Home / Mutiara Iman / Islam Nusantara Mewujud dalam Tradisi Nyadran di Dusun Jogonalan, Jawa Tengah
Merenda Istimewanya Jogja
Gunungan Nyadran guna menyambut bulan Ramadhan di Dusun Jogonalan, Jawa Tengah, ini merupakan salah satu perwujudan Islam Nusantara (Aquilajogja)

Islam Nusantara Mewujud dalam Tradisi Nyadran di Dusun Jogonalan, Jawa Tengah

Oleh: Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Jogonalan, Jawa Tengah, Aquilajogja.com – Sebuah dusun yang indah sekitar 30 menit dari Jogjakarta, bagai negeri khayangan dipeluk sawah luas nan hijau membentang, di tengahnya terdapat kampung kecil bernama Jogonalan.

Aquilajogja.com sebenarnya hanya menyinggahi dusun permai yang terletak di Kecamatan Gantiwarno, Klaten, Jawa Tengah ini. Namun terbukti, sebuah persinggahan yang bermakna selaksa.

Di salah satu rumah penduduk, aku dapati kesibukan rancak. Sepertinya warga pedusunan sedang berkumpul dan menyiapkan pernak-pernik hasil panen. Buah-buah yang lazim terdapat di kampung begitu indah dalam pelangi warna. Mereka sedang merangkai semacam gunungan.

Merenda Istimewanya Jogja

Aku mendekati kerumunan itu dan masuk ke dalam sebuah pendopo yang berarsitektur Jawa kuno. Ibu-ibu tampak menyiapkan makanan yang ditaruh ke dalam wadah dari anyaman bambu yang disebut sego wiwit.

Apa yang mereka lakukan tampaknya melelahkan namun menyenangkan, terlihat dari cara canda dan tawa serta guyub rukunnya yang patut menjadi teladan kita bersama.

Merenda Istimewanya Jogja

Kucoba memasuki kesibukan mereka. Aku bertanya kepada seseorang di situ, acara apa gerangan yang akan berlangsung?

Sambil menatapku, beliau menjawab dan merasa senang atas pertanyaan dan kehadiran aku di desanya. Pak Dasuki namanya.

Ia mengajak aku duduk di sebuah kursi rotan yang sudah usang. Pemuka masyarakat desa Jogonalan itupun langsung memulai pembicaraannya, bahwa masyarakat di desanya sedang menyiapkan acara “nyadran”.

Merenda Istimewanya Jogja

Nyadran merupakan hajatan untuk menyambut datangnya setiap bulan Ramadhan. Acara ini selalu dinantikan masyarakat dengan perayaan pesta rakyat dan doa kepada para leluhur yang telah meninggal dunia. Boleh dibilang ritual ini merepresentasikan cara warga menghormati para leluhur yang telah berada dalam alam kelanggengan.

Tradisi ini jelas punya jejak historis yang jauh ke belakang, warisan agung nenek moyang dari jaman Hindu yang oleh Wali Songo dirangkul, diislamkan dan diamanatkan kepada kita semua sebagai pewaris Nusantara.

(Baca juga: Istimewanya Dakwah Islam Nusantara yang Ramah Budaya Lebih Cocok Bagi Generasi Milenial di Indonesia)

Akan ada sebuah prosesi ketika warga mengirab gunungan hasil bumi mengelilingi desa sebelum berhenti di sebuah masjid. Gunungan kemudian diletakkan di depan masjid dan dikelilingi seluruh warga desa yang berbondong-bondong mendekati gunungan dengan membawa pulang sego wiwit menggunakan anyaman bambu.

Merenda Istimewanya Jogja

Setiap orang bepakaian Muslim rapi dan bersila mengelilingi gunungan. Tak lama kemudian, pemuka takmir masjid mengajak warga untuk mengucap syukur atas karunia yang telah diberikan sang Pencipta kepada desanya. Di bagian akhir, beliau memimpin doa syukur dan mohon ampun atas dosa-dosa para leluhur dan mohon agar mereka ditempatkan di sisiNya.

Selesai pembacaan doa, gunungan yang megahpun ludes menjadi rebutan seluruh warga desa.

Kemeriahan dan kegembiraan inilah yang senantiasa dinantikan seluruh warga desa. Sebuah tradisi dan kebudayaan adiluhung yang senantisa terjaga dan menjadi etos bangsa yang berbudaya.

Aku teringat ibuku di rumah saat menyaksikan ibu-ibu yang dengan kelembutan cintanya menyiapkan segala sesuatunya. Mereka sangat berperan dalam menjaga tradisi nyadran, dan karenanya, Nusantara bagi semua.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Punya kisah tentang desamu, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Sigit Budi Harsono, S.Kom.
Editor Aquilajogja.com - Fotografer - Atma Jaya Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapis klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean