Home / Headline / Membangkitkan Kembali sang Rektor dan Presiden Malioboro Jogjakarta
Merenda Istimewanya Jogja
Malioboro pada mulanya adalah kesenian, sebuah teks dan visual masyarakat yang penuh gairah

Membangkitkan Kembali sang Rektor dan Presiden Malioboro Jogjakarta

Oleh: Yudha Danujatmika. S.Kom.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Ada satu ruas jalan di Jogjakarta, barangkali satu-satunya di dunia, yang digawangi oleh seorang presiden dan rektor. Panjangnya tidak seberapa, namun melegenda bagi warga dan pelancong yang mengenalnya sebagai Malioboro.

Malioboro di tahun 70-an adalah kesenian.

Sebagian nama penting di Republik, seperti Ebiet. Ade atau Emha Ainun Nadjib, mengukir karirnya di pelataran dan bawah pohon-pohon. Jogja kala itu merupakan surga seniman, sebuah padepokan imajinasi yang belum tersentuh kapitalisme.

Umbu Landu Paranggi, penyair karismatik asal Sumba berdarah bangsawan, seorang pengelana di Jogja, bertindak sebagai rektor yang menggairahkan sastra. Linus Suryadi AG, sastrawan asli Jogja yang mewariskan prosa liris ‘Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Wanita Jawa’, adalah sang presiden.

(Baca juga: Spirit Jogja yang Tidak Bisa Dibuldozer: Kantin, Perlawanan Kethoprak dan Bonbin Reborn)

Malioboro sekarang seakan hanya objek wisata dan pusat perbelanjaan oleh-oleh. Ujung ke ujung adalah deretan toko atau pedagang kaki lima yang menjual pernak-pernik khas Jogjakarta. Sebuah pengkhianatan sejarah – sebenarnya!

Malioboro sebagai ruang sakral berkesenian harus dihidupkan kembali, demikian inti pikiran acara “Sketsa Imajiner Malioboro”.

Festival sketsa yang digelar di Titik Nol Yogyakarta itu digelar selama dua hari, yakni Sabtu hingga Minggu (28-29/4). Banyak seniman dan juru gambar berpartisipasi menyumbangkan cerita Malioboro dari sudut pandangnya. Karya visual yang muncul pun ada berbagai macam, mulai dari sketsa Gedung Agung hingga Pasar Beringharjo.

Sebelum mulai menggambar, para peserta lebih dulu mendapatkan koran “Kedaulatan Republik”. Tentu ini bukan surat kabar biasa, melainkan koran yang membangkitkan memori pada 2 Mei 1949.

Berita yang ditawarkan bukan lagi informasi terkini tentang Indonesia, tetapi justru memunculkan kembali ingatan akan suasana Malioboro setelah Serangan Umum 1 Maret.

Dengan tema utama Hari Pendidikan Nasional, surat kabar itu turut melahirkan kembali narasi Ki Hadjar Dewantara tentang Wiraga, Wirasa, Wirama.

Siapa sangka, ingatan klasik akan Malioboro itu menjadi pemicu inspirasi untuk para seniman.

Tiap peserta bebas menggunakan media apa saja dalam menggambar.

Mulyana Gustana dan beberapa peserta lainnya malah menggoreskan penanya pada surat kabar tersebut. Baginya, sketsa bukan sekadar konten visual, tetapi juga teks. Maka goresan penanya berkisah di atas surat kabar guna mengangkat sisi lain Ngayogyakarta.

Festival sketsa disambung dengan pameran pada Rabu (2/5) dan pemberian kenang-kenangan dari Forum Republik Imajiner Malioboro selaku penyelenggara. Tak cuma melakukan display karya, para seniman kembali menggoreskan tintanya untuk melanjutkan kisah-kisah mereka.

Senja rabu itu berpusat pada dengan orasi budaya tentang Hari Pendidikan Nasional. Macapat dari Wahono dan tari Likurai Malaka ikut menyemarakkan suasana.

(Baca juga: Seruan Doktor LIPI: Balikin Arkade Pengetahuan Kota Jogja!)

Malioboro tetap eksis, bahkan bila itu hanya di segelintir benar orang. Ruang kesenian itu masih ada dan harus dipertahankan di tengah gempuran konsumerisme yang menggila. Hendaknya ia tidak difosilkan sebagai lokasi selfie sebab naturnya dinamis. Bahkan bila itu berarti menyusun kembali pikiran sang Rektor dan Presiden Malioboro.

Seperti penggalan sajak Umbu Paranggi ‘sewaktu-waktu berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja’.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Anda ingin berkisah, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Yudha Danujatmika S.Kom.

Yudha Danujatmika S.Kom.
Wartawan Lepas - Komunikasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean