Home / Hukum dan Kriminalitas / Mantan TKW Hong Kong Menegur Overekspose Televisi Atas Aksi Terorisme
Merenda Istimewanya Jogja
Anakku suka kupu-kupu berkat tayangan televisi tentang flora dan fauna (dok. pribadi)

Mantan TKW Hong Kong Menegur Overekspose Televisi Atas Aksi Terorisme

Oleh: Gendis Zahra & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Kediri, Jawa Timur, Aquilajogja.com – Siapapun tidak boleh mentoleransi aksi terorisme. Orang-orang  yang selama ini bersikap seolah tidak terjadi apa-apa tidak bisa lagi berdalih ‘bersikap netral’. Kehancuran jiwa, benda dan luka batin yang ditimbulkan para pelaku teror sungguh membawa duka.

Aku seorang  ibu dengan satu anak, tak terbayangkan bila terjadi pada keluargaku. Empati dan cinta mendalam untuk para korban dan keluarganya.

Di sisi lain, ada hal lain yang juga menjadi keprihatinanku. Media khususnya berbagai stasiun televisi secara berlebihan menyajikan berita teror seolah tidak ada sisi lainnya dari peristiwa ini. Kengerian dan kekerasan disiarkan sampai puluhan kali selama berhari-hari sehingga yang situasiny terkesan begitu tak berdaya tiada kendali.

Aku orang dewasa saja merasa takut bahkan traumatik, apalagi anak-anak!

(Baca juga: Yuk Kembalikan Dunia Anak-Anak Indonesia lewat Budaya Kisah)

Mungkin ada yang akan menganjurkan supaya mematikan televisi sementara waktu. Persoalannya, televisi merupakan sumber hiburan utama untuk anak kami yang masih kecil.  Dan karena teror mendominasi siaran, dia sering terpapar. Aku terpaksa harus ‘bertengkar’ berebut remote control dengan dia.

Merenda Istimewanya Jogja
Anakku suka bermain dan saat menonton televisi, dia butuh lebih banyak siaran yang merangsang imajinasinya, bukan overdosis kekerasan (dok. pribadi)

Dalam skala yang lebih besar, aku ingin bertanya pada para pemilik televisi. Bagaimana keadaan bangsa ini bisa menjadi lebih baik jika sumber informasi saja tidak hendak mengajak kebaikan?

Sehari-hari, berita kriminal, gossip dan acara tak bermutu lainnya lebih memenuhi jam tayang daripada berita budaya, informasi pengetahuan, pendidikan dan teknologi yang membawa kepada kecerdasan berpikir.

Media tampaknya juga punya ‘dalih’ bahwa siaran mereka demi memenuhi kebutuhan informasi pemirsanya. Tetapi bukankah semua ada porsinya?

Aku pikir yang terjadi adalah media paham betul bahwa masyarakat condong mencari atau menyukai hal-hal yang kontroversial serta sensasional termasuk kekerasan, tak peduli efeknya bahwa kemampuan berpikir bisa menjadi stagnan tak berbobot.

Sebagai seorang ibu, aku juga ingin bertanya tentang hal lain. Bagaimana kondisi anak-anak bangsa Indonesia di masa datang jika tiap hari dicekoki yang demikian?

(Baca juga: Apa Bedanya Mengajar Bocah dan Mahasiswa? Mendidik dengan Hati)

Aduhai bikin geleng kepala, separah itukah kreativitas dari kreator-kreator program televisi?

Demam drama yang diangkat dari peristiwa kriminal yang telah benar-benar menjadi drama televisi tanpa arti kini telah menjamur karena mungkin ratingnya bagus, banyak peminat yang melototin acara tersebut, sehingga bermunculan program yang begitu-begitu juga.

Merenda Istimewanya Jogja
Panduan bagi guru dan orangtua dalam menjelaskan tragedi bom kepada para siswa

Stasiun televisi daerah dan juga tentunya TVRI, lebih cocok menjadi tontonan keluarga karena sering menayangkan tentang kebudayaan daerah, flora-fauna dan program-program  lain yang easy watching bagi anak-anak.

Seorang temanku memilih tidak punya pesawat televisi di rumah. Keputusan tersebut kurang pas untuk kondisi keluarga kami. Aku jadi kuatir kalau anakku bakal curi-curi nonton di rumah tetangga padahal sebagai ibunya, aku harus mengontrol konsumsi medianya.

(Baca juga: Autisme Membawa Berkah)

Perasaanku seperti es cincau campur tape, kacau!

Putar televisi karena ingin mencari informasi lebih lanjut tentang sebuah peristiwa namun hanya menimbulkan perasaan gelisah karena bisa dibilang semua stasiun menayangkan rekaman kejadian ratusan kali dengan reporter yang menjelaskan entah apa.

Mengapa media tidak memberikan jauh lebih banyak suara pada para korban, baik yang terampas jiwanya atau terluka, para polisi yang berjaga bahkan mengorbankan nyawanya, orang-orang yang gerejanya menjadi sasaran terorisme dan berbagai kupasan tentang bagaimana kita bisa menang terhadap kebrutalan para teroris?

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Punya pengalaman serupa, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Gendis Zahra

Gendis Zahra
Ibu seorang anak - Pebisnis UKM Kediri - Mantan TKW Hong Kong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean