Home / Psikologi dan Pengembangan Diri / Masyarakat Gandrung Sertifikasi, Sejumlah Pihak Melakukan Sensasionalisasi Kepakaran
Merenda Istimewanya Jogja
Tes Rorschach mencoba menggali apa yang kiranya termuat dalam respon klien terhadap Inkblot seperti ini (Istimewa)

Masyarakat Gandrung Sertifikasi, Sejumlah Pihak Melakukan Sensasionalisasi Kepakaran

Oleh: Jeffrey Pratama, S.Psi.

Jakarta, Aquilajogja.com – Masyarakat Indonesia memiliki kegandrungan pada sertifikasi dan sensasi, khususnya terkait kompetensi. Adakah kaitannya dengan tradisi perdukunan yang kerap menawarkan jalan pintas dan penanganan kilat segala masalah?

Tulisan ini bukan hendak menjawab pertanyaan di atas, namun hendak mengkritisi kegandrungan pada kompetensi yang diiklankan, kontras dengan kompetensi yang berbasis keilmuan dan pengalaman terbuktikan.

Keprihatinan yang paling urgen adalah bahwa sejumlah pihak, sengaja atau tidak sengaja, mendapatkan keuntungan tidak kecil, yaitu dengan melakukan lintas bidang tanpa dasar keilmuan dan pengalaman yang memadai.

Barusan ini, saya mendapati Admin sebuah grup WA komunitas Sumber Daya Manusia (SDM) membagi  alat tes psikologi Rorschach disertai panduan atau cara menginterpretasinya.

Sebagai praktisi HR, saya paham kalau rekan-rekan seprofesi pasti memiliki semangat belajar tinggi, khususnya terkait dengan fungsi SDM seperti rekrutmen (yang kadang mengharuskan penguasaan dan pengaplikasian sejumlah alat tes).

Di sisi lain, saya berusaha untuk menghormati dan menghargai fungsi atau profesi seseorang, dan agak menyayangkan hal ini. Sejatinya peran untuk menjalankan, memberikan penilaian, dan evaluasi terhadap hasil tes psikologis haruslah seorang psikolog.

Aplikasi tes memerlukan studi formal, minimal tingkat master, tidak bisa sembarang orang mengaplikasikannya, bahkan tidak semua psikolog fasih menjalankannya.

Ambil contoh, Rorschach yang adalah tes interpretatif. Ini basisnya psikoanalisis, sebuah spesialisasi yang mensyaratkan studi, kerja laboratorium serta latihan dan praktik yang disupervisi secara ketat, mengingat subyektivitas dan keahlian yang dibutuhkan.

Tindakan membaginya tanpa diskresi adalah tidak bertanggung jawab, apalagi ini memperkuat perilaku masyarakat yang lebih termotivasi klaim-klaim sepihak sehingga menjadi kurang kritis dan berisiko mendapatkan kualitas jasa di bawah harga yang ia bayarkan.

Mungkin masyarakat kurang menyadari bahwa banyak yang mengaku terapis bahkan bersertifikat, namun sebenarnya hanya kursus atau workshop sehari atau beberapa hari, dan sama sekali tidak boleh memberi pelayanan klinis.

Yang sama parahnya adalah bahwa ada pihak-pihak yang menggunakan terma-terma psikologi tanpa memahami  filsafat ilmunya serta tidak tepat dalam menafsir kerangka teoritiknya. Sayangnya, mereka memasarkan diri dan organisasinya secara hiperbolik dan mengklaim “pakar”.

Merenda Istimewanya Jogja
Sigmud Freud adalah pendiri psikoanalisasis sekaligus bapak psikologi modern, pengaruhnya sangat luas hingga hari ini (Istimewa)

Psikologi mempelajari manusia dari berbagai sisi. Setiap pendekatan punya kerangka teori dan asumsi-asumsi sendiri. Mencampuradukkan tehnik, proses terapi dan penafsiran dengan dalih guna mengatasi masalah klien melanggar etika dan profesionalitas serta bisa berakibat fatal bagi keselamatan klien.

Pekerjaan SDM memang kadang bersinggungan dengan dunia psikologi (terutama untuk rekrutmen). Justru karena itulah praktisi SDM wajib menghargai batasan  dan fungsi profesi lainnya, sebagaimana setiap orang ingin dihargai profesi  professionalnya.

Banyak sekali momen di mana saya menemukan orang SDM  komplain karena pekerjaannya tidak dihargai, tidak diacuhkan, atau bahkan dihilangkan oleh pihak lain dengan berbagai alasan. Namun sebaliknya, ternyata sejumlah pihak dalam komunitas SDM juga kerap abai dengan profesi lain dan bertindak di luar kewenangannya.

Masyarakat luas yang gandrung dengan klaim kompetensi perlu diedukasi  tentang peruntukan alat tes. Ada alasan mengapa administrasi dan interpretasi alat tes hanya pantas dilakukan oleh orang-orang berlatar belakang psikologi.

Profesi psikologi dilengkapi berbagai kemampuan, pemahaman, dan teknik untuk melakukan hal-hal tersebut. Terlebih untuk Rorschach, alat tes ini sebenarnya tidak didesain untuk keperluan perekrutan industri, malah condong ke keperluan diagnostik klinis. Sangat tidak bertanggung jawab bila menyebarkan alat tersebut beserta interpretasinya kepada grup yang isinya bukan dari kalangan komunitas psikologi, untuk digunakan secara bebas.

Banyak teman psikologi mengaku kalau Rorschach itu bikin pusing. Bila mereka saja kesulitan dalam interpretasi, apalagi mereka yang tanpa keilmuan yang memadai!

Saya tadi menegur Admin dan melapor via email kepada Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) agar lebih awas terhadap fungsi kontrol sebagai asosiasi profesi.

Rupanya dianggap angin lalu karena beliau justru memosting dua alat tes lainnya, yakni Kraeppelin dan Pauli (beserta cara-cara membuat format via rumus-rumus excel), dan Wartegg. Laporan kepada HIMPSI ditanggapi dengan baik dan tampaknya akan ditindaklanjuti.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin menulis, 
klik di sini ya

About Jeffrey Pratama, S.Psi.

Jeffrey Pratama, S.Psi.
Learning & People Development Head di sebuah grup manufacturing, Jakarta - Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean