Home / Headline / Bukan Kalajengking, Kudanya Bripda Wiwiet yang Paling Mahal di Jogjakarta,
Merenda Istimewanya Jogja
Bripda Wiwiet dan G

Bukan Kalajengking, Kudanya Bripda Wiwiet yang Paling Mahal di Jogjakarta,

Oleh: Rudy Ronald Sianturi. M.Hum. & Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Sebuah pagi, sebuah lokasi, dalam rangkulan cuaca cerah. Angin belum berhembus kencang sebab mentari masih enggan menampakkan wajah ayunya.

Udara cukup menggigilkan badan, apalagi tempatnya di pinggir danau buatan kecil. Lokasinya tak jauh dari kota Jogja, hanya terpaut 3 kilometer. Warga sekitar mengatakannya embung, tepatnya Embung Tambak Boyo, Condong Catur, Sleman.

Dulunya adalah bantaran sungai yang tidak terawat dan sering menjadi tempat pembuangan sampah. Atas kepedulian pemerintah setempat, tempat ini kemudian disulap menjadi area publik dan dimanfaatkan untuk berolah raga dan rekreasi.

Ada satu yang paling banyak menyita perhatian, di tepian Embung, sebuah arena berkuda sekaligus fasilitas pemeliharaan kuda.

Sebuah pagi, sebuah arena berkuda, di tepian sebuah embung cantik. Di papan namanya tertulis “the Paragon Horse Riding Club” (PHRC).

Pengelolaan fasilitas arena berkuda PHRC langsung di bawah Unit Satwa Turangga POLDA DIY. Rupanya di sini tempatnya kuda-kuda polisi Jogja!

Merenda Istimewanya Jogja
Bripda Wiwiet mencongklak bersama G (dok. pribadi)

Belum lama ini, Unit Satwa Turangga mendatangkan seekor kuda gagah dari negeri Belanda dengan harga fantastis, hampir 1 (satu) milyar. Kuda jantan berjenis warm-blooded (darah hangat) ini diberi nama “G”.

My name is G, mengingatkan aku pada novel My Name Is Red, karya Orhan Pamuk sang sastrawan Turki yang memenangi nobel 2006 dalam bidang sastra. Sebuah novel luar biasa yang mengisahkan pada kita bagaimana seorang sastrawan dipengaruhi barisan sastrawan lainnya dan karenanya, menemukan gaya dan pola pikirnya yang khas.

Merenda Istimewanya Jogja
My Name is Red (Orhan Pamuk)

Setiap orang pada dasarnya hasil percampuran berbagai sosok dan sejarah.

G pun demikian, kalau tidak istilah worm-blooded akan membingungkan. Bukankah kuda adalah mamalia, dan setiap mamalia berdarah panas? Rupanya itu adalah istilah informal di kalangan perkudaan untuk membedakan kuda berdasarkan temperamennya.

Hot-blooded (berdarah panas) adalah tipe kuda yang cenderung agak agresif, kontras dengan cold-blooded (berdarah dingin) yang karakternya lebih kalem. Warm-blooded adalah hasil persilangan panas dan dingin, di area arsiran, tidak panas tidak dingin, tidak tanpa kendali.

G itu kalem sekaligus gesit, benar-benar pas dengan karakter Jogja!

G yang gagah tiap harinya mendapat perlakuan khusus dari Unit Satwa POLDA DIY. Pengasuhnya pun sangat spesial. Saban hari, ia selalu mendapat sentuhan dan belaian dari Bripda Wiwiet, polisi perempuan muda berjilbab.

Merenda Istimewanya Jogja

Sebagai fasilitas penunjang, G mendapatkan latihan-latihan pilihan seperti ketangkasan dan tentu saja, asupan makanan bergizi dan pemijatan khusus.

Sangat disayangkan, demikian kata Bripda Wiwiet, G sudah dikebiri sebelum dikirim ke Indonesia. Ia sudah tidak bisa melakukan regenerasi, karena memang didatangkan untuk tugas-tugas kepolisian.

Menatap G  yang berbadan besar dan tegap membawa ingatanku pada satu hal lain – War Horse.

War Horse (Kuda Perang) adalah film besutan Steven Spielberg. Dia menaruhnya dalam konteks PD-1, untuk mengisahkan Joey sang kuda thoroughbred (keturunan murni dan sering digunakan untuk pacuan), tipe hot-blooded setia yang berlari secepat kilat.

Merenda Istimewanya Jogja
Albert dan Joey (Istimewa)

Sebuah hubungan memikat antara Albert Narracott dan Joey -pengasuh dan tunggangan- dua saksi mata betapa absurdnya urusan membunuh dalam perang.

Mungkin suatu saat harus ada kerja sama antara Unit satwa Turonggo dan Kepolisian untuk dapat melakukan kerja sama dengan unit satwa dari negara lain yang memiliki ras kuda terbaik, supaya kuda-kuda asli Indonesia keturunannya seperti G.

Sebuah pagi, sebuah hubungan spesial, di tepian Embung Tambak Boyo, kulihat  Bripda Wiwiet dan G menyatu dalam irama congklak. Aku tahu bukan untuk memerangi, tugas mereka adalah memberi rasa aman dan nyaman.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Polisi hendak berbagi, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & Editor-in-chief Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean