Home / Headline / Aksi Vandalisme Kembali Melukai Kota Jogja Berhati Nyaman
Merenda Istimewanya Jogja
Pos polisi yang dibakar massa yang sebagian menutup wajahnya dengan kain hitam (Istimewa)

Aksi Vandalisme Kembali Melukai Kota Jogja Berhati Nyaman

Oleh: Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.*Sigit Budi Harsono, S.Kom 

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Bahkan di sebuah kota yang disebut istimewa seperti Jogjakarta, bisa terjadi hal-hal yang kontra nalar dan keistimewaan.

May Day 2018, tanggal sakral untuk menyuarakan keadilan dan perlawanan terhadap apa pun yang menindas hal-hak sipil dan kemanusiaan, dicemari sebuah peristiwa rusuh oleh sekelompok orang –sekitar 100- yang mengaku mahasiswa dan menyebut dirinya Gerakan 1 Mei.

Di pertigaan depan kampus UIN Sunan Kalijaga, Jogja, sekelompok orang tak dikenal melakukan aksi pengerusakan dengan membakar pos polisi sambil berteriak-terik ‘bakar’ dan  merayakan vandalisme atas fasilitas negara untuk publik seakan sebuah prestasi akademik.

Yang paling tidak menyenangkan adalah kelompok demo mengaitkan dirinya dengan isu NYAI (Bandara Jogjakarta yang sedang dibangun) untuk menjustifikasi hujatan dan ancaman terhadap Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Menurut saksi mata, sekelompok orang datang dan berkumpul secara tiba-tiba. Mereka kemudian masuk ke tengah jalan dan melakukan aksi membakar pos polisi dengan melempar bom molotov dan vandalisme dengan menuliskan nada persekusi terhadap Sri Sultan.

Aksi kelompok tidak bertanggung jawab ini mendapat reaksi dari masyarakat sekitar lokasi kejadian yang merasa gusar dengan para pendemo, bahkan warga sempat mendesak massa ke dalam area kampus UIN.

Berbagai kecaman keras datang dari berbagai kalangan masyarakat, bahwa aksi tersebut sungguh tidak mencerminkan budaya dan keistimewaan Jogjakarta yang berhati nyaman.

Kecaman senada juga dilakukan kelompok SEKBER Keistimewaan DIY yang langsung mendatangi kejadian peristiwa dan membersihkan sisa-sisa aksi sekaligus menutup tulisan bernada persekusi terhadap Sri Sultan.

“Ada lima titik aksi vandalisme yang bernada sama ditembok pagar UIN yang telah kami tutup. Kami juga telah menyobek dan menyimpan baleho yang bernada sama dan akan kami serahkan ke pihak berwajib sebagai bukti penyelidikan perkara,” tegas bung Hasto selaku ketua Sekber Keistimewaan DIY.

Terkait dengan kerusuhan tersebut, Sekber meminta aparat kepolisian menindak tegas para pelaku dan menyerukan kepada semua pihak untuk tidak membuat aksi-aksi provokatif yang mengoyak kerukunan dan situasi kondusif keistimewaan Jogja.

Apakah demo kemarin merupakan sebuah aksi politik jelang tahun politik? Bung Hasto menjelaskan bahwa dalam situasi politik yang kian memanas, semua bisa terjadi. Kelompok-kelompok tertentu dengan mudah dipolitisir, termasuk melakukan anarkisme. Namun masyarakat harus tetap besikap arif dalam menghadapi aksi-aksi apapun dalam konstelasi politik yang kian memanas.

Sejumlah pihak mempertanyakan keterkaitan aksi kemarin dengan Forum Libertarian Yogyakarta (FLY) yang baru berdiri bulan lalu. Pasalnya, kelompok yang menyebut dirinya Federasi Mahasiswa Libertarian Salatiga (FMLS) memberi dukungan terbuka terhadap aksi kemarin lewat Page-nya.

Aquilajogja.com menghubungi Koordinator FLY, Maman Suratman, untuk meminta klarifikasi. Beliau menegaskan tidak ada hubungan apapun dengan FMLS baik secara organisatoris maupun personal.

Saat ditanyakan makna ‘libertarian’ bagi FLY, beliau menjawab, “Organisasi kami berpijak pada prinsip kebebasan yang bertanggung jawab, perdamaian (non-agresi), dan toleransi atas kebinekaan Indonesia. Kami justru mempertanyakan konsep libertarian yang digunakan FMLS, yang bukan saja sangat tidak libertarian, tetapi justru mendekati filsafat anarkisme kiri yang antinegara”.

FLY merupakan jejaring kelompok libertarian di 19 provinsi, sebagian besar di Jawa. Kelompok ini berkaitan dengan Institut Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Indeks), sebuah LSM berbadan hukum dengan misi meningkatkan kualitas demokrasi dan kesejahteraan masyarakat berdasarkan nilai kebebasan, kesetaraan dan solidaritas.

Dihubungi terpisah, Nanang Sunandar selaku Ketua Indeks, mengatakan bahwa lembaganya melakukan kajian dan penelitian, workshop, pelatihan, asistensi kebijakan pemerintah, dan publikasi untuk mencapai misi tersebut. Sebagian anggota LSM yang berkedudukan di Jakarta ini, juga memberi jasa konsultasi di sejumlah kementerian dan lembaga pemerintah.

Berbagai ide, advokasi dan kajian Indeks disosialisasikan lewat kelompok-kelompok libertarian termasuk FLY.

Indeks tidak pernah sekalipun menyerukan aksi massa, tetapi memberdayakan publik lewat gerakan literasi atas isu-isu etika politik dan ekonomi melalui kegiatan-kegiatan diskusi di berbagai daerah. Dengan begitu, FLY tidak pernah mendukung aksi massa apalagi yang rusuh seperti kemarin.

Seperti pembuka di atas, kota seistimewa Jogjakarta pun bisa menyaksikan hal-hal di luar etika, tata krama dan karakter damai warganya. FLY merupakan salah satu sel dari inisiatif akar rumput yang hendak mendinamisir keistimewaan Jogja dan melawan vandalisme serta kekerasan.

*Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin bagi pengalaman, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Sigit Budi Harsono, S.Kom.
Editor Aquilajogja.com - Penghobi Fotografi - Universitas Atma Jaya, Yogyakarta

One comment

  1. Kota Jogja Berhati Nyaman bagi saya yang berasal dari luar Jawa mengakui itu karena telah tinggal di kota itu selama bertahun-tahun. Tindakan brutal sebagian orang pada May Day tidak mengurangi kekaguman saya pada orang Jogja, bahkan sebaliknya mempertanyakan para pelaku aksi itu. Hati kecilku mengatakan bahwa mereka bukan orang Jogja, melainkan sekelompok ‘preman’ yang ‘dikarbit’ untuk menjatuhkan pemerintah yang sah. Sultan dan pembangunan bandara dijadikan isu menjadi titik tolak menciptakan khaos dalam masyarakat. Untunglah sultan tidak terseret emosinya kepada permainan mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean