Home / Headline / Part 2/3 – Autisme Membawa Berkah: Menjadi Orangtua Istimewa bagi Anak Istimewa
Merenda Istimewanya Jogja
My Name Is Khan, film masyur terkait autisme yang memikat dunia ini dibintangi 'Golden Pair' Shah Rukh Khan dan Kajol (Istimewa)

Part 2/3 – Autisme Membawa Berkah: Menjadi Orangtua Istimewa bagi Anak Istimewa

Oleh: Dariah Suhaedi, S.Si.

Jakarta, Aquilajogja.com – Adakah yang lebih besar dari kasih seorang ibu yang mendengar curahan hati anaknya dengan mulut terkunci kecuali mata yang mengeja tiap leksikon dalam kamus kehidupan?

Adakah yang lebih melukai hati seorang ibu kecuali tertusuk pedang oleh pergulatan anaknya yang sedang memandang dia dalam kesenyapan yang membingungkan?

Seperti diceritakan dalam Part 1, putriku semata wayang -Aina- mulai menunjukkan adanya penurunan kemampuan bicara setelah vaksinasi polio.

Aina mulai banyak diam, tidak seriang sebelumnya. Rumah kami pun sepi tanpa celoteh dan sepak-terjangnya.

Awalnya aku kira sekadar reaksi biasa sehabis sakit. Namun perubahan pola tidurnya sangat mengejutkan bagiku. Aina tak bisa tidur seperti di jam-jam sebelumnya. Siklus tidurnya berubah, dari yang  biasanya  jam 20.00 menjadi jam 22.00.

Dia sibuk bermain-main dengan mainannya, dikeluarkan dan dijejer-jejer semua. Ada keterpusatan perhatian yang tidak teramati sebelumnya. Lagi-lagi aku berpikir ini hal biasa karena dia mulai senang bermain.

Satu hal yang membuat aku sangat heran adalah Aina seakan tidak menyadari saat aku berangkat kerja. Biasanya dia akan menatap, tersenyum dan mengucap dadah. Dia kini bersikap cuek dan kalau dipanggil, acuh saja.

Jangan ditanya bagaimana perasaanku. Lebih daripada bingung dengan perubahan drastis ini. Siapa yang punya anak pasti tahu nikmatnya diantar saat hendak keluar rumah. Mendadak anakmu tidak lagi melakukannya, hatimu bisa terluka!

Merenda Istimewanya Jogja
Karya Ainaku (dok. pribadi)

Terseret duka dan kebingungan, aku kian tak paham misteri yang meliputi anakku.

Kebiasaan tidur larut Aina makin parah. Di bulan kedua, dia mulai tidur di atas jam 24.00. Aku mulai berpikir ada yang aneh dengan anak ini: semakin pendiam, bermain-main sampai larut bahkan pagi hari.

Penurunan kemampuan bicaranya sangat jelas terlihat sehingga mau tidak mau, kupikir sesuatu telah ‘mengguncang’ sistim saraf di otaknya.

Kuputuskan memeriksakan kondisi Aina ke dokter spesialis saraf anak. Aku menjalani serangkaian wawancara dan tanya jawab dan putriku juga menjalani serangkaian pemeriksaan.

Hari itu akan selalu teringat dalam patri benakku. Tidak ada lagi suara yang lebih mengejutkan selain seorang dokter dalam satu kalimat, “Anak ibu terdiagnosa “autistik”.

Pepatah mengatakannya ‘serasa mendengar petir di hari siang terik panas’. Aku mengatakannya ‘memang dihajar petir langit yang dasyat menggedor gendang telingaku’.

Aku lemas, aku lunglai, dan menangis sepanjang perjalanan pulang ke rumah.

Kutangisi sebuah diagnosa. Reaksi pertama adalah denial, pengingkaran, terhadap apa yang terjadi. Dengan keras aku membohongi diri dengan tetap meyakini Ainaku baik-baik saja.

Sekalipun begitu, kumulai berburu informasi di Google. Biar bagaimanapun, aku harus tahu apa itu autisme? Apa penyebabnya? Bagaimana tumbuh kembang anak autistik? Adakah terapi yang mampu mengobatinya? Di mana pusat terapi yang bisa kudatangi?

Merenda Istimewanya Jogja
Karya Ainaku (dok. pribadi)

Kepala laksana vorteks puting-beliung berkecamuk selaksa tanya.

Sebulan pertama sejak diagnosa, aku masih belum beranjak mencari terapi dan memelihara pengingkaran. Di mana letak kesalahan proses kehamilanku? Aku bahkan bertanya pada Tuhan, dosa apa diriku?

Sudah kupastikan bahwa tidak ada kaitan antara vaksin dengan autisme. Jadi karena apa?

Bergulat kusaksikan Ainaku tidak bisa lagi tidur nyenyak dan selalu tidur di atas jam 24.00. Meradang kulihat Ainaku kehilangan nafsu makan, kian pendiam dan mengurus.

Aku coba mencari pemeriksaan secara psikologi. Kutemui psikolog pendiri Yayasan Autisme Indonesia ( YAI), berharap kalimatnya berbeda. Sayang sekali, diagnosanya sama persis. Ainaku memang anak autistik.

Manusia memerlukan penyadaran supaya sanggup memutuskan ‘ini momennya’. Setelah dialog lama dengan psikolog tersebut, aku mendapatkan penguatan. Tak penting lagi mencari penyebabnya, putuskan saja fokus bukan pada rasa sesal namun pada kegembiraan sebagai seorang ibu.

Temani terus sampai anak kita mandiri, begitu pesan psikolog tersebut.

Ainaku memerlukan kehadiranku secara utuh, bukan sebagai orang yang gigih mencari penjelasan dan justifikasi. Aku putuskan total dampingi dia dan bersama kami menenun tumbuh kembang miliknya – semaksimal yang bisa kulakukan.

Di titik ini, tumbuh perasaan sangat menakjubkan bahwa aku sangat beruntung berkesempatan menjadi ibu istimewa bagi keistimewaan Ainaku.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin membagi kisahmu, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Dariah Suhaedi, S.Si.

Dariah Suhaedi, S.Si.
Internusa - Aktivis Antihoax - Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean