Home / Terbaru / Part 2/2 – Yuk Kembalikan Dunia Anak-Anak Indonesia lewat Budaya Kisah
Merenda Istimewanya Jogja
Fabel adalah salah satu cara berdongeng pada anak (Neuhauslabs)

Part 2/2 – Yuk Kembalikan Dunia Anak-Anak Indonesia lewat Budaya Kisah

Oleh: CB. Ismulyadi, M.Hum.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – “Ketika Anda berkisah kepada anak-anak, Anda akan merasakan hanya ada anak-anak di mata Anda, dan hanya ada Anda di mata anak-anak”. (Margaret R. MacDonald)

Anak adalah jagat imaginasi yang tidak mengenal batasan, membentang hingga ke sudut-sudut terjauh cakrawala. Saat matanya terfokus pada Anda, memasuki mata Anda dengan rasa ingin tahu, kekaguman dan simpati, Anda telah berhasil menenun sebuah relasi istimewa yang sangat mungkin membekas bahkan bisa menemukan wujudnya di kemudian hari.

Relasi spesial ini menimbulkan pertanyaan penting dalam Part 1 Apakah kisah bisa memengaruhi pilihan dan jalan hidup seseorang?

Kekuatan suatu kisah itu dasyat, demikian pengakuan Pastor Surip Stanislaus OFMCap ketika membagikan pengalamannya.

Semasa kanak-kanak, Surip kecil memiliki seorang sahabat, seorang pendongeng, yang ia panggil Mama Sinta. Dari beliau, ia mendengar kisah-kisah dramatis, seperti penciptaan dunia, Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, penyelamatan Nuh, panggilan Abraham, perjuangan Musa keluar dari Mesir.

Rangkaian kisah ternyata memutarbalikkan jalan hidupnya. Cerita-cerita Mama Sinta memesona dirinya sehingga Surip kecil selalu absen sholat. Ia yang awalnya akan berangkat ke masjid atau mushola, malah melepas peci dan sarungnya, menyimpang jalan untuk mendengarkan kisah berikutnya.

Pengalaman di masa kecil kuat membekas hingga sekarang. Beliau kini adalah pakar arkeologi biblikal, namun bila sedang menonton film tentang tokoh-tokoh Kitab Suci, Pastor Surip mengunyahnya dalam bingkai pengalaman dan kesan seturut kisah-kisah yang pernah didengarnya dahulu.

Malin Kundang adalah sebuah kisah yang memungkinkan anak membentuk nilai dirinya secara mandiri (Video: Dunia Anak)

Pengalaman Pastor Surip menunjukkan bahwa bercerita bisa berdampak besar karena kisah mentransfer ilmu dan nilai dengan lebih mudah dan cepat.

Merril Hermin dalam How to Plan a Program Moral Education, menyebutkan bahwa kisah berbicara jujur tentang posisi orang-orang. Bahkan si pendongeng secara tidak langsung menyampaikan diri dan pilihan-pilihan dan posisinya.

Kisah memungkinkan orang berbicara tanpa memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Setiap orang  berhak setuju maupun tidak setuju atau menempatkan dirinya di dalam kisah tersebut.

Sebagian orang mengira kisah adalah pengisi waktu atau pengantar tidur. Obrolan kita di atas menunjukkan bahwa kisah mampu merangsang dan mengembangkan daya imajinasi serta mengubah karakter anak. Ia bahkan merangsang dan menanamkan sifat bela rasa pada anak terutama ketika melihat dan menanggapi kesengsaraan, kesedihan, kesusahan orang lain.

Pernah seorang pengisah merasa sangat terharu dengan anak-anak yang mendengar dongengannya. Waktu itu, mereka mengajaknya menangkap kupu-kupu dan memintanya pergi bersama ke kebun binatang. Anak-anak berniat melepaskan kupu-kupu hasil tangkapannya di sana.

Ketika ia menanyakan hal itu, anak-anak menjawab, ”Supaya kupu-kupu itu bisa lebih bebas dan bertemu binatang lainnya.”

Pengalaman yang sangat sederhana namun sarat makna. Melalui imajinasi dan aksinya, anak-anak mengatakan bahwa binatang memiliki komunitas seperti halnya manusia.

“Manusia belajar merelakan banyak hal. Namun sampai akhir hayat, ia menyukai kisah,” tandas Eugen Roth, penulis lirik dan penyair Jerman.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi kisah, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About CB. Ismulyadi, M.Hum.

CB. Ismulyadi, M.Hum.
ASN Kementerian Agama Kota Yogyakarta - Writerpreneur, Hypnowriter, Editor Freelance - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean