Home / Headline / Part 2/3 Indonesia akan Bubar 2030? Ketrampilan Mengolah Pengalaman Negatif
Merenda Istimewanya Jogja
Brimob di depan Mako Brimob usai kerusuhan. Setiap orang harus baik dalam mengelola paparan terhadap foto-foto yang mengandung kekerasan karena bisa berekses negatif (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Part 2/3 Indonesia akan Bubar 2030? Ketrampilan Mengolah Pengalaman Negatif

Oleh: Indro Suprobo, S.S., B.Th.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – ‘Saya tidak takut’ adalah ekspresi terpenting supaya berani menghadapi berbagai pengalaman negatif yang sifatnya kolektif dan traumatik.

Hari-hari ini, tiada hal yang paling menantang bangsa Indonesia kecuali kerusuhan di Mako Brimob Jakarta. Para napi teroris merebut sejumlah senjata polisi dan menawan beberapa polisi. Setidaknya, 6 jiwa melayang sia-sia.

Kita kembali ditantang bagaimana harus mengelola peristiwa yang oleh sebagian orang justru semakin mengentalkan kebencian – bukannya refleksi dan kasih. Akan tetapi, seperti pengalaman Rabbi Gold dalam Part 1, siapapun yang mengalami penderitaan karena ketidakadilan dan penindasan patut dibela.

Berangkat dari pengalaman negatif serupa, ulama Yahudi yang lain lagi, Rabbi Arik Ascherman, lewat organisasi Rabbis for Human Rights, berupaya menggali dan menyuarakan prinsip-prinsip dasar dalam tradisi religius Yahudi untuk menjamin pemenuhan dan perlindungan HAM bagi orang-orang Yahudi, Palestina, maupun para pekerja asing.

Ia secara kritis mengkaji berbagai tradisi religius Yahudi yang mengandung unsur diskriminasi, memahami konteksnya, dan menyusun pemahaman baru yang lebih kontekstual dan produktif bagi penghormatan HAM di seluruh dunia.

Merenda Istimewanya Jogja
Gambaran yang menimbulkan ingatan kolektif saat terjadinya krisis harusnya diperbanyak media (Istimewa)

Katanya, “Misi saya adalah melakukan apapun semampu saya, untuk mencegah atau menghentikan pelanggaran terhadap HAM di Israel, tanpa pandang bulu, terhadap orang Yahudi Israel, orang Arab warga negara Israel, orang-orang Palestina di wilayah Pendudukan, pekerja asing maupun para pengungsi dari Afrika”.

Pengalaman negatif masa lalu, terutama akibat ketidakadilan dan penindasan, memang tidak dapat diubah dan menjadi semacam “gegar otak” yang dapat memengaruhi seluruh cara berpikir dan berperilaku seseorang atau masyarakat pada masa berikutnya. Namun begitu, kita tetap dapat memilih apa yang dapat dipikirkan dan dilakukan sekarang dan di masa depan.

Kedua ulama Yahudi itu, memilih yang terbaik untuk masa kini dan masa depan, lalu mengerjakannya dalam konsistensi yang luar biasa.

Konsistensi menjauhkan kita dari sikap partisan saat terjadi ketidakadilan. Fokus kita bukan lagi pokoknya kelompok saya, namun membela kemanusiaan yang sifatnya wajib bagi siapapun.

Konsistensi adalah cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak yang tetap dan sama, berdasarkan nilai-nilai dasar yang sama, meskipun dalam situasi yang berbeda-beda, bahkan ketika harus berhadapan dengan kelompoknya sendiri.

Tak mengherankan, ketika para pemuda Palestina berdemonstrasi di sepanjang Tembok Pemisah wilayah perbatasan, dan sebagian ditangkap serta dipukuli polisi perbatasan, Rabbi Arik Ascherman segera berlari melindungi para demonstran. Akibatnya, ia sendiri ikut ditangkap, dipukuli dan diikat pada jeep bersama para pemuda Palestina.

Tindakannya di atas menimbulkan dampak luar biasa.

Dalam surat yang disampaikan kepada sebuah organisasi HAM, seorang demonstran menulis, “…dan kemudian seorang Yahudi bertubuh tinggi yang menggunakan kippah (penutup kepala tradisi Yahudi), datang menolong saya dan mengatakan agar saya tidak takut..”

Para teroris kembali melukai rajutan sosial bangsa ini, dan sebagian orang tampaknya sibuk  ‘membela’ para pelaku, entah bahwa kerusuhan Mako Brimob itu hoax, sekadar pengalihan isu, lantaran seorang Ahok yang diperlakukan secara istimewa, atau demi bela agama.

Sebenarnya mereka itu mengalami permusuhan karena berbagai pengalaman negatif –subyektif maupun obyektif. Sayangnya, mereka tidak trampil mengelolanya.

Mereka tidak tahu harus memulainya dengan berkata: Saya tidak takut!

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi pengalaman, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Indro Suprobo, S.S., B.Th.

Indro Suprobo, S.S., B.Th.
Penulis, Penerjemah dan Editor belasan buku seperti Anak-Anak Abraham serta Kebebasan dan Toleransi di Abad Konflik Agama - Teologi & Filsafat Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean