Home / Headline / Dosen UKSW Salatiga Menemukan Sebotol Air Kehidupan
Merenda Istimewanya Jogja
Sumur Yakup adalah sumur yang digali dalam batu besar dan dikaitkan dengan Yakub bin Ishak bin Abraham (Istimewa)

Dosen UKSW Salatiga Menemukan Sebotol Air Kehidupan

Oleh: Suzana Maria L.A. Fajarini, M.Hum.

Salatiga, Jawa Tengah, Aquilajogja.com  – Aku punya kisah yang sangat kusukai dan mungkin sudah pernah Anda dengar sebelumnya.

Adalah seorang musafir mengelana berbulan-bulan lamanya dengan bekal seadanya. Banyak desa, kota dan hutan telah ia lewati dalam perjalanan itu hingga tiba di sebuah padang tandus yang gersang dan kering.

Tidak berat baginya lagi karena ia telah melewati berbagai kesulitan dan ujian selama ini kecuali bahwa bekal air minum yang dibawanya habis. Sejauh mata memandang, tak ada satu rumah pun untuk seteguk air. Matanya mencari-cari sungai atau sumber air, hanya hamparan pasir terlihat.

Rasa khawatir dan cemas mulai mengusik hati sang musafir. Dia tetap melangkah karena menghentikan perjalanan tidak akan membuatnya menemukan air. Tidak ada kata berbalik arah baginya.

Ketika rasa haus tak tertanggungkan lagi, dia jatuh tersungkur. Kematian telah menghampiriku, pikirnya.

Sebelum matanya terpejam, samar-samar terlihat agak jauh dari tempatnya sebuah sumur pompa tua. Jantungnya melonjak oleh rasa girang. Belum saatnya aku mati, soraknya. Dengan lemah, dia merangkak  seperti mahluk berkaki empat mendekati sumur itu.

Apa daya, berkali-kali menggerakkan pompa itu dengan tenaga yang tersisa, setetes pun tak mengalir keluar dari sumur pompa itu selain suara udara kering dan deritan besi berkarat. Aku akan benar-benar mati sekarang, pikirnya lagi, sebelum tubuhnya roboh seperti onggokan kain lusuh.

Saat itulah tangannya menyentuh sesuatu yang lebih dari setengah bagiannya  terkubur di dalam tanah. Sebuah botol dengan sebagian leher botol mencuat keluar dari tanah. Botol berisi air!

Lupa dengan kematian yang tadi telah membayangi, dia seketika duduk menggali tanah dengan kedua tangannya yang gemetar. Dikeluarkannya botol itu dan dengan tak sabar, dibukanya tutup botol hendak diteguknya air di dalamnya.

Betapa mujurnya aku, teriaknya dengan suara parau. Kematian boleh menunggu nanti atau esok hari!

Saat mulutnya menyentuh bibir botol, matanya tanpa sengaja melihat ada kertas kusam tertempel di botol itu. Ada tulisan namun mengabur, untung masih terbaca.

Merenda Istimewanya Jogja
Bagaikan rusa mendamba air, petikan lagu betapa kita musafir yang kehausan sang Ilahi (Istimewa)

“Pakailah air dalam botol ini untuk memancing air keluar dari sumur. Kau akan mendapatkan air sepuas yang kau inginkan. Jangan lupa setelah dahagamu terpuaskan, isilah kembali botol dengan air untuk menyelamatkan orang lain yang membutuhkan,” demikian tertulis.

Musafir tercenung dengan botol masih di tangan. Betapa sulitnya menahan diri untuk tidak langsung menenggak air bagi kerongkongannya yang kering. Siapa yang bakal tahu dialah yang telah menghabiskan isi botol itu?

Apa yang terjadi kalau kumasukkan air ini ke dalam sumur pompa untuk memancing air keluar tetapi tak berhasil? Aku kehilangan kesempatan hidup dari sebotol air ini.

Pikirannya melayang dan sesaat pengelana ini terpekur sambil menggenggam botol berisi air berharga itu. Dilema besar, namun nuraninya berkata ia harus mencoba dengan segala risikonya itu.

Dia bangkit. Dituangkannya air dalam botol itu ke dalam sumur.

Satu tangannya menggerak-gerakan gagang sumur pompa ke atas dan ke bawah. Tak terjadi apa-apa selain suara udara kering dan derit besi bergesek dengan besi! Samar terdengar suara air turun ke tanah melalui leher sumur pompa itu.

Hilanglah harapan sang pengelana. Namun, dia tetap menggerak-gerakkan gagang pompa meski hati dirambati putus asa.

Tak lama kemudian, terdengar geluguk air yang mendesak dari dalam dan keluarlah air! Air! Tak banyak, berbau dan tampak kecoklatan, namun air.

Dia menyabarkan hatinya. Ada air kotor, ada air bersih. Terus digerakkannya lengan pompa dengan tenaga yang makin lama makin lemah. Di puncak asa, tengok air jernih dan segar berebut menggelegak keluar dari pompa itu.

Musafir memuaskan diri meneguk air itu seperti onta berhari-hari tak berjumpa air. Betapa segarnya!

Semangat dan harapannya kembali hidup. Dengan air yang melimpah, dia bahkan bisa membersihkan dirinya.

Tak henti-hentinya dia bersyukur tak begitu saja mengikuti nafsu untuk secuil kepuasan. Betapa ajaibnya, sebotol air memberinya keberlimpahan dari yang dibutuhkannya.

Sebelum pergi, sang pengelana mengisi botol dengan air, menutupnya kembali dan memasukkan botol itu ke dalam lobang di tanah seperti semula.

Seseorang akan membutuhkan air seperti dia yang sebelumnya nyaris kehilangan nyawa – dan terlebih, imannya pada sang Maha Cinta.

Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Punya pengalaman unik, klik di sini ya

About Suzana Maria L.A. Fajarini, M.Hum.

Suzana Maria L.A. Fajarini, M.Hum.
Dosen UKSW Salatiga - Penghobi Fotografi dan Buku - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean