Home / Headline / Part 1/3 Balada Trail 1000 Kilometer, Wong Jogja Menjajal Nyali di Jalur Trans Papua
Merenda Istimewanya Jogja
Julius Korain menuang sageru dan memberinya padaku, seakan sedang mengangkatku sebagai putra Kocu (dok. pribadi)

Part 1/3 Balada Trail 1000 Kilometer, Wong Jogja Menjajal Nyali di Jalur Trans Papua

Oleh: Hermitianta Prasetya, S.Kom. & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.*

Manokwari, Papua, Aquilajogja.com – Selebrasi  sudah mendarah daging dalam DNA bangsa ini. Kebanyakan suku di Indonesia punya kebiasaan merayakan sebuah capaian atau awal perjuangan dengan sangat elaboratif.

Orang Batak akan margondang mengiringi tor-tor bahkan berpencak silat, orang Papua berpesta, menabuh tifa bagi tetarian riang dan  bakar batu untuk memanggang sagu sep (sagu dicampur daging dan beragam sayuran) yang sangat lezat itu.

Aku wong Jogja, lanang dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Manokwari, di sebuah negeri yang luasnya berkali-kali provisi asalku, sudah barang tentu ingin icip-icip selebrasi khas masyarakat lokal.

Aku punya alasan personal. Di depanku melambai jalur Trans Papua yang memanggil nyali untuk menjajal keindahan dan sensasi kelojan tajamnya. Aku akan menjajal jalur Kumurkek – Manokwari, antara Kota Sorong dan Kota Manokwari dengan melewati ibukota Kabupaten Maybrat, Kumurkek, sejauh 594,81.

Segelas sageru dituang untukku, dan kuanggap saja perayaan kecil menjelang petualanganku.

Julius Korain bertindak sebagai bandar, dituangnya sageru/saguer atau tiok dalam bahasa Suku Kocu, ke dalam gelas bambu. Ini cara beliau mengekspresikan cintanya pada wong Jogja ‘kesasar’ di negeri ini.

Merenda Istimewanya Jogja
Gelas bambu untuk meminum tiok (dok. pribadi)

Tiok terbuat dari sadapan enau yang dicampur bahan-bahan alami dari hutan. Setidaknya harus ada empat bahan utama untuk membuatnya, yaitu akar/tali pahit (tiek) dan beberapa macam dedaunan serta kayu.

Tiok selalu ada dalam setiap perayaan adat atau acara tradisi Suku Kocu di Kampung Kocuas, Distrik Aifat Barat, Kabupaten Maybrat. Ia bisa memabukkan jika diminum dalam jumlah banyak. Orang Kocu sering mengkonsumsinya usai bekerja keras, katanya supaya sehabis lelah, malamnya bisa tidur enak.

Seperti yang dilakukan oleh Julius Korain bersama Apolos Kocu dan Ciprianus Kocu. Jumat sore itu (16/3), mereka beristirahat setelah seharian bekerja membersihkan jalan masuk kampung.

Mataku mengikuti sageru yang mengalir keluar dari bambu itu. Orang Kocu masih menggunakan bahan-bahan alami untuk penyimpanan minuman, seperti batang bambu yang juga dijadikan gelas minum. Segar sekali tampaknya.

Merenda Istimewanya Jogja
Dapur suku Kocuas terpisah dari rumah, kucium wangi keladi dalam timbunan abu panas dok. pribadi)

Aku mengelana sendirian mengendarai sepeda motor KLX150BF dari Teminabuan. Setelah singgah sejenak di Kumurkek, genap perjalanan 100 km hari itu di Kocuas.

Selama lima hari, aku tinggal di rumah Paskalis Tenau di Kocuas. Bangunan dapur orang Kocuas terpisah dengan rumah tinggal. Dalam dapur, tungku berada di tengah dan masyarakat biasa duduk mengelilingi tungku saat makan bersama.

Perhatianku tertarik pada cara mereka memasak keladi dengan ditimbun abu panas hasil pembakaran tungku. Keharuman keladi bakar yang sudah masak menjadi daya tarik kuliner yang tak tergantikan.

Perjalanan menuju Kota Manokwari berlanjut pada hari Jumat berikutnya, 23 Maret 2018. Berangkat sebelum matahari terbit dari Ayawasi, Distrik Aifat Utara, Kabupaten Maybrat, aku berhenti sejenak di puncak tertinggi, Bukit Petik Bintang.

Merenda Istimewanya Jogja
Bukit Petik Bintang, siapa yang mau kupetik bintang buatnya? (dok. pribadi)

Perjalanan yang cukup menantang nyali dan stamina karena kondisi jalan yang belum sepenuhnya berlapis aspal. Banyak turunan yang terjal dengan konstruksi batuan sebesar kepalan tangan dan tanjakan pasir yang licin.

Capai yang kurasa terbayar lunas dengan anugerah alam yang boleh aku nikmati. Terutama daerah antara Ayawasi dan Distrik Miyah, lalu Gunung Pasir setelah Distrik Kebar, pemandangan hutan lebat Papua sepanjang perjalanan adalah suguhan paling indah hari itu.

Kota Manokwari menjemput mahgrib ketika raungan trail aku melemah. Jam 5 sore lebih, kuhitung jarak tempuhku sudah 340 km.

Ingatanku kembali saat  Julius Korainmemberiku minum tiok, seakan inisiasi (informal) diangkat sebagai putra Kocu. Aku bangga menjadi bagian dari suku Papua yang begitu tangguh membangun kehidupannya di tepian belantara Papua.

*Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi petualanganmu, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Hermitianta Prasetya, S.Kom.

Hermitianta Prasetya, S.Kom.
Mantan Pekerja Sosial di Papua - Fotografer, Periset & Pegiat Lingkungan - Universitas Gadjah Mada Yogyakarta - Diploma in Photojournalism Ateneo de Manila University, Filipina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean