Home / Headline / Politisasi Masjid Mengkhianati Islam Rahmatan Lil ’Alamin
Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal berdampingan, dan karenanya merupakan suara moral satu kepada lainnya (Istimewa)

Politisasi Masjid Mengkhianati Islam Rahmatan Lil ’Alamin

Oleh: Ardiyansyah, S.Ag.

Jakarta, Aquilajogja.com – Menjelang lengsernya orde baru, Gus Dur dilanda gelisah. Beliau menilai bahwa ketika menurunkan Soeharto, rakyat Indonesia belum mempunyai konsep mengenai reformasi-demokrasi. Mayoritas bangsa tidak memahami demokrasi dalam sistem di suatu negara.

Demokrasi adalah sistem terbaik bagi bangsa Indonesia yang beragam suku dan budaya. Meskipun Islam mayoritas di negeri ini, dengan adanya sistem demokrasi, suara minoritas pun diperhitungkan. Hal ini yang membuat rakyat lebih memilih jalan demokrasi, karena apapun suku dan agamanya, berhak dihitung suaranya.

Tetapi akhir-akhir, ketika isu agama menjadi tren menjelang pilkada, orang yang merasa tidak puas dengan pemerintah mulai memanfaatkannya. Hal yang paling mudah ialah mempolitisasi masjid.

Merenda Istimewanya Jogja
Masjid Sufi Mesir, November 2017, diserbu ekstrimis. 235 orang jemaat terbunuh (Istimewa)

Kita punya pengalaman Pilkada DKI ketika Ahok terpeleset menyebut Al-Maidah ayat 51, yang kemudian menjadi bumerang bagi dirinya. Banyak masjid menyuarakan bahwa haram memilih dirinya.

Jika ada yang memilih beliau, jenazahnya diancam tak akan disalatkan. Padahal, salat jenazah dalam fiqih ialah Fardhu Kifayah, yang berarti kewajiban kolektif. Jika suatu kampung tidak melaksanakan salat jenazah terhadap Muslim, maka kampung itu berdosa semua!

(Baca juga:  Part 1/2 – Cadar dan Kentalnya Ironi dalam Relasi Perempuan dan Laki-laki)

Djarot yang Muslim pun menjadi korban, beberapa kali dilarang salat di masjid hanya karena dirinya merupakan wakil Ahok.

Pilkada DKI merupakan suatu model demokrasi yang buruk sebab isu-isu SARA bertebaran di mana-mana. Ironisnya, yang memanfaatkannya justru dia yang sekarang gubernur DKI. Dulunya sangat mengkritik gerakan Islam radikal yang menggunakan isu agama saat pemilu, akhirnya dia tergoda menang pilkada berkat SARA.

Merenda Istimewanya Jogja
Perempuan Mesir menangisi umat Gereja Mar Amina, Alexandria, yang ditembaki Islam radikal (Istimewa)

Dalam sejarah, politisasi masjid dilakukan oleh Khawarij dan Bani Umayyah.

Kelompok Khawarij memisahkan diri dari barisan Khalifah Ali bin Abi Thalib, hanya dikarenakan Ali menerima arbitrase yang ditawarkan Muawiyah.

Di dalam masjid, Khawarij tidak habis-habisnya melaknat Khalifah Ali dan pendukungnya. Bahkan mereka berfatwa, membunuh Khalifah Ali merupakan ibadah. Hal ini yang membuat Abdurrahman bin Muljam termotivasi untuk membunuh Ali. Tepat sebelum adzan subuh, Ali menghembuskan nafasnya yang terakhir akibat tusukan dari Abdurrahman bin Muljam.

Begitu juga dengan Muawiyah beserta keturunannya. Sebelum khutbah Jumat, mereka melakukan pelaknatan kepada Ali, Hasan dan Husein karena keturunan Ali dianggap pemberontak dan penghalang untuk mencapai kekuasaan.

Barulah di era khalifah Umar bin Abdil Aziz, pelaknatan terhadap Ali dihilangkan dari mimbar masjid.

Merenda Istimewanya Jogja
Suasana ketika Anwar Sadat dibunuh para militan Islamis (Istimewa)

Mesir punya pengalaman sangat pahit. Ikhwanul Muslimin (IM) menggunakan masjid sebagai kegiatan politik. Anwar Sadat menjadi korban kebengisannya. Dalam parade militer 6 Oktober, 1981,  beliau bersama 11 orang lainnya diberondong tentaranya sendiri.

Bagi para pelaku, tindakan mereka heroik karena doktrin bahwa Sadat otomatis kafir setelah menerima perjanjian damai antara Israel dan Mesir (Camp David).

Politisasi mesjid juga menimpa Suriah. Ketika kelompok oposisi berhasil menguasai sebagian wilayah, mereka menggunakan masjid untuk melaknat Bashar Asad karena dianggap telah menyimpang.

Setiap hal di atas menggunakan metode Ikhwanul Muslimin di Timur Tengah yang berhasil menggulingkan pemerintah yang sah dan menimbulkan gerakan oposisi radikal. Metode ini sekarang digunakan secara masif oleh PKS yang memang berideologi Ikhwanul Muslimin.

(Baca juga: Intelektual Muslim Berjilbab Menelusuri Jejak Perselingkuhan Wahabisme dan Politik Saudi)

Sebelum terlambat, sebelum terkutuk dalam genangan darah konflik, mayoritas rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian harus mencegah adanya politisasi masjid. Indonesia terlalu indah dan berharga untuk dibiarkan terbelah-belah.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Anda akademisi/aktivis, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Ardiyansyah S.Ag.

Ardiyansyah S.Ag.
Kader Ansor Kab. Bekasi – Penulis ‘Islam itu Ramah, Bukan Marah' (Quanta, Elexmedia) dan ‘Islam Berdialog dengan Zaman (Quanta, Elexmedia) - UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

One comment

  1. “Bukankah ada tertulis: RumahKu akan disebut rumah doa bagi sekalian bangsa? Tetapi kamu telah menjadikannya sarang penyamun” (Injil Markus 11: 17).
    Agama apa pun berorientasi ‘ke atas’ kepada Sang Pencipta Yang Mahatinggi. Bila Masijd dijadikan oleh sebagian pengikut ke jalur politik, mereka bukan saja merusak kesucian rumah ibadat, tetapi secara tidak langsung menghina Allah. Ia akan bertindak kepada mereka entah cepat atau lambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean