Home / Headline / Intelektual Muslim Berjilbab Menelusuri Jejak Perselingkungan Wahabisme dan Politik Saudi
Merenda Istimewanya Jogja
Seren Taun, Upacara Adat Agama Sunda Wiwitan yang sudah ada jauh sebelum Islam dan Kristen tiba di Indonesia (Istimewa)

Intelektual Muslim Berjilbab Menelusuri Jejak Perselingkungan Wahabisme dan Politik Saudi

Oleh: Chaerunnisa Aminuddin, S.Ag., M.A.

Jakarta, Aquilajogja.com – “Gusti nu maha suci, pamugi nangtayungan sim abdi…”

Selalu kuingat doa nenek dalam bahasa Sunda di atas. Menyebut Allah dengan Gusti baginya bermakna sama. Doanya ini mengungkap mengapa Islam mengakar kuat di Nusantara, yaitu dengan keluwesan akulturasi budaya.

Seribu tahun lalu, kala peniaga Gujarat datang mengenalkan Islam, leluhur kita umumnya Hindu, Buddha dan beragam kepercayaan lokal lainnya. Islam diterima serta berkembang dengan mengakomodasi banyak tradisi. Tentu akan lain ceritanya jika ia keras dan tak selaras,

Ratusan tahun setelahnya, tercipta Islam dengan nuansa khas Melayu, Minang, Jawa, Bugi atau  Lombok. Nilai-nilai kearifan lokal serta aneka cita rasa seni budaya semerbak di sana. Tiba di kolonialisme, kaum Muslim bahu-membahu dengan berbagai elemen nasional lainnya mengusir penjajah.

Muslim Indonesia ternama sebagai santun, torelan, cinta negeri dan agen perdamaian.

(Baca juga: Prinsip Pro-eksistensi dalam Masyarakat Majemuk)

Namun aku teringat setahun lalu, seorang anak muda gelisah. Ia tak habis pikir mengapa sebagian umat Islam menunjukkan karakter arogan. Mudah merendahkan dan mengkafirkan yang beda keyakinan bahkan yang seiman!

Asalnya soal pandangan politik lokal, tapi isunya mengkristal pada cita-cita khilafah. Mereka membanggakan jargon jihad dan hijrah. “Saya tertarik belajar agama. Tetapi jika semakin mendalami namun kesolehan membuat saya seperti mereka, lebih baik tidak usah mempelajarinya,” keluhnya.

Sepertinya ia tidak sendiri. Banyak sekali yang semakin bertanya-tanya kemana gerangan Islam yang dahulu itu. Dari mana krisis logika dan nurani itu asalnya? Agama seakan kehilangan elan vitalnya tentang nasehat harmoni hidup antar manusia dan semesta.

Merenda Istimewanya Jogja
Cimande adalah contoh pencak silat Tatar Sunda. Asli Nusantara, silat populer di pesantren-pesantren (Istimewa)

Ternyata tak cuma di sini. Di bawah matahari yang sama, negeri-negeri lain juga mengalami hal serupa.  Keresahan itu telah mencapai kulminasinya. Agama berubah menjadi monster berlumur darah.

Apakah kita dapat menelusuri jejaknya?

Ketika manusia mencari jalan bahagia dengan caranya, timbul antara lain fenomena perselingkuhan.

Jika tentang asmara, risikonya antara dua insan. Sampai kapan menutup rahasia, keluarga taruhannya. Jika terbuka, yang sudah dibangun lama bisa hancur menyisakan luka. Itu urusanmu. Selesaikan saja di balik pintu.

Bila yang berselingkuh adalah ideologi dan kekuasaan, ini tragedi.

Ideologi dan kekuasaan punya wilayah pengaruh yang luas namun berbeda. Mereka bersatu, menyeret area kendalinya dalam ikatan nafsu. Tak peduli lagi konteks situasi. Aku yang paling benar, kalian sesat. Terima atau mati.

Didukung modal petrodolar, perselingkuhan berkobar dalam pertentangan. Banyak darah yang tumpah, dan peninggalan sejarah rata dengan tanah. Namun monster itu bertahan bahkan menguat pengaruhnya menembus batas-batas teritori negeri asalnya.

Tak soal biaya misi ini sangat mahal, pikiran manusia ternyata bisa dibeli. Ini kekuasaan, tak boleh berhenti. Dan bukan semata kekuatan domestik, di sana sejak semula bermain kepentingan sekutu global.

(Baca juga: Membaca Pikiran, Afala Taqiluun)

Ekstrimisme, fundamentalisme, bermunculan bak jamur di musim penghujan dalam wajah-wajah bersemu pasrah.

Menara WTC runtuh, 2998 jiwa melayang seketika. Dua ratus tahun lalu, saat Makkah dan Madinah direbut klan Saud, ribuan orang juga meregang nyawa. Tahun lalu, 235 orang yang sedang sembahyang di Mesir tewas, akibat ledakan dari ekstrimis anti sufisme. Di Afghanistan, kelompok militan Taliban mengurung kehidupan perempuan.

Merenda Istimewanya Jogja
Mesjid Agung Sumedang berdiri 1850, berkubah seperti pagoda khas Tiongkok karena para arsitekturnya adalah Cina Muslim (Bimas Islam)

Gerakan puritanisme -balik pada kemurnian- tidak bisa bertemu dengan realitas zaman. Apalah daya, lebih banyak manusia terima dan percaya bila itu atas nama iman. Nalar disimpan belakangan. Mereka diajak kembali pada situasi zaman perunggu 1500 tahun lalu – mana bisa?

Maka di sana-sini terasa serba rancu. Ilmu dan teknologi yang jadi perlambang capaian manusia dalam ketinggian ilmu pengetahuan, banyak ditolak, karena mindset yang mundur. Estetika dan seni budaya perlambang capaian cipta dan karsa manusia juga ditolak, dihancurkan dan dilarang berkembang dengan dalih tak bersesuaian dengan zaman Nabi.

Andai sang Nabi tahu, mungkin sudah ia lecut orang-orang yang menolak maju seperti itu.

Anda tentu tahu apa yang sedang kita obrolkan, bukan? Betul. Tak cuma di Indonesia, seluruh dunia sedang gundah oleh ulah kaku dan ekstrimnya gerakan Salafi Wahabi yang sejak awal sejarahnya berselingkuh dengan kekuasaan Saudi.

Umumnya orang menyangkal dirinya sebagai Wahabi, meski pemikirannya sudah terkontaminasi faham ini. Dari pikiran muncul sikap dan tindakan. Kita bisa melihatnya, meraba, merasa dan menerawangnya. Mana sikap yang wajar dan asli dari manusia beragama, mana yang terkena tipuan ambisi agama sebagai alat kekuasaan.

Di Indonesia, faham ini pertama masuk mengakibatkan perang Padri di Minangkabau tahun 1825. Dan perlahan, ajaran-ajarannya menyusup di mana-mana.

Wahabisme sangat berbeda dengan Islam Nusantara yang ideal serta tidak bersifat literal. Tidak serba bid’ah, serba haram, serba kafir dan munafik, tidak mengajak totalitas dengan jargon hijrah.

(Baca juga: Istimewanya Dakwah Islam Nusantara yang Ramah Budaya Lebih Cocok Bagi Generasi Milenial di Indonesia)

Belakangan konsep-konsep syariah bermunculan dalam praksis kehidupan. Ramai nian pakaian, resepsi, perbankan dan perniagaan syar’i, hingga puncaknya konsep hukum dan negara digugat juga.

Semangat puritanisme itu menyala dan menular. Tidak heran ada orang yang bangga minum kencing onta. Malangnya, pihak oposisi menggandeng kelompok ini dalam upaya menjatuhkan pemerintah dengan meniupkan angin surga dan penghalalan segala cara.

Selingkuh memang tak kenal logika. Yang waras jangan diam, demikian pesan mendalam dari Gus Mus untuk kita.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi pengalaman, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Chaerunnisa Aminuddin, S.Ag., M.A.

Chaerunnisa Aminuddin, S.Ag., M.A.
Pendidik dan Pengamat Sosial - Filsafat dan Teologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Sosiologi Flinders University of South Australia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean