Home / Bisnis dan Investasi / Pulau Nunukan Mengajarkan Jakarta Bagaimana Melihat Sebuah Peristiwa
Merenda Istimewanya Jogja
Jokowi panjat pos menara tertinggi di Pulau Sebatik yang bersebelahan dengan Pulau Nunukan (merdeka.com/setkab.go.id)

Pulau Nunukan Mengajarkan Jakarta Bagaimana Melihat Sebuah Peristiwa

Oleh: Respatianto, S.S.

Nunukan, Kaltara, Aquilajogja.com – Wings Air sukses mendarat, seorang lelaki dalam perjalanan pulang menuju tempat tinggalnya yang kebetulan dekat bandara, apa istimewanya peristiwa ini? Mengapa dia spontan mengabadikannya?

Peristiwa ini terjadi kemarin (Rabu, 9/5/2018) di Bandara Nunukan, Kalimantan Utara, setelah pengerjaan landasan selesai. Awalnya hanya 1200 meter, landas pacu kini telah sejauh 1450 meter dari total rencana 1600 meter.

Jadi ini soalnya cara mata memandang sebuah fakta. Aku terbiasa hanya melihat pesawat tipe ATR42. Kemarin itu, mataku merekam pengalaman baru, pendaratan perdana Wings Air tipe ATR72 yang terbang  langsung dari Balikpapan.

Merenda Istimewanya Jogja
Pendaratan perdana Wings Air tipe ATR72 (dok. pribadi)

Bagi sebagian warga Jakarta dan kota-kota besar lainnya, khususnya yang suka meremehkan pembangunan infrastruktur pemerintahan Jokowi, mereka akan sulit merasakannya ketika hati bersorak menyadari kami yang hidup di pulau seluas 14.493 km² ini telah terangkat ke tingkat yang lebih tinggi.

Nunukan sempat menjadi perbincangan publik ketika Jokowi berkunjung ke sana dan khususnya, ke Pulau Sebatik, yang hanya sejauh sepelemparan batu dari Nunukan. Beliau memetik dawai nasionalisme ketika spontan panjat pos menara tertinggi di Sebatik. Sebuah kedaulatan harus diwujudkan!

Ibu kota kabupaten terletak di Kota Nunukan, sebuah pulau yang terpisah dari daratan Kalimantan dan langsung berbatasan dengan wilayah Sabah, Malaysia.

Merenda Istimewanya Jogja
Alun-alun Nunukan (dok. pribadi)

Terlahir sebagai kabupaten pada 4 Oktober 1999, Nunukan masih tercatat sebagai daerah dengan PAD yang cukup rendah, yakni sekitar 3% dari APBD. Sungguh ironi, sebagai ibukota kabupaten yang memiliki pelabuhan terbuka, Nunukan ternyata belum mampu memberikan pendapatan daerah yang memadai.

Infrastrukur wilayah ini masih terus berbenah, Semenjak September 2017, penerbangan ke dan dari Nunukan sempat terhenti, hingga Februari 2018 ketika Xpress Air dan Susi Air mulai membuka rute penerbangan lagi.

Salah satu daerah terpencil yang hanya mengandalkan transportasi udara adalah kecamatan Krayan. Tidak ada transportasi sungai maupun darat. Ketika penerbangan ke Krayan terhenti, warga yang menuju ke Nunukan harus menyeberang ke Malaysia terlebih dahulu sebelum menyeberang ke Nunukan lewat Tawau.

Yang lebih parah lagi, komoditi lokal di Krayan tidak bisa terangkut keluar karena terbatasnya transportasi. Untuk mengantisipasi terhentinya penerbangan, selain Susi Air dan penerbangan misionaris, pesawat milik TNI juga diperbantukan untuk mengangkut penumpang dan barang dari dan menuju Long Bawan-Krayan

Jalur darat, terutama di Kalimantan daratan sudah cukup bagus. Dalam tiga tahun terakhir, jalur Malinau-Sebuku sudah beraspal bagus dan ada bus Damri tiap harinya. Semenjak Malinau dibuka penerbangan langsung Balikpapan, warga Nunukan dari Kalimantan daratan lebih memilih ke Malinau daripada Tarakan, yang harus menggunakan speedboat untuk menyeberang.

Jalur laut relatif tidak ada masalah. Dari Nunukan ada pelabuhan speedboat lokal ke Tarakan, Tanjung Selor, Malinau, Sebuku, Sebatik atau Seimenggaris. Ada juga speedboat menuju Tawau, atau kapal Pelni tujuan Balikpapan dan bebarapa daerah di Sulawesi.

Merenda Istimewanya Jogja
Pelabuhan di Pulau Nunukan (dok. pribadi)

Namun demikian, harga barang-barang kebutuhan pokok sangat mahal di sini. Untuk ilustrasi, bila harga air mineral 1500 ml di Jawa masih kisaran Rp. 3500, di Balikpapan RP. 5500, maka harga Nunukan mencapai Rp. 7000.

Makanan dari Malaysia lebih murah dapat ditemukan di sini. Masih banyak lagi barang-barang dari Sabah yang masuk ke Nunukan yang dapat menjadi alternatif dari mahalnya harga barang dalam negeri.

Aku merekam pesawat Wings Air di bandara, sebuah pemandangan yang sangat biasa di perkotaan. Yang terekam -sebenarnya- adalah sebuah harapan.

Infrastruktur di daerah perbatasan adalah harapan meningkatnya roda perekonomian. Pemkab Nunukan sedang berjuang keras untuk meningkatkan perekonomian dengan menggenjot sektor transportasi dan infrastruktur pendukung.

Mata Jakarta dan kota-kota besarnya lainnya bisa belajar untuk melihatnya seperti mata kami di pulau-pulau terpencil ini.

*Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Anda di pulau terpencil, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Respatianto S.S.

Respatianto S.S.
Koresponden Aquilajogja.com wilayah Nunukan dan Kalimantan umumnya - Public Relations - Universitas Indonesia Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean