Home / Bisnis dan Investasi / Masyarakat Bertikai Karena Kebanyakan Ngopi Milenial: Ramai dalam Keheningan
Merenda Istimewanya Jogja
Jokowi sering ngopi di berbagai tempat yang ia kunjungi sekaligus mempromosikan Ngopi Nusantara, sebuah tradisi yang berpijak pada egalitarian dan fraterniti (Istimewa)

Masyarakat Bertikai Karena Kebanyakan Ngopi Milenial: Ramai dalam Keheningan

Oleh: M. F. Hamka, S.Ag.

Tulungagung, Jawa Timur, Aquilajogja.com – “Ngopi” saat ini sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyakat umum khususnya anak remaja. Bagaimana tidak? Saat ini, banyak warung kopi mahal maupun harga ‘kerakyatan’ sudah dilengkapi dengan fasilitasi wifi.

Tulisan ini berawal dari warung kopi langgananku yang selalu ramai pengunjungnya. Dan setiap kali meninggalkannya, satu pertanyaan membayang di pikiranku. Mereka yang singgah dan duduk nyaman di sana itu, mengapa justru terdiam menghadap meja dengan secangkir kopi di atasnya, tanpa komunikasi sedikitpun dengan temannya?

Terkadang terdengar percakapan yang menggelitik telinga atau lantunan sapaan yang aneh dari teman yang datang menghampirinya. Sebatas itu, sesudahnya hening lagi.

Ketika bertemu dengan teman di warung kopi dahulu, yang aku tanyakan adalah kabar atau bagaimana keadaannya. Setelah itu barulah NGOPI (Ngobrol Pintar) seperti persoalan tugas sekolah, isu terkini, berita terhangat atau bahkan ngobrol soal rencana bisnis.

Bahasa yang dipakai juga menyesuaikan tempatnya di warung kopi, maka obrolan kami bingkai ke dalam bahasa yang santai dan kocak. Sekarang ini, tradisi sapaan dan ngobrol pintar seperti itu tampaknya beralih menjadi sapaan tentang password wifi! Sesudahnya, duduk manis dan berdiam seperti orang bertapa.

Merenda Istimewanya Jogja
Soekarno terkenal pandai bergaul dan disukai banyak pemimpin dunia, dan sebagai pewaris Nusantara, menyukai diplomasi ngopi (Istimewa)

Sejenak aku bertanya pada diri sendiri. Ini warung kopi apa tempat semedi? Fenomena yang janggal sebab dunia maya dianggap dunia nyata, sedang dunia nyata tak dianggap.

Eksistensi ngopi bukan dari seberapa besar harga kopi yang dibayar, bukan dari seberapa banyak kopi yang sudah dihabiskan serta seberapa nikmat kopi yang dirasakan. Jaringan wifi menjadi acuan daya tarik masyarakat untuk berkunjung ke warung kopi.

Masyarakat zaman ini seolah hidup hanya karena informasi super cepat berlimpah dank arena dibekali teknologi super canggih. Aktivitas sehari-hari  ditentukan oleh koneksi internet, terlebih bila tersambung ke jaringan wifi yang bisa dikatakan gratisan. Aku pikir inilah sebabnya mengapa remaja berbondong-bondong ke warung kopi yang wifinya gratis.

Aku tidak menolak kemajuan. Akan hanya prihatin bahwa kegandrungan pada teknologi sedang mengikis budaya omong-omongan, dan menukarnya dengan budaya meneng-menengan atau diam-diaman karena terlalu sibuk dengan gawainya.

Warung kopi adalah warisan agung Nusantara yang jauh mendahului paham egaliter dan fraterniti ala Revolusi Perancis. Ngopi ‘meratakan’ status sosial sehingga tidak ada lagi posisi atas dan bawah serta mengatasi sekat-sekat SARA dalam pergaulan. Obrolan ngopi menimbulkan pikiran, gagasan atau ide sehingga ketegangan atau konflik sosial dalam berkeyakinan yang berbeda-beda berkurang bahkan menghilang.

Merenda Istimewanya Jogja
Suasana Tak Kie tempo dulu, warkop Jakarta legendaris sejak 1927 (Nuran Wibisono)

Ngopi karena wifi, karena gaya hidup semata, menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh,  namun sekadar huruf atau ikon di layar. Individu sibuk dengan dirinya sendiri tanpa melihat sekelilingnya. Orientasi ngopi sebagai agenda ngobrol asyik dan inspiratif berubah seketika menjadi tempat yang suram dan sepi.

Pepatah ‘dekat tak mengenal, jauh lebih terasa’ sangat tepat untuk menggambarkan fenomena seperti ini. Pada akhirnya, kurangnya komunikasi cerdas secara langsung dengan teman sekelilingnya mengakibatkan sering terjadinya kesalahpahaman yang berujung pada pertikaian.

Bukankah masyarakat Indonesia yang terkenal egaliter dan ramah ini semakin sering bertikai karena huruf-huruf, ikon, foto dan meme di layar HP?

Teknologi yang semakin canggih itu anugerah kehidupan dan tanda bahwa sebuah masyarakat tetap dinamis, bukan alasan untuk berhenti menjalin ikatan persaudaraan seperti dahulu. Tradisi ngopi di Nusantara harus kembali direnungkan, dicari ekspresi-ekspresinya dalam bisnis dan dijaga agar tidak menjadi kontra produktif.

Setiap kali aku meninggalkan warung kopi langgananku, aku merasa kuatir kalau ngopi akhirnya menjadi virus pembodohan yang memanjakan kita supaya malas berfikir. Dan pada saat itu, Nusantara bakal berkabung panjang.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Punya kisah tentang kopi, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About M. F. Hamka, S.Ag.

M. F. Hamka, S.Ag.
Penyuka Kopi - Pemikir - Institut Agama Islam Negeri Tulungagung, Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean