Home / Headline / Part 1/2 – Kisah Jombang Berjilbab di Asrama Kupang yang Mayoritas Kristen
Merenda Istimewanya Jogja
Drum Band SMK Pertanian Pembangunan Kupang, aku salah satu mayoretnya (dok. pribadi)

Part 1/2 – Kisah Jombang Berjilbab di Asrama Kupang yang Mayoritas Kristen

Oleh: Ragil Putri Dyah Ardi Ningtia & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.*

Kupang, NTT, Aquilajogja.com – “Tinggal di asrama itu tidak baik buat kamu, carilah sekolah yang dekat dengan keluarga. Kamu tidak perlu tinggal di asrama”.

Aku heran mengapa orang-orang seakan menolak keras ketika aku putuskan merantau ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Aku tahu, bersekolah jauh dari sanak saudara memang bukan hal mudah. Dan jujur saja, mendengar bisikan kanan kiri, aku sempat goyah juga.

Aku dibesarkan di Jombang, Jawa Timur, negeri yang masyarakatnya terkenal suka merantau. Mungkin ini menjelaskan mengapa aku tidak ragu untuk melangkah.

(Baca juga: Nona Bena Papua Merenda Harapan di Kota Jogjakarta)

Sekolah pilihanku bukan sekolah biasa, namun sebuah sekolah unggulan yang mensyaratkan para peserta didiknya tinggal di asrama. Aku memang ingin menjadi petani unggul.

Sudah dua tahun aku mengenyam pendidikan di SMK Pertanian Pembangunan di Kab. Kupang, Jl. Timor Raya, KM. 39, Kec. Fatuleu Lili. Kepala sekolah kami adalah Bapak Ir. Cornelis Kaho, M.Si. Tahun 2018 adalah perayaan ulang tahunku yang kedua kalinya bersama sahabat-sahabat yang semuanya Kristen.

Merenda Istimewanya Jogja
Sahabat-sahabatku yang cetar membahana: Theodisia. Aku, Clara. Sari, Ovin dan Evha (dok. pribadi)

Aku putri Jombang yang belum banyak pengalaman. Untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan suku-suku Nusantara di satu tempat. Kami seolah dikumpulkan di sini dari seluruh pelosok daerah. Jawa, Alor, Sumba, Rote, Sabu, Belu, Semau, Daratan Timor, Lombok, semuanya hidup di bawah satu atap asrama.

Perbedaan suku, bahasa, dan budaya begitu kasat mata di sini. Tak terbayang bagaimana rumitnya berbagi hidup dengan segala perbedaan di antara kami.

(Baca juga: Istimewanya Suara Emas Anak-Anak Papua, Flores dan Medan di Perayaan Paskah Jakarta 2018)

Setelah mengikuti masa orientasi, aku justru merasa kalau tinggal di asrama itu menyenangkan. Perbedaan ternyata tidak menjadi hambatan. Hubunganku dan teman-teman begitu erat. Kami bersaudara meski tidak bertalian darah.

Pernah teman-temanku di Jombang bertanya, bagaimana caranya menjalin persaudaraan di dalam perbedaan? Bagi mereka sungguh menakjubkan bahwa dari total 293 siswa, aku satu-satunya Muslim di kelas 2 (seorang lainnya di kelas 1). Aku punya tiga resep untuk mereka.

Resep pertama adalah mau belajar, sesederhana itu.

Aku bersyukur bisa tinggal di tengah-tengah komunitas yang beragam. Keberagaman yang ada memperluas wawasanku . Perbedaan membuatku bisa melihat hal-hal baik apa yang dimiliki saudara-saudari se-Nusantara dan yang belum aku miliki.

Merenda Istimewanya Jogja
Teman-teman seasrama yang asyik-asyik (dok. pribadi)

Karena mau belajar, aku belajar banyak. Dan karena belajar banyak, aku merasa betah di antara mereka.

Hidup bersama di tengah-tengah keragaman adalah perjuangan menaklukkan ego dan kebiasaan-kebiasaan pribadi yang tidak membangun. Aku tidak bilang mudah dilakukan, namun asyik dilakoni dan sangat penting untuk meminimalkan potensi gesekan antar saudara.

Resep kedua adalah disatukan dengan tujuan.

Perbedaan meminta kesediaan kita untuk menenun tujuan bersama. Satu tujuan bersama ini menyatukan kami: menyelesaikan pendidikan dengan baik dan menuntut ilmu setinggi mungkin.

Inilah yang diupayakan oleh setiap orang yang tinggal di asramaku.

Di dalam perjalanan mencapai tujuan bersama itu, kami saling menjaga satu dengan lain. Bila ada salah satu saudara yang menyimpang dari jalan, kami menuntunnya kembali ke jalur perjalanan bersama itu.

Merenda Istimewanya Jogja
Perayaan ulang tahunku yang pertama kali di sekolah (dok. pribadi)

Resep ketiga adalah saling membantu.

Aku bukan Wonder Woman. Jauh dari keluarga menjadi ketakutan tersendiri bagi diriku. Bila suatu ketika aku harus menghadapi permasalahan tertentu yang tidak dapat kuselesaikan sendiri, tak ada orang terdekat yang dapat dimintai bantuan.

Namun ketakutan itu sirna selang beberapa waktu aku tinggal dan berinteraksi dengan teman-teman di asrama. Justru kutemukan keluarga baru disini. Ternyata keluarga itu tidak harus sedarah.

(Baca juga: Anak Kupang Main Pasir di Pantai Tambakrejo, Blitar)

Saat seorang rekan sakit, kami beramai-ramai mengunjungi kamarnya dan mendoakannya. Jika seorang rekan mengalami kesulitan belajar, rekan lain tak segan membantu.

Perbedaan tidak menjadi penghalang untuk berbagi suka dan duka. Dan justru karena warna kulit dan bahasa yang tak sama, setiap orang jadi istimewa dan kami bisa menjadi saudara yang saling mengasihi.

Aku memang minoritas di sekolah, bahkan minoritas tunggal di kelas 2 dengan total siswanya 103 orang . Akan tetapi, aku tidak pernah merasa tersisih apalagi tersudut di tengah-tengah mayoritas mutlak Kristen.

*Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berbagi pengalaman atau pasang iklan, klik di sini ya

About Ragil Putri Dyah Ardi Ningtia

Ragil Putri Dyah Ardi Ningtia
Kelas XI SMK Pertanian Pembangunan Negeri Kupang, NTT - Penghobi Bola Volly - Juara 1 Baca Puisi & Juara 3 Olimpiade Fisika antar Kabupaten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean