Home / Terbaru / Merapi Jogja Tak lagi Anggun, Selendang di Pinggulnya Berganti Kacak

Merapi Jogja Tak lagi Anggun, Selendang di Pinggulnya Berganti Kacak

Oleh: Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Kala diam dan tertidur, asap putih di pucuk Gunung Merapi tampak begitu anggun bak lenggok selendang petari keraton. Pemandangan ikonik Jogja yang membangkitkan romansa ini telah kita nikmati kurang lebih 8 tahun terakhir, paska erupsi hebat tahun 2010.

Belakangan tidak lagi kecuali kembali menyatakan diri -dalam keangkuhannya- sebagai vulkano paling aktif
sedunia.

Awal 11 mei 2018, Merapi mengalami letusan freatik dengan menghembuskan abu vulkanik setinggi kurang lebih 5000 kilometer ke angkasa, mengakibatkan terjadinya hujan abu di sekitar Sleman dan wilayah kota Jogjakarta.

Sesingkat itu, dan dinyatakan tenang kembali serta dianggap tidak membahayakan.

Tetapi bukan vulkano kalau harus berlangsung lama. Merapi kembali mengeluarkan letusan freatik hari Rabu (23/5) tepatnya pukul 03:31 dan 13:49. Letusan pertama berlangsung sekitar 4 menit, diamati dari pos pengamatan Gunung Merapi Jrakah dan Kaliurang dan menjulang hingga setinggi 2000 meter ke arah barat daya. Letusan freatik kedua hanya berlangsung dua menit.

Menurut penjelasan Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta DR. Agus Budi Santoso, ‘batuk-batuk’ vulkanik ini mengakibatkan hujan abu di wilayah Kabupaten Magelang sejauh 25 km hingga ke wilayah Candi Borobudur, bahkan sampai sebagian Purworejo.

Merenda Istimewanya Jogja
Romansa Merapi, kepulan asap putihnya bak selendang tetarian keraton (Istimewa)

Dalam konferensi pers (Jumat, 25/5), bertempat di Jl. Cendana 15 Jogja, kepala BPPTKG DR. Hanik Humaida menyatakan adanya temuan material baru dalam abu vulkanik Merapi. Hasil analisis menemukan material magma baru dalam abu vulkanik, bukan material lama seperti di permukaan.

Berdasarkan data di atas, Hanik menyimpulkan indikasi proses awal magma menuju permukaan. Akan tetapi, para ahli memerlukan sejumlah pengamatan lain seperti data tingkat deformasi, seismik dan pengamatan visual untuk memperkuat indikasi tersebut. Semenjak saat itulah  status Merapi ditingkatkan menjadi waspada.

Peningkatan kewaspadaan status merapi ini akan selalu diamati dan dilaporkan BPPTKG kepada masyarakat jikakau terjadi perubahan temuan data yang sifatnya menuju erupsi. Hal ini dilakukan agar masyarakat khususnya sekitar lereng Merapi selalu tetap siaga dan mengetahui perkembangan terkini.

(Baca juga: Spirit Jogja yang Tidak Bisa Dibuldozer: Kantin, Perlawanan Kethoprak dan Bonbin Reborn)

Apakah Gunung Merapi akan mengalami letusan hebat seperti tahun 2010? Menurut ahli kebencanaan geologi Surono, atau biasa dipanggil “mbah Rono”, kecil kemungkinannya karena adanya perubahan karakter.

Di tahun 2010, Merapi membangun kubah atau mahkota dan menyimpan energi besar yang termanifestasi sebagai letusan hebat ketika dikeluarkan.  Sebaliknya, dalam peristiwa yang diawali letusan freatik 11 Mei lalu, Merapi telah mengeluarkan energi namun tidak mengumpulkannya. Artinya, tidak terjadi gugusan kubah atau terbentuknya mahkota meskipun terjadi pergerakan magma menuju permukaan seperti hasil pengamatan BPPTKG.

Merapi hampir bisa dipastikan tidak bakal mengalami erupsi besar. Analisis tentang akan terulangnya letusan skala besar seperti 2010 adalah data yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, tegas mbah Rono.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi kisah, klik di sini ya

About Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Sigit Budi Harsono, S.Kom.
Editor Aquilajogja.com - Penghobi Fotografi - Universitas Atma Jaya, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean