Home / Headline / Part 1/2 – Cadar dan Kentalnya Ironi dalam Relasi Perempuan dan Laki-laki
Merenda Istimewanya Jogja
Fatima Mernissi, feminist Moroko, menguak awal mula praktik bercadar dalam komunitas Islam perdana (Istimewa)

Part 1/2 – Cadar dan Kentalnya Ironi dalam Relasi Perempuan dan Laki-laki

Oleh: Sinta Dewi, M.A.

Bonn, Jerman, Aquilajogja.com – Ironi itu kental dalam relasi perempuan dan laki-laki.

Siapa yang paling sibuk mendefinisikan perempuan dan tubuhnya? Tubuh perempuan harus ditutupi dari pandangan siapa? Perempuan dimuliakan supaya terlindungi dari fitnah dan pemerkosaan oleh siapa?

Sejak ribuan tahun lalu, jawaban bagi tiga  pertanyaan di atas adalah laki-laki! Dan sejak ribuan tahun pula, fakta ini cenderung ditelantarkan.

Kontroversi terkait larangan bercadar di UIN Suka JogJakarta beberapa bulan lalu bisa mengilustrasikan ironi dan keterlantaran ini dengan baik. Dalam catatanku, ada empat pendapat.

Pertama menekankan HAM pemakai, yaitu bahwa pilihan individu atas alasan apapun tak bisa dibatasi. “Jika bisa menerima rok mini maka seharusnya bisa menerima cadar“.

Kedua, bercadar tak otomatis berasosiasi dengan radikalisme. Banyak yang bercadar orangnya terbuka dan moderat, pun banyak yang bercadar konservatif dan rigid dalam beragama.

Ketiga, UIN sebagai sebuah institusi berhak menerapkan aturan (berpakaian) di ruang publik. Analoginya, saat seseorang menjadi saksi di pengadilan atau melewati imigrasi bandara, cadar harus dilepaskan.

Keempat, cadar adalah simbol pengaturan seksualitas perempuan. Tubuh dan wajah perempuan adalah godaan, maka harus ditutupi.

Merenda Istimewanya Jogja
Barlas: masalahnya bukan teks Quran yang adalah Firman Allah, tetapi penafsiran atasnya yang kian memusuhi perempuan (Istimewa)

Tak satupun membahas alasan bercadar, yaitu sebagai tafsir atas ajaran agama. Tak satupun membahas cadar dalam konteks pro dan kontra-nya. Padahal, tentang tafsir ajaran Islam atas cadar, baik yang pemakai cadar maupun bukan pemakai, sepakat bahwa cadar tak tertera dalam Quran.

Apakah yang hilang dari keempat pendapat di atas? Institusi sosial-politik bernama laki-laki yang sejak ribuan tahun lalu telah menuliskan hasrat dan kuasanya ke sekujur tubuh perempuan!

Inilah sebabnya mengapa kita perlu mendengar suara perempuan, bukan hanya laki-laki.

Tiga pemikir perempuan -Barlas, Ahmed, Mernissi- melakukan tafsir atas Quran dan mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk berpakaian “modest“ dan keduanya diperintahkan menundukkan pandangan mata terhadap yang lain.

Berhijab bukanlah kewajiban universal, karena ayat-ayat terkait ditujukan kepada Nabi Muhammad saat itu. Tujuannya sebagai pembeda perempuan bebas -muslim dari para budak- yang oleh para lelaki Jahiliyah “bebas” dilecehkan dan dianiaya secara seksual.

Pada abad ke-7 dan sebelumnya, masyarakat Arab dan sekitarnya menganggap perempuan yang berjalan bebas di luar adalah pelacur.

Namun begitu, perempuan muslim tetap bebas keluar dan tak disembunyikan dalam rumah. Maka penutup tubuh berfungsi sebagai perlindungan simbolik.

Sejalan dengan itu, Barlas mencatat bahwa tak satupun ayat Quran menyebutkan tentang tutup wajah, kepala, tangan dan kaki, selain merapatkan kain untuk menutup dada dan leher. Pun tubuh perempuan bukanlah sumber‚ kemaluan’. Hingga abad ke- 9, perempuan berdoa di masjid tanpa penutup kepala.

Merenda Istimewanya Jogja
Leila Ahmed, asal Mesir, profesor Divinitas Universitas Harvard USA, perempuan pertama yang dianugerahi Grawemeyer Award (Istimewa)

Pemikir lain menelusuri sejarah pemakaian penutup kepala jauh sampai pra agama-agama Ibrahim (2.500 SM). Di beberapa kebudayaan, penutup kepala hanya dipakai oleh kelompok kaya, sebagai simbol kelas sosial – bersama dengan kepemilikan permata dan budak.

Jelas, penutup kepala adalah kebiasaan suku-suku setempat yang bercampur dengan penafsiran agama!

Rozaki, dosen UIN Jogjakarta, menyitir Mutahhari bahwa cadar berasal dari tradisi Persia Kuno (agama Zardasyt). Perempuan dianggap sebagai mahluk yang tidak suci, karenanya harus menutup mulut dan hidung agar nafasnya tak mengotori api suci sesembahan.

Sayang sekali, tafsir dan kajian sejarah seperti di atas tidak populer. Barlas menemukan bahwa tafsir rujukan tentang perempuan yang jumlahnya mencapai 60.000 itu ternyata dipakai sekitar 5-6 saja!

Muncul pertanyaan, kog bisa?

Mernissi menguak ternyata sejak proses pengumpulan ayat-ayat Quran dan Hadits, sebagian besar pengumpul dan penentunya adalah lelaki, yang hidup pada masa tatanan sosial yang sangat misoginis.

Tak heran pun sampai abad ini, buku Mernissi dilarang beredar di Maroko dan negara-negara Teluk, sedangkan Barlas dihujat di Pakistan. Dan nyaris semuanya oleh laki-laki!

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin membagi ide, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

 

About Sinta Dewi, M.A.

Sinta Dewi, M.A.
Gender Specialist - Associate Cardiff - Psikologi Yogyakarta - Gender and Development, IDS, Sussex University, Inggris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean