumlah tempat. Dua tahun terakhir, musim hujan begitu panjang sehingga petani bisa memanen padi hingga 3 kali.

Gunungkidul yang secara geografis terletak di perbukitan atau pegunungan memiliki karakter pertanian dengan mengandalkan sistem tadah hujan. Dapat dikatakan pola tananam mayoritas petani di sana tergantung pada alam. Air hujan adalah sandaran mereka untuk dapat menggarap lahan pertaniannya.

Puluhan hektar sawah, terutama wilayah kecamatan Pathuk, Karang Mojo, Semin dan beberapa daerah di Nglipar, mengalami gagal panen. Batang padi yang baru berumur 2 bulan mulai mengering akibat kekurangan air. Tanaman padi yang seharusnya dipanen dengan buliran padinya, kini hanya bisa disabit batangnya untuk pakan ternak.

Akibat kekeringan ini, seluruh petani mengalami kerugian yang cukup besar. Setiap petani rata-rata mengeluarkan biaya jutaan rupiah untuk menggarap sawahnya.

Salah satu petani di Dusun Salaran, Kelurahan Ngoro-oro, Kecamatan Patuk, Pak Suwarno mengatakan bahwa beliau menghabiskan biaya sekitar 6 juta rupiah ng digunakan untuk sewa traktor, buruh tanam dan pupuk.

Kerugian serupa juga dialami seluruh petani di Kecamatan Pathuk. Bahkan sebagian orang, khususnya yang memiliki  lahan lebih besar, mengalami kerugian yang lebih besar dibandingkan Pak Suwarno karena seluruh lahannya ditanami padi.

Petani tidak tahu bagaimana mengatasi masalah ini. Mereka mengaku pasrah karena adalah peristiwa alam. Mereka menerima adanya kerugian besar tersebut. Lahan juga menganggur, tidak ada tanaman yang bisa tumbuh di musim kemarau.

(Baca juga: Mbok Darmi Memikul Berjuta Mimpi dan Harapan Kota Jogja)

Kini segalanya tergantung tahun depan, alam barangkali melucu lagi untuk mengkompensasi kerugian tahun ini. Petani berharap musim hujan datang lebih awal tahun depan, namun berlangsung lebih lama agar mereka dapat menanam lebih lama dan memanen lebih banyak.

Pasrah adalah kata kunci yang mereka tuturkan. Ataukah pemerintah lokal maupun Pemda DIY dapat melakukan sesuatu?

Alam akan tetap memainkan perannya, melucu atau mengganas, manusia tidak harus selalu berpasrah, bukan?

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkisah, klik di sini ya

About Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Sigit Budi Harsono, S.Kom.
Editor Aquilajogja.com - Penghobi Fotografi - Universitas Atma Jaya, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean