Home / Catatan Jurnalis / Era Post-Truth, Aquilajogja Haram Melahirkan Generasi Jahat
Merenda Istimewanya Jogja
Aquila artinya 'Rajawali yang baik hati', sang pembawa sukacita ke tengah-tengah dunia (Istimewa)

Era Post-Truth, Aquilajogja Haram Melahirkan Generasi Jahat

Oleh: Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.

Jogjakarta, Aquilajogja.com  Aku ingin bertanya, apakah Indonesia sedang memasuki era “post-truth”?

Dalam bahasa sederhana, post-truth bukan soal kebenaran atau paska kebenaran. Ia soal ‘pokoknya begitu’, sebab di luar itu, harus salah.

Bayangkan kerumunan homogen, entah secara fisik atau dalam group di media sosial. Sebagian besar anggotanya otomatis dituntut mengamini pandangan, ajaran atau persepsi dominan, sebab pokoknya demikian.

Maka indikator post-truth adalah bahwa fakta-fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan personal.

Istilah ini mulai dipakai oleh Steve Tesich di majalah The Nation ketika mengkritisi Perang Teluk dan kasus Iran yang terjadi saat itu.

Ralph Keyes dalam bukunya The Post-truth Era (2004) dan komedian Stephen Colber mengaitkan post-truth dengan truthiness, sebuah kata bentukan dalam bahasa Inggris yang kira-kira berarti “seolah-olah benar, meski tidak benar sama sekali”.

Di tahun 2000, terjadi peningkatan drastis hingga 2000 persen sehingga Kamus Oxford menggelari post-truth “Word of the Year 2016”.

Merenda Istimewanya Jogja
Penulis bersama dua keponakan, Indonesia seperti apa yang hendak kita wariskan pada generasi mereka? (dok. pribadi)

Kamus Oxford mencatat bahwa post truth terutama terkait dua peristiwa politik paling berpengaruh di tahun 2016, yaitu hengkangnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat.

Masyarakat ternyata lebih percaya pada opini daripada fakta-fakta sehingga kemenangan Donald Trump sangat beraroma hoax dan klaim-klaim sepihak yang bombastis.

Awan kesuraman menggantung di atas bangsa ini, aku bisa melihatnya.

Aku sudah berkali-kali –bahkan terlalu sering- mendapati orang-orang yang pola komunikasinya sangat terbatas dan monoton. Setiap disodori fakta atau argumentasi yang berbeda dari yang diharapkan, mereka menjadi reaktif, bicaranya kasar serta itu-itu saja.

Media sosial ibarat mata air bagi post-truth. Teknologi memungkinkan setiap orang untuk beropini apa saja, tanpa mengindahkan tetapan ilmiah dan kompetensinya. Apalagi, sejumlah pihak ‘memelopori’ bebas bicara asal garang.

Media konvensional yang digadang-gadang sebagai penjaga demokrasi dan kebenaran ternyata bimbang dan kikuk khususnya dalam menghadapi pernyataan-pernyataan bohong dari para politisi. Mereka kesannya sekadar juru kutip dan juru siar.

Apa saja yang kontroversial, mencemooh bahkan menghina justru laris dan bernilai bisnis. Masyarakat sebenarnya kerap mengunyah ‘sampah’, tetapi sampah ini telah dipuja sebagai perlu, urgen dan asupan wajib.

Merenda Istimewanya Jogja
Prof. Sulistyowati Irianto, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta (dok. pribadi)

Yang paling menyesakkan dari era post-truth adalah berita bohong justru meningkatkan popularitas seseorang. Kebenaran disulap menjadi kebohongan, dan kebohongan gencar disiarkan hingga menjadi kebenaran. Tidak ada program bisa ditawarkan kecuali menjelekkan orang-orang bagus. Kebenaran diperlakukan bagai komoditas, selevel jualan onlen yang bisa dipesan!

Apakah Indonesia sedang memasuki era post-truth? Jelas, kita sedang menuju ke sana dan beramai-ramai sedang melahirkan generasi yang eksis karena jahat!

Aquilajogja.com adalah upaya mendendangkan kecapi setiap orang yang tak sudi membiarkan awan gelap membungkus negeri ini.

Aku tidak ingin orang-orang menggolongkan dirinya ‘mayoritas diam’. Diam apatis itu sangat keliru, sama halnya setuju tipu-tipu dalam senyap.

Mengutip Prof. Sulistyowati Irianto, Guru Besar Fakultas Hukum UI, jangan menari di tabuhan gendang lawan, tetapi bikin tabuhan dari gendang sendiri.

Membonsai syawat post-truth di Indonesia Raya harus dengan konten dari orang-orang biasa, yang original, keren dan menimbulkan semangat untuk membangun masa depan bersama.

Aku percaya setiap orang istimewa dan setiap hari menenun kisahnya. Aku percaya setiap orang bisa menjadi Aquila – sang Rajawali Nusantara yang baik hati.

Ingin mengirim kisahmu, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Rudy Ronald Sianturi M.Hum.

Rudy Ronald Sianturi M.Hum.
Owner & PEMRED Aquilajogja.com - Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta - Asia Research Institute, National University of Singapore - Doctoral Courses De La Salle Univ., Filipina - Memberi pelatihan/konsultasi berbasis SDM, coaching, terapi klinis dan menulis (WA: 082135424879)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean