Home / Headline / Dies Natalis 2018 Universitas Negeri Yogyakarta Menggemakan Pekik Soekarno
Merenda Istimewanya Jogja
Kampus UNY yang tegak berwibawa dengan gerbang-gerbang cantik di berbagai titik (Istimewa)

Dies Natalis 2018 Universitas Negeri Yogyakarta Menggemakan Pekik Soekarno

Oleh: Rudy Ronald Sianturi, M.Hum. & Sulistiono

Jogjakarta, Aquilajogja.com – “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”, kata Soekarno.

Setiap kata dalam dua kalimat Bung Karno di atas selalu menggetarkan setiap kali aku mengatakannya pada diriku. Begitu pentingnya generasi muda sehingga bagi sang Proklamator, satu orang pemuda sebanding 100 orang tua!

Aku warga Purbalingga yang sedang kuliah di AMIKOM Purwokerto. Aku berada di Jogja, di sebuah universitas besar yang merupakan salah satu ikon Kota Jogja. Bersama sejumlah universitas lainnya, kami berpartisipasi dalam rangkain kegiatan Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Dies UNY punya satu acara yang merangkum gairah golongan muda yang disebut  OMUNY (Olimpiade Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta). Ia terdiri dari 6 bidang yang mewakili ciri khas 7 fakultas yang ada di UNY, yaitu olahraga, kesenian, penalaran, ekonomi, sosial, pendidikan, dan teknologi.

Merenda Istimewanya Jogja
Seorang peserta lomba debat OMUNY 2018 sedang beraksi

Aku mengingat kembali pekik Soekarno itu, dan kuterjemahkan dalam satu frasa: solusi berbasis teknologi.

Pemuda adalah dia yang mengaplikasikan ilmu dan pengetahuannya ke dalam persoalan-pesoalan sosial kemasyarakatan dan karenanya, dia membawa faedah. Setiap persoalan meminta solusi, dan solusi harus bisa diakses masyarakat luas.

Para sahabat BEM UNY sedang menerjemahkannya dalam lusinan lomba, pameran dan aktivitas yang berlangsung di sekelilingku ini. Dan mereka melakukannya dengan hebat!

Aku pikir, KSR-PMI Unit STMIK AMIKOM Purwokerto sungguh berada di kancah yang tepat, karena kami membawa sebuah solusi bernama EWF 1.0.

Merenda Istimewanya Jogja
Rangkaian EWF 1.0 yang siap dioperasikan

Orang kerap mengasosiasikan PMI dengan kegiatan donor dan bank darah. Sebenarnya, lingkup peran sosial kami jauh lebih luas. Dan apalagi di jaman teknologi yang telah membuat kehidupan menjadi jauh lebih mudah ini, masalah-masalah yang timbul ternyata tidak berkurang dan menuntut tanggung jawab sosial yang jauh lebih beragam.

EWF 1.0 (Early Warning Flood) adalah teknologi tepat guna sebagai alat pendeteksi banjir secara dini.

EWF ini muncul bermula dari pemikiran Sulistiono selaku komandan KSR-PMI Unit STMIK AMIKOM Purwokerto, yang merespon banyaknya banjir yang bermunculan di daerah Banyumas, khususnya di Kecamatan Sumpiuh.

Merenda Istimewanya Jogja
Berada di Kampus UNY adalah sebuah kehormatan

Banjir telah menghajar Sumpiuh beberapa kali dan belum ada sebuah teknologi di Banyumas yang dapat memberitahu warga mengenai adanya bahaya banjir. Seperti di banyak tempat, termasuk di Jogjakarta beberapa waktu lalu, masyarakat hanya bisa pasrah menatap air yang kian meninggi dan melahap sawah, ladang, rumah bahkan nyawa!

EWF 1.0 terbentuk pada bulan April 2018. Sulistiono didukung dan dibantu oleh lima rekan nya, diantaranya Widya Hani Fitriya, Ahamd Fauzi, Anang Aji Wibawa, Irfan Rifai Aziz dan Alif Nuraziz. Selain itu, pembuatan alat EWF ini juga tidak terlepas dari bimbingan Bapak Agus Pramono, Irsyad Prio Ambodo, dan dukungan dari berbagai pihak lainnya.

Merenda Istimewanya Jogja
Tiga level ketinggian air

Detektor banjir ini terhitung murah bila dibandingkan teknologi sejenis yang beredar di pasaran. Total biaya pembuatan tidak sampai Rp. 400.000. Selain itu, rangkaiannya sederhana sehingga bisa dibuat dengan cepat dan ditempatkan di berbagai titik rawan banjir.

EWF 1.0 bisa dimodifikasi sehingga terhubung ke gawai warga sehingga peringatan dini langsung diterima tiap orang. Ada tiga tanda peringatan sesuai ketinggian permukaan air: Siaga, Waspada dan Awas.

Aku sangat senang bisa mengambil bagian dalam solusi yang ditawarkan KSR PMI Unit STMIK AMIKOM Purwokerto. Apalagi ditawarkan dalam perhelatan akbar Dies Natalis UNY.

Merenda Istimewanya Jogja
Suasana lomba vokal OMUNY 2018

Aku tahu UNY adalah sebuah universitas besar, salah satu ikon kota Jogja dan termasyur ke seantero negeri. Berada di sini adalah sebuah kehormatan.

UNY sedang menggerakan segala sumber dayanya untuk bergerak menuju World Class University. Sebuah catatan indah dalam hidupku bahwa aku terlibat memberi warna tersendiri dengan EWF 1.0.

Ada satu hal yang kucatat diam-diam di hati. Mengguncang dunia ternyata juga berarti mampu memberi solusi dengan cara sederhana namun berdampak besar. Seperti tema OMUNY 2018, yang berbunyi Fighting is Priceless but Be Better with Dignity.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Kampusmu punya cerita, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Sulistiono

Sulistiono
Anggota KSR-PMI Unit STMIK AMIKOM Purwokerto - STMIK AMIKOM Purwokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean