Home / Pendidikan dan Kampus / Nona Bena Papua Merenda Harapan di Kota Jogjakarta
Merenda Istimewanya Jogja
Sebenia Neahabial, pelajar asal Kab. Yalimo, Papua, sedang 'Ngendonesah' di Jogjakarta sembari turut merenda istimewanya Jogja (dok. pribadi)

Nona Bena Papua Merenda Harapan di Kota Jogjakarta

Oleh: Yusup Priyasudiarja, S.Pd. & Rudy Ronald Sianturi, M.Hum.*

Jogjakarta, Aquilajogja.com – “Aku ingin sekali jadi perawat dan kembali ke kampung halamanku untuk melayani masyarakat” (Sebenia Neahabial)

Begitulah harapan mulia dari Sebenia Neahabial (Bena), pelajar asal Kabupaten Yalimo, Papua. Ia kini duduk di kelas XII di sebuah SMA swasta di Jogjakarta.

Besar dari keluarga petani dengan 5 bersaudara, Bena terpilih menjadi salah satu siswa yang dikirim oleh Pemerintah Provinsi Papua dalam program beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM), program beasiswa untuk anak-anak Papua agar bisa bersekolah di SMA/SMK di luar Papua.

Semester pertama di kelas X menjadi hari-hari paling sulit untuk beradaptasi, bukan karena teman-teman asal Jogjakarta yang tidak mau menerima Bena, namun justru karena dia sendiri yang masih kesulitan untuk memulai pergaulan.

(Baca juga: Apa Bedanya Mengajar Bocah dan Mahasiswa? Mendidik dengan Hati (1))

“Teman-temanku sekelas dari Jogja baik-baik semua. Mereka menerima aku dan selalu mau membantu. Aku sendiri pada awalnya belum siap untuk bergaul dengan mereka, terutama teman-teman perempuan. Maklum dulunya aku satu-satunya siswa perempuan di SMPN Benawa, Papua, karena banyak teman-teman seusiaku yang sudah kawin waktu itu,” jelas Bela dengan logat Papua yang kental.

Lewat semester 1, Bena mulai bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan suasana belajar di sekolah, apalagi dia tinggal di asrama putri bersama pelajar-pelajar lainnya baik dari Papua maupun daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Bena mulai menerapkan disiplin tinggi untuk belajar dan semakin meyakini bahwa ia beruntung bisa menimba ilmu di Kota Pelajar, Jogja, karena teman-temannya maupun para gurunya sangat mendukung proses perkembangannya, terutama pendidikannya.

Yalimo, negeri pegunungan yang meraih awan-awan, tempat lahirnya the Warriors of Yali (Video: Izmael Jakson)

“Di sekolah ini kita diajari untuk bisa mandiri sekaligus peduli dengan orang lain. Guru-gurunya juga cukup terbuka dan mau mendengarkan masukan dan usulan dari siswanya,” jelas Bena.

Bagi Bena dan pelajar Papua lainnya, pendidikan menjadi jalan terbaik untuk mengubah hidup dan kelak mereka bisa kembali ke kampung halamannya dan mengabdikan hidup mereka bagi masyarakat Papua.

(Baca juga: Part 1/2 – Kisah Jombang Berjilbab di Asrama Kupang yang Mayoritas Kristen)

Inilah sekelumit tentang pelajar asal Papua bernama Bena, yang berani merantau jauh ke tanah Jawa. Ia harus jauh meninggalkan orang tua dan komunitasnya serta belajar jeli menyesuaikan diri dengan suasana dan budaya Jogjakarta.

(Baca juga: Dancing on the River, My Adventure at Selat Mariana Kimaam Merauke, Papua)

Setiap Kamis “paingan” dia diwajibkan mengenakan pakaian kebaya khas Jogja, sesuatu yang pada awalnya tampak ribet namun kini dia justru sangat menyukainya. Di kesempatan lain, dia juga sering menampilkan tarian-tarian khas Papua pada acara pentas seni di sekolah.

Di tengah-tengah tekanan sekelompok orang yang mengangkat diri sebagai ‘polisi’ budaya dengan dalih agama, Jogja toh menjadi tuan rumah bagi multikulturalisme dan toleransi lintas SARA.

(Baca juga: Spirit Jogja yang Tidak Bisa Dibuldozer: Kantin, Perlawanan Kethoprak dan Bonbin Reborn)

Budaya selalu majemuk, tidak pernah tunggal. Dan karenanya, saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Bena sedang melakoni apa yang bisa disebut Ngendonesah -setiap harinya- yang memaknai keberagaman etnis dan budaya yang kita sebut Indonesia.

(Baca juga: Prinsip Pro-eksistensi dalam Masyarakat Majemuk)

Beberapa tahun lagi, kita bakal melihat seorang perawat cantik sedang melayani warga di Yalimo, Papua. Orang-orang memanggilnya: Nona Bena sang Papua-Jogja.

*Co-Writer & Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi atau pasang iklan, klik di sini ya
LIKE Page Aquilajogja di sini ya

About Yusup Priyasudiarja, S.Pd.

Yusup Priyasudiarja, S.Pd.
ELTI Gramedia Yogyakarta - Penulis lebih dari 50 buku - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

One comment

  1. Salut orang mudah berprinsip membangun sesama di daerahnya, cita-cita seperti itu patut didukung sampai tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean