Home / Headline / Apakah Teroris Pasti Tidak Beragama?
Merenda Istimewanya Jogja
Paska ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya (KOMPAS.com/Garry Andrew Lotulung)

Apakah Teroris Pasti Tidak Beragama?

Oleh: Dr. Abad Badruzaman & Rudy Ronald Sianturi. M.Hum.

Tulungagung, Jawa Timur, Aquilajogja.com – Rusuh Mako Brimob Jakarta dan aksi terorisme terhadap tiga gereja di Surabaya menimbulkan kembali pembicaraan lama namun selalu hangat terkait hubungan agama dan teror.

Yang mengejutkan adalah antara kubu yang mengutuk dan yang menganggap terorisme tak lebih dari pencitraan atau drama, bersepakat (dengan motivasi yang berbeda) bahwa teroris sesungguhnya tidak beragama, karena tak satu pun agama merestui atau mengajarkan teror.

Di bawah atap argumentasi inilah, kedua kubu sama sengitnya berreaksi, “Wahai para teroris, kenapa agama yang mulia penuh cinta kalian coreng dengan perbuatan biadab kalian?”

Cara nalar ini hanya menyisakan satu topik perdebatan, yaitu apakah terorisme yang telah menimbulkan korban jiwa, luka, cacat, trauma dan kerugian material luar biasa ini sebenarnya faktual atau buatan, kerap disertai tudingan mengerikan bahwa terorisme didesain untuk menghancurkan kemuliaan Islam (mengingat praktis pelaku teror belakangan ini mengaku atau mengklaim menjalankan ajaran Islam).

Merenda Istimewanya Jogja
Jokowi memantau langsung lokasi terorisme di Gereja Pantekosta, Surabaya (Sekretariat Presiden)

Akan tetapi, ada sesuatu yang ganjil. Ketika semuanya sepakat bahwa para teroris itu jahat dan tidak beragama, mengapa sebagian orang justru mendisasosiasi teroris dari agama (khususnya Islam) serambi sibuk membuktikan bahwa terorisme itu hoax? Mengapa bukannya memberi suara dan empati bagi para korban kejahatan yang keras dikutuknya tersebut?

Rupanya, kita belum tuntas dalam menjawab sejauh mana hubungan agama dan terorisme.

Terorisme dan Ideologi

Sebelum membicarakan teror dan teroris sebagai pelaku teror, kita harus melihat terorisme sebagai bagian integral dari sebuah ideologi.

Ideologi bisa diartikan seperangkat gagasan atau ide yang dipelajari, dipahami dan ditafsirkan sebagai sebuah kebenaran ekslusif, sifatnya mengikat dan bernilai pasti dalam menuntun seluruh dimensi kehidupan pengamalnya.

Ideologi bisa terbuka atau tertutup alias menolak dibantah, diverifikasi, difalsifikasi, direvisi, dilampaui, apalagi dicampakkan. Sekali dipeluk, harus terkubur bersamanya!

Sebuah ideologi biasanya bersumber pada sebuah sistem wacana sebagai justifikasinya seperti agama, pemikiran tertentu, pendekatan keilmuan tertentu atau sejarah.

Maka terorisme dalam sejarah sangat beragam, seperti  Klu Klux Klan (KKK) yang kembali menguat paska kemenangan Donald Trump. Atas klaim superioritas kulit putih, kelompok ini melancarkan rasisme disertai kekerasan teroristik dalam berbagai bentuknya.

Merenda Istimewanya Jogja
Gereja Katholik Kelahiran Santa Perawan Maria Surabaya (tidak termasuk yang dibom) dianggap gereja tertua dan masuk daftar Surabaya Heritage (Foto: Annyz)

Brigade Merah adalah bentuk lain terorisme yang mengalir dari Marxisme-Leninisme yang dipraktikkan secara ekstrim. Apakah diamalkan di dunia Islam, Kristen atau Hindu, ia tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama meski bisa diberi warna religius, bahkan sebagian pengamalnya total mencampakkan agama dalam hidupnya.

Contoh ketiga adalah kaum Afrikaner (keturunan pemukim-pemukim Belanda yang tiba di Afrika Selatan abad 17-18), terlebih di jaman Apartheid yang resmi berakhir tahun 1994 tersebut. Berbagai aksi teror mereka terhadap warga kulit hitam lebih didorong rasisme, yaitu segregasi ras sebagaimana dipraktikkan Inggris sebelum berkuasanya kelompok mereka.

Teror Tidak Beragama, Teroris Bisa Beragama

Perbincangan di atas menjelaskan bahwa teror memang tidak beragama. Tidak ada agama yang meridhoi teror.

Di sisi lain, bersikeras bahwa teroris pasti tidak beragama menjadi tidak mungkin sebelum kita memeriksa mengapa dan bagaimana seorang pelaku terorisme mendapat justifikasi, tuntunan dan kepastian dari tindakan teroristiknya. Ini berarti memeriksa ideologinya.

Setelah menguak ideologi yang melatarbelakangi teror yang bersangkutan, kita harus memeriksa dengan apa, mengapa dan bagaimana ideologi tersebut dijustifikasi? Ini berarti memeriksa sistem wacana utamanya.

(Baca juga: Intelektual Muslim Berjilbab Menelusuri Jejak Perselingkuhan Wahabisme dan Politik Saudi)

Maka secara nominal-formal saja, sangat sulit mengatakan bahwa para teroris tidak memiliki agama. Nyatanya, mereka teriak takbir saat meledakkan bom, juga berangkat dari pemahaman atas teks-teks agama yang mereka yakini merestui bahkan menyuruh melakukan tindakan teror.

Para teroris itu tidak berangkat dari ruang hampa; ada ruang makna dan pemahaman, paling tidak. Saat tangan terkepal, saat bom dililitkan di pinggang, saat senjata dikokang, di benak dan otak mereka berjejal pemahaman atas sejumlah teks yang memang ada dalam Quran.

Merenda Istimewanya Jogja
Kobaran api paska ledakan bom di depan GKI Jl. Diponegoro, Surabaya, Minggu (13/5/2018) (Istimewa/Tribunjatim)

Sebut saja teks-teks itu “ayat-ayat pedang” yang mengandung banyak istilah yang akrab dengan “kekerasan”, seperti perang, bunuh, serbu, habisi atau usir. Sasarannya orang atau kaum kafir.

Setiap ayat sebenarnya memiliki riwayat, setiap teks dikelilingi konteks. Ulumul Quran merekam riwayat dan konteks seputar ayat itu dalam ilmu makki-madani, sabab nuzul dan nasakh.

Para teroris sejak awal sudah bertindak gegabah; membaca Quran dengan tidak berbekal Ulumul Quran, atau berguru pada mereka yang tidak menyukai Ulumul Quran dengan dalih “kembali kepada al-Quran secara utuh dan murni.” Mereka membaca ayat-ayat itu secara telanjang, sebatas makna harfiyah. Dan mereka membacanya sebagai pengamal agama Islam.

Pada titik ini adalah soal kedewasaan dan kerendahatian sebagai Muslim, bukan terutama bersibuk membuktikan tipu tidaknya terorisme.

Yang pertama adalah otokritik masif bagaimana kita menjalankan keislaman. Yang kedua adalah evaluasi menyeluruh bagaimana supaya institusi, organisasi dan sistem pemikiran dalam Islam sanggup secara pasti mencegah ekstrimisasi Islam secara internal.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin bagi pengalamanmu, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Dr. Abad Badruzaman

Dr. Abad Badruzaman
Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, UIN Tulungagung - Universitas Al Azhar Kairo, Mesir - UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean