Home / Buku, Musik, dan Film / Bagi TK-A Santa Maria 3 Malang, Buku Tidak Menakutkan Meski Ada Setannya
Merenda Istimewanya Jogja
Para orang tua murid di TK-A Santa Maria 3, Malang, berpartisipasi aktif dalam gerakan Genas Baku (dok. pribadi)

Bagi TK-A Santa Maria 3 Malang, Buku Tidak Menakutkan Meski Ada Setannya

Oleh: Apriliana Kuntorowati, S.S.

Malang, Aquilajogja.com – Aku pernah baca kalau percakapan di Whatsapp mencapai milyaran setiap harinya. Dan Indonesia ‘menyumbang’ percakapan hingga setengah milyar per hari!

Dalam hatiku timbul pertanyaan apakah Indonesia adalah negara doyan ngobrol, sukanya gaduh atau semata super aktif berkomunikasi? Kupikir alat ukurnya adalah tingkat literasi.

Tanggal 5 Mei kemarin, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memulai Gernas Baku (Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku) dibawah koordinasi Ditjen PAUD dan Dikmas.

Gerakan ini menyasar orang tua anak usia PAUD dan TK. Tujuannya untuk membiasakan orang tua membacakan buku kepada anak-anak mereka, mempererat hubungan emosional anak dan orang tua, dan menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

Sosialisasi sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu, bahkan ada lagunya seperti di bawah ini:

Ayah bunda bacakan aku buku
Baca buku membuat aku tahu

Ayah bunda bacakan aku buku
Baca buku membuat aku pintar

Ayah bunda bacakan aku buku
Baca buku aku jadi berilmu

Ayo ayah bunda ikuti gernas baku
Gerakan nasional orang tua membacakan buku

Ayo ayah bunda ikuti gernas baku
Tanggal 5 Mei itu dimulai
Tanggal 5 Mei itu dimulai

Anakku masih kecil dan bersekolah di TK-A Santa Maria 3, Malang. Dan sebagai orang tua, aku resah membaca hasil survei -ukurannya membaca buku cetak- yang menguak rendahnya tingkat literasi di Indonesia.

Kalau menimbang fakta Whatsapp di atas, masyarakat kita sebenarnya suka membaca, meski masih berkisar media sosial. Artinya, ada potensi yang bisa dikonversi.

Timbul pertanyaan, apakah aku rela anakku ‘dibesarkan’ hanya dengan keranjingan game, acara-acara televisi yang tidak dipahaminya atau bahasa gaul yang diserap dari teman-teman sebayanya?

Aku sendiri termasuk orang yang gemar mengoleksi buku. Mengunjungi toko buku dan pameran buku adalah agenda yang tidak boleh dilewatkan. Akan tetapi, sebagian buku yang dibeli hanya terpajang manis, sekedar memenuhi rak buku dan akhirnya berdebu.

Sebelum jaman sosial media dan internet, aku betah membaca buku berlama-lama. Buku selalu ada di dalam tas dan akan kubaca sebagai pengisi waktu kala menunggu.

Aku juga betah di perpustakaan dan suka dengan aroma buku-buku lama.

Sekarang ada ponsel di genggaman. Mau baca apa saja sudah tersedia. Pinjam buku tinggal pasang aplikasi perpustakaan online. Tak perlu repot membawa buku cetak yang beratnya melebihi beratnya rindu.

Namun faktanya, tingkat literasi masyarakat Indonesia sudah mencapai level mencemaskan!

Aku tidak ingin anakku belajar bahasa dan berpikir dari media sosial, bukan dari buku-buku bagus. Maka meskipun sudah jarang membaca buku cetak, kami membiasakan diri membacakan buku kepada anak kami setiap hari. Biasanya kami lakukan saat dia mulai bosan bermain dan jelang tidur.

Di rumah kami tersedia rak buku-buku cerita anak. Itu juga cara bagus untuk membiasakan anak dengan bacaan.

Merenda Istimewanya Jogja

Kupikir bagi sebagian tetangga, kami dianggap aneh karena rumahnya hanya dihiasi buku. Mereka umumnya membelikan mainan dan jajan untuk anak-anak mereka.

Pernah ada anak tetangga, usianya sekitar 3,5 tahun, main ke rumah kami. Dia heran melihat banyak buku di rak. Dengan polos dia bertanya, “Tante, itu buku ya?”

“Iya, buku-buku cerita. Kamu mau Tante bacain?” jawabku.

“Gak mau, buku itu ada setannya.”

Aku shock, kaget dengan jawabannya. Dari mana bocah kecil ini tahu kalau buku ada setannya?

Membaca buku itu memang bisa jadi candu, apalagi novel atau komik yang seru. Kita bisa larut dalam bacaan sampai lupa melakukan hal yang lain. Membaca itu juga membuat kita jadi tahu, termasuk hal-hal yang mungkin dianggap tabu, seperti himbauan untuk tidak membaca buku-bukunya Pramoedya.

(Baca juga: Yuk Kembalikan Dunia Anak-Anak Indonesia Lewat Budaya Kisah)

Mungkin buku memang ada “setan”nya seperti yang dikatakan anak kecil tadi, tetapi “setan” yang mengasyikkan. Kita bisa mulai dengan lagu Gernas Baku: baca buku buat kita jadi tahu, baca buku buat kita jadi pintar, buat kita jadi berilmu.

Para orang tua murid di TK-A Santa Maria 3, Malang, berpartisipasi aktif dalam program Gernas Baku sebagai wujud cinta pada anak-anak terkasih.

Kita yang dewasa juga harus mulai baca buku lagi sebagai teladan bagi anak-anak kita. Dan sambil mengetik naskah ini, aku menunjuk pada diri sendiri yang sekarang mulai malas membaca buku cetak!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Suka membaca buku, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Apriliana Kuntorowati, S.S.

Apriliana Kuntorowati, S.S.
Pendidik, Malang - Mantan Pemain Kethoprak - Sastra Jepang Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean