Home / Headline / Banalitas Kejahatan dan Terorisme Berkedok Agama
Merenda Istimewanya Jogja
Poster film tentang Hannah Arendt, 2012, sebuah film Jerman arahan Margarethe von Trotta (Istimewa)

Banalitas Kejahatan dan Terorisme Berkedok Agama

Oleh: DR. Muhammad A.S.  Hikam

Jakarta, Aquilajogja.com – Terorisme adalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Aksi teroristik ingin menciptakan ketakutan yang berujung pada rasa tak berdaya. Dalam situasi seperti ini, masyarakat cenderung menyangka terorisme identik dengan orang-orang yang tampak menyeramkan.

Faktanya tidak demikian!

Kesaksian Binawan Widyarto dalam acara ILC (15/05/2018), seorang tetangga Dita Upriyanto, kepala keluarga dan pelaku peledakan tiga Gereja di Surabaya, justru mengajarkan kita hal sebaliknya. Dita dan keluarganya tak berbeda dari warga kampung lainnya. Mereka bertegur sapa, hidup dari bisnis yang menguntungkan banyak orang serta tidak menunjukkan gelagat kejahatan apapun.

Dalam dunia akademik, kita mengenal istilah “Banalitas Kejahatan” (the Banality of Evil). Banal berarti biasa, kurang elok, telah terjadi atau dikatakan sebelumnya, lemah atau dangkal.

Orang yang menemukan banalitas kejahatan adalah filsuf perempuan Hannah Arendt.

Awalnya, dia meneliti Adolf Eichmann yang dijuluki sang penjagal, seorang petugas kamp konsentrasi Nazi yang memfasilitasi genosida warga Yahudi pada era PD II. Betapa terkejutnya ia bahwa Eichmann melakukannya tanpa merasa berniat jahat. Ia sekadar menunaikan tugas dan demi kariernya.

Arendt mengajukan kesimpulan yang menjadi perdebatan hingga hari ini: seseorang bisa melakukan kejahatan tanpa menjadi jahat! Ketika orang menganggap Eichmann monster, dia sebaliknya menganggap dirinya hanya satu dari orang kebanyakan yang bergabung dengan NAZI dalam rangka mencari jati diri, bukan pertama-tama karena percaya secara ideologis.

Merenda Istimewanya Jogja
Bom di Gereja Pantekosta Surabaya (13/5/2018) ini dilakukan mereka yang tampaknya biasa namun sesungguhnya penganut ideologi totaliter yang bertindak kejam (Istimewa)

Kesaksian Binawan Widyarto dia atas mengungkapkan hal serupa. Dita dan isterinya beserta 4 orang anaknya yang secara brutal menewaskan 18 orang serta puluhan korban luka-luka itu dikenal sebagai warga biasa. Dan sebagai kepala keluarga, Dita dianggap bertanggung jawab, baik dan taat beribadah.

Bahkan bagi orang-orang yang cukup mengenal mereka sehari-hari!

Di sisi lain, banalitas kejahatan yang dilakukan Dita maupun Eichmann dilandasi oleh ideologi totaliterisme, walau sumbernya berbeda. Yang satu dari Fasisme Nazi, yang lainnya dari kelompok ISIS. Bagi pendukung totaliterisme, membunuh bukanlah suatu hal yang salah melainkan tugas mulia dan dalam bahasa agama, dianggap berpahala.

Kita sekarang paham mengapa yang bagi kita adalah kejahatan terhadap kemanusiaan, bagi teroris adalah perbuatan mulia, yaitu sesuatu yang banal atau lumrah. Kita juga paham hasutan mengerikan di dalam istilah ‘amaliyah’, yaitu terorisme adalah laku kebaikan yang diganjar pahala. Ini menjelaskan mengapa radikalisme dan terorisme bertopeng agama lebih sulit ditumpas ketimbang ideologi totaliter seperti Nazisme Hitler.

Banalisasi kejahatan pada terorisme abad 21 dibungkus dengan legitimasi “kesucian” dan “pahala.” Agama diperkosa, dibajak, dan  diplintir agar sesuai dengan tujuan jahat mereka yang di balik terorisme.

Propaganda “jihad demi syahid” bisa sangat memesona, mencengkram akal sehat, dan akhirnya membuat orang biasa tidak ragu bertindak kejam demi iman atau perintah agama. Maka ideologi totaliterisme, entah ala Eichmann maupun Dita, harus dijawab dengan ketegasan dan keberanian menolaknya TANPA kompromi!

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi pengalaman, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About DR. Muhammad A.S. Hikam

DR. Muhammad A.S. Hikam
Menteri Negara Riset dan Teknologi pada Kabinet Persatuan Nasional - Pemikir & Penulis - Senior Lecturer di President University - Senior Advisor di Kiyoran Partners - Universitas Gadjah Mada Yogyakarta - Universitas Hawaii, USA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean