Home / Headline / Part 1/3 Indonesia akan Bubar 2030? Ketrampilan Mengolah Pengalaman Negatif
Merenda Istimewanya Jogja
Rm. Mangunwijaya, Gus Dur dan Cak Nur, tiga raksasa ulama-intelektual yang bersahabat erat (Tribun Kaltim)

Part 1/3 Indonesia akan Bubar 2030? Ketrampilan Mengolah Pengalaman Negatif

Oleh: Indro Suprobo, S.S., B.Th.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Salah satu tantangan yang dihadapi oleh masyarakat majemuk seperti Indonesia ini adalah kesanggupan mengambil jarak terhadap setiap pengalaman negatif yang ada.

Pengalaman negatif dapat berupa pengalaman disalahpahami, didiskriminasi, dipinggirkan, diperlakukan tidak adil, bahkan menghadapi tindak kejahatan yang mengancam jiwa sebagai akibat dari perbedaan.

Banyak sekali faktor yang memengaruhi terjadinya pengalaman negatif, seperti kepentingan politik yang sempit, kurangnya komunikasi dan perjumpaan sosial yang konkret, serta terbatasnya wawasan tentang liyan.

(Baca juga: Prinsip Pro-eksistensi dalam Masyarakat Majemuk)

Ketidaksanggupan berjarak terhadap pengalaman negatif dapat melahirkan prasangka abadi, penyematan citra buruk yang berlaku tetap dalam lintasan generasi yang sebenarnya sudah berubah (stereotyping), penilaian buruk atau jahat yang bersifat final dan berlaku tetap sepanjang sejarah (stigma), atau bahkan dapat mengakibatkan (reproduksi) tindakan balas dendam terhadap liyan.

Apabila tidak diolah dan diatasi, ketidaksanggupan semacam ini akan terus-menerus melahirkan cara berpikir dan bertindak yang mencederai martabat kemanusiaan dan sangat menghalangi upaya mewujudkan relasi sosial yang damai dalam kemajemukan.

(Baca juga: Part 1/2 – Kisah Jombang Berjilbab di Asrama Kupang yang Mayoritas Kristen)

Ketrampilan berjarak terhadap pengalaman negatif hanya dapat dibangun melalui latihan dan laku terus-menerus (exercise) yang didukung oleh pengembangan sikap kritis dan perluasan wawasan.

Merenda Istimewanya Jogja
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar sepanjang masa, mengatasi pengalaman negatif dipenjarakan di Pulau Buru paska 1965 dengan cara menulis (Istimewa)

Pengembangan sikap kritis dan perluasan wawasan adalah upaya untuk berani dan ikhlas mempertanyakan segala asumsi dasar dari sebuah cara pandang tertentu yang tadinya dianggap sahih atau benar, disertai upaya mencari pemahaman alternatif sebagai cara pandang baru yang lebih dapat dipertanggungjawabkan dan bermanfaat yang lebih menyeluruh.

Memahami pengalaman negatif secara kritis dan dilandasi wawasan yang lebih luas, akan membuat masyarakat lebih mampu berjarak terhadap pengalaman itu, dan menemukan prinsip-prinsip dasar yang bersifat mengikat untuk ditegakkan agar pengalaman itu tidak terulang lagi baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Rabbi Ben Zion Gold, ulama Yahudi, menjadi contoh orang yang berhasil mengatasi pengalaman buruk Holocaust era Nazi Hitler.

Merenda Istimewanya Jogja
Biarawati dan perempuan berjilbab, foto yang viral ini bukti sahih betapa kebanyakan orang menginginkan hidup berdampingan (Istimewa)

Pada tahun 1980an, saat diminta mahasiswa untuk berbicara di hadapan massa demonstrasi anti apartheid, ia berkata, “Ketika saya keluar dari gerbang kamp Auschwitz, meninggalkan keluarga saya yang telah dibakar menjadi abu, saya membuat dua janji pada diri sendiri. Pertama, saya akan mengabdikan hidup saya untuk masyarakat Yahudi. Inilah mengapa saya menjadi seorang Rabbi. Kedua, saya akan melakukan yang bisa untuk memastikan tidak ada orang yang mengalami penderitaan karena ketidakadilan dan penindasan. Itulah mengapa saya berada di sini sekarang…” (Lih. Kelly James Clarck, Anak-anak Abraham, Kebebasan dan Toleransi di Abad Konflik Agama, Kanisius Yogyakarta, 2014, hlm.119)

(Baca juga: HUT Desa Caturtunggal Jogjakarta, Serumpun Sepi Sejuta Aksi)

Janji Rabbi Gold itu, secara etis-moral, sesuatu yang luar biasa karena menunjukkan bahwa ia melampaui pengalaman penderitaan dan kekejaman yang telah dialaminya sendiri, tiada dendam pada siapapun. Ia tidak berfokus kepada diri maupun kelompoknya, melainkan kepada cinta dan kemanusiaan universal.

Apa yang dinyatakan Rabii Gold menjadi prinsip moral yang dasyat. Ia memastikan bahwa tidak ada lagi orang yang mengalami penderitaan karena ketidakadilan dan penindasan, seperti yang ia alami. Ia membangun sikap kritis terhadap pengalaman negatifnya sendiri dan membuatnya persoalan kemanusiaan yang tidak boleh terulang lagi bagi siapapun.

Maka ia akan membela siapapun yang mengalami penderitaan karena ketidakadilan dan penindasan – tanpa pandang bulu. (Part 2, klik di sini)

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi kisahmu, klik di sini ya

About Indro Suprobo, S.S., B.Th.

Indro Suprobo, S.S., B.Th.
Penulis, Penerjemah dan Editor belasan buku seperti Anak-Anak Abraham serta Kebebasan dan Toleransi di Abad Konflik Agama - Teologi & Filsafat Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

2 comments

  1. Tulisan yg bagus. Apakah exercise atau laku berpikir kritis dapat dilakukan saat orang berada di dalam pengalaman negatif? Ataukah dilatih sebelum mengalami pengalaman negatif? Saya cenderung berpikir laku atau exercise itu dilatihkan sebelum terjadinya pengalaman negatif, sehingga saat pengalaman itu datang orang masih punya ruang untuk menciptakan jarak. Latihan berpikir kritis bagi saya adalah upaya untuk menciptakan ruang yang lebar dan kosong. Ruang itu sulit diciptakan manakala kita sedang berada di dalam kegelapan penderitaan.

    • Matur nuwun pak Didik Suryo. Idealnya laku berpikir kritis dilatihkan sejak awal sebelum orang mengalami pengalaman negatif. Namun, seandainya toh terlambat, latihan berpikir kritis pasca mengalami pengalaman negatif tetap dapat membantu. Yang penting hal itu dilakukan sebagai kebiasaan yang berlanjut (continue, on going). Meskipun dilatihkan dan dilakukan pasca pengalaman, penciptaan ruang yang lebar dan kosong itu tetap dapat dilakukan dan berkontribusi efektif. Pada kenyataannya, ada banyak pengalaman negatif yang sudah terlanjur terjadi pada masa lalu sebelum seseorang sempat menyiapkan diri dengan exercise berpikir kritis. Praksis berpikir kritis dan pengambilan jarak yang dilakukan pada masa-masa sesudahnya, pada sebagian besar orang juga dapat membantu untuk melihat kembali (merefleksi) pengalaman negatif masa lalunya dan menyelaminya dengan cara pandang yang baru. Tentu saja, untuk setiap orang memiliki kesulitan dan kemudahan masing-masing. Ini menjadi semacam proses penyembuhan luka batin. Hasil yang dicapai sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain intensitas exercise itu, keseriusan untuk memperluas wawasan yang dibutuhkan (melalui bahan bacaan, pergaulan dengan orang lain yang lebih beragam, dsb). Terima kasih atas masukan yang berguna melalui tanggpan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean