Home / Headline / Bahaya ‘Laten Komunis’ dalam Ucapan Amin Rais Soal Partai Allah dan Partai Setan
Merenda Istimewanya Jogja
Telegram kultural 'Gunduri Tuwo': jamu beras kencur, koyok, telur bebek dan balsem gosok buat Amin Rais (Istimewa)

Bahaya ‘Laten Komunis’ dalam Ucapan Amin Rais Soal Partai Allah dan Partai Setan

Oleh: Sigit Budi Harsono, S.Kom & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.*

Jogjakarta, Aquilajogja.com Apa sesungguhnya bahaya laten komunisme itu?

Salah satu istimewanya Jogjakarta adalah cerdas mengombinasikan kritik sosial dan pinutur budaya.

Sejumlah elemen masyarakat Jogja khususnya seniman dan budayawan yang tergabung dalam Koyak Istimewa (Koalisi Rakyat Jogja Istimewa) mengirimkan pesan budaya (Rabu, 18/04) kepada politisi PAN, Amin Rais.

Gunduri tuwo, telegram kultural yang dikirimkan tersebut, adalah untuk mengingatkan Amien Rais agar introspeksi dan koreksi diri. Peribahasa agung ini berarti ‘seiring usia yang semakin renta hendaknya mulai mawas diri, bersikap lebih tenang, santun dan tidak ambisius dikendalikan syahwat politik besar’.

Merenda Istimewanya Jogja
Tarian Topeng Ireng oleh Koyak Itimewa (Istimewa)

Bahaya laten komunis harus ditempatkan dalam kerangka ini, yaitu setiap anasir/maksud jahat dan ancaman disintegritas bangsa yang membahayakan kebhinekaan dan keutuhan rakyat Indonesia.

Itulah sesungguhnya makna komunisme: upaya mendongkel Pancasila dari bumi Pertiwi.

Komunisme sebagai ‘bahaya laten’ merupakan alat dan represi politik yang dijadikan ‘hantu’, gendruwo, menakutkan oleh Orde Baru, dan sekarang ini, oleh sebagian kelompok kepentingan. Bahkan sejumlah elit politik tidak ragu menuding orang-orang tertentu sebagai komunis tanpa dasar yang pasti.

Ini jelas kampanye hitam!

Seniman dan Budayawan Jogja memiliki perhatian besar terhadap setiap jenis bahaya laten (dalam pengertian di atas) yang dapat memecah belah keutuhan bangsa. Inilah mengapa mereka keras mengecam pernyataan Amien Rais yang membuat dikotomi absurd soal partai-partai politik di Indonesia, yakni Partai Allah dan Partai Setan.

(Baca juga: Soal Partai Allah dan Setan, Mantan GM Indofood Bilang Begini pada Amin Rais)

Pernyataan seperti ini dianggap sebagai bahaya laten disintegrasi dan pecah-belah keutuhan bangsa Indonesia.

Merenda Istimewanya Jogja
Tindakan simbolik dengan pesan kultural yang sangat kuat oleh Koyak Istimewa (Istimewa)

Sikap anti terhadap pernyataan politisi senior di Republik ini diwujudkan dalam sebuah aksi massa dan budaya di Bundaran Bulaksumur, Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.

Aksi yang tergabung dalam Koalisi Rakyat Jogja Istimewa (Koyak Istimewa) diawali dengan barisan Bregodo prajurit keraton dan tarian topeng Ireng diiringi gamelan.

Secara simbolik, peserta aksi menyiapkan jamu beras kencur, koyok, telur bebek dan balsem gosok untuk dikirim ke rumah Amien Rais. Tujuannya agar beliau sehat dalam berfikir dan bijak dalam mengungkapkan pendapat.

Dalam aksinya, Koyak Istimewa juga menyatakan beberapa pernyataan sikap, antara lain, bahwa Amien Rais tidaklah mendidik masyarakat. Publik membutuhkan narasi-narasi politik yang konstruktif dan berkemajuan, bukan yang tendensius dan penuh kebencian dengan mengatasnamakan Allah.

Merenda Istimewanya Jogja
Peserta aksi antusias menyaksikan gelaran tarian (Istimewa)

Peserta aksi menilai ucapan politisi PAN tersebut sangat berbahaya karena mengadu domba masyarakat serta menistakan nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia.

Sikap dan pernyataan para politisi jelang PILPRES 2019 harus senantiasa diwaspadai. Seringkali tidak memiliki etika dalam berpolitik, mereka hanya ingin mencapai kekuasaan dengan berbagai cara.

(Baca juga: Indonesia akan Bubar 2013? Ketrampilan Mengolah Pengalaman Negatif)

Tujuan menghalalkan cara, sejumlah elite politik mengoperasikannya tanpa mengindahkan dampak ke depan, terlebih di kalangan generasi muda yang masih labil pikirannya. Mereka seakan tak peduli sedang menabur benih-benih yang bakal merobek-robek kebhinekaan dan keutuhan bangsa.

Dapat dikatakan, inilah bahaya laten yang jauh lebih berbahaya dari komunisme yang pada dasarnya sudah selesai di Indonesia ini.

*Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi atau pasang iklan, klik di sini ya

About Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Sigit Budi Harsono, S.Kom.
Editor Aquilajogja.com - Penghobi Fotografi - Universitas Atma Jaya, Yogyakarta

One comment

  1. Saya pengagum beliau sebagai seorang tokoh reformis, menggelengkan kepala kepada cendekiawan yang satu ini. Apa yang dicari beliau? Pada pilpres 2014 ia melontarkan istilah “Perang Badar” dan menjelang pileg dan pilpres 2019, “Partai Allah dan Partai Setan.”

    Nalar akademis yang sangat gemilang itu dikotori sendiri hanya demi tujuan politik yang bersifat sementara? Keteladanan yang dibutuhkan masyarakat, bukan hal-hal yang memecah-belah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean