Home / Mutiara Iman / Islam dan Katolik di Pulau Muna Bersatu Tidak Bercerai, Berpisah Tidak Punya Antara
Masyarakat desa Wale-ale baik yang Muslim maupun Katolik melaksanakan upacara “Kafonisiha Sangia” yaitu berdoa di makam-makam nenek moyang (dok. pribadi)

Islam dan Katolik di Pulau Muna Bersatu Tidak Bercerai, Berpisah Tidak Punya Antara

Oleh: Fransiskus Toari, S.Ag. & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Wale-ale, Muna, Sultra, Aquilajogja.com – Siapa kita seringkali ditentukan juga dari mana kita berasal. Setiap orang punya kampung, bahkan bila di akta kelahiranmu tertulis Jakarta, kamu berasal bukan dari Jakarta umumnya tetapi dari wilayah tertentu di Jakarta.

Setiap kampung punya kisah yang membentuk kesadaran dan nilai-nilai seseorang.

Aku orang Buton, dan kampungku Wale-ale yang merupakan salah satu kampung tertua di Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Secara administratif, kami merupakan bagian dari Kecamatan Tongkuno yang berbatasan dengan Kabupaten Buton.

Kampung Wale-ale terbagi atas daerah dataran rendah dan perbukitan yang didominasi bebatuan karang. Kehidupan ekonomi masyarakatnya sama seperti masyarakat Indonesia pada umumnya yakni berkebun dan berternak.

Aku orang dari kampung, seperti kata orang-orang padaku. Akan tetapi, wawasan dunia yang aku warisi dari kampungku tidak kampungan.

Ada hal menarik dari desa kecilku, yang dapat menjadi kegembiraan setiap orang yaitu keberagamannya yang tercermin dalam falsafah kehidupan adat istiadat “pofoghonu mina daseise dopogahati minanokogholota”, yang berarti ‘bersatu tidak bercerai, berpisah tidak punya antara’.

Falsafah agung di atas mengakar dalam fakta bahwa Wale-ale adalah persemaian dua keyakinan: agama Islam sebagai yang mayoritas dan agama Katolik.

Blair Palmer, peneliti Universitas Nasional Australia yang melakukan riset di Boneoge, sebuah desa di pinggir laut di Pulau Muna, khususnya di kalangan ‘perantau Buton yang balik kampung’ akibat konflik Ambon tahun 1999, mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bagi masyarakat Buton yang menggunakan lebih dari 14 bahasa daerah.

Dari naskah-naskah Buton, kita mengetahui munculnya Kerajaan Buton pada abad ke-14. Raja ke-6 masuk Islam pada abad ke-16, dan sejak saat itu, Islam berkembang pesat hingga hari ini.

(Baca juga: Prinsip Pro-eksistensi dalam Masyarakat Majemuk)

Agama Katolik, dalam tuturan lokal, bermula dari David Salmon Pella, perantau dari Pulau Rote, Flores, Nusa Tenggara Timur, seorang mandor para pekerja lokal dari perusahaan kayu Vejahoma di Muna. Tahun 1912, beliau mengundang Pastor P. J. Onel S. J. untuk membaptis puteranya, Salomon Pella, sekaligus orang pertama yang dibaptis di Pulau Muna.

Tanggal 15 Februari 1932, kepala adat dari Rumbia di daerah Moronene Sulawesi daratan bernama Simon Badaru dibaptis bersama 20 keluarga dari sukunya. Imigran dari suku Moronene ini tinggal di Lamanu, 15 kilometer dari pos baru di Lasehao, Muna Tengah. Beberapa kelompok dari bagian selatan Muna menyusul, yakni orang-orang dari Lolibu dan kampungku, Wale-Ale.

Bagi masyarakat yang sangat kompleks baik sejarah maupun kekerabatan sosialnya, bersikap toleran, terbuka dan kasih adalah kearifan terbaik. Hal ini terungkap jelas dalam penelitian Sabara Nuruddin (Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Makassar) di kalangan masyarakat Muna.

Setiap orang biasanya ditentukan dari kampung mana ia berasal, dan kisah dari kampung itu turut memengaruhi hidupnya. Pofoghonu mina daseise dopogahati minanokogholota atau ‘bersatu tidak bercerai, berpisah tidak punya antara’ telah membentuk pandanganku pada sesama.

(Baca juga: Islam Nusantara Mewujud dalam Tradisi Nyadran di Dusun Jogonalan, Jawa Tengah)

Empat hari sebelum datangnya bulan suci Ramadhan yaitu 26 sa’ban atau 26 malam bulan di langit, masyarakat desa adat Wale-ale baik yang Muslim maupun Katolik secara bersama-sama melaksanakan upacara adat “Kafonisiha Sangia” yang artinya ‘naik ke tempat peribadatan’ atau berdoa di makam-makam nenek moyang.

Ini ungkapan syukur kepada Allah akan rejeki, berkat dan perlindungan selama setahun dan memohon berkat dan perlindungan untuk tahun-tahun selanjutnya.

Aku ada di sana dan menyaksikan tua-tua kampung baik Islam maupun Katolik duduk berdampingan dalam sebuah tradisi yang telah menenun kerukunan kami selama ini. Dan aku merasa istimewa sebagai anak Kampung Wale-ale.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Kisah tradisi di kampungmu, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean