Home / Headline / Dawuh Ngarso Dalem Sri Sultan HB X soal Hotel Tugu Jogjakarta
Merenda Istimewanya Jogja
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X (Foto: Istimewa)

Dawuh Ngarso Dalem Sri Sultan HB X soal Hotel Tugu Jogjakarta

Oleh: Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Setiap kota memiliki sejumlah gedung tua yang biasanya dianggap saksi bisu sebuah sejarah. Jogjakarta punya banyak, dan salah satunya terkait dengan daya juang wong Jogja.

Meskipun lama terdiam, seakan dibiarkan di situ, aura keanggunannya tetap terpancar. Bukti bahwa masa lalu bangunan ini memiliki peran besar.

Ketika Jogja kancah peperangan melawan Belanda dan memilih gabung Republik Indonesia, bangunan itu menjadi bagian dari pekik merdeka. Tentara Belanda angkuh bermarkas di situ. Darah bunga-bunga bangsa mengalir deras sebelum perjuangan berhasil kembali merebut bangunan ini dalam momentum Serangan Umum 1 Maret.

Hotel Tugu, para pelancong menyebutnya.

Sesungguhnya adalah “HOETEL TOEGOE”, sebagaimana tertulis di dalam bangunan hotel. Tulisan ejaan lama masih terpampang jelas di atas bangunan tua bersejarah ini.

Di suatu masa, gedung itu terlihat megah, letak dan posisinya pun sangat strategis. Tepat pada sumbu Kota Jogja, lokasinya erhadapan dengan Stasiun Tugu, depannya jalan menuju ikon Jogja -Malioboro- dan tembus Alun-Alun Kidul menuju Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Aktifitasnya nyaris sepanjang hari tidak berhenti, sampai jelang fajar pun masih terlihat dinamis, mungkin sisa sisa kejayaan dan kegembiraan pada malam tadi.

Bangunan bersejarah yang memangku kedalaman filosofi ini mulai diperbincangkan kembali.

Merenda Istimewanya Jogja
Hotel Tugu Jogja di depan Stasiun Tugu, di tahun 1920 (Foto: Istimewa)

Ngarso Dalem Sri Sultan HB X pun angkat bicara menyoal keberadaan Hotel Tugu. Beliau menghimbau agar Pemda DIY melakukan berbagai langkah dan upaya penyelamatan untuk tetap menjaga kelestarian eks Hotel Tugu.

Keberadaan bangunan tidak boleh dirubah atau dibangun apapun, tetapi harus tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya.

Sebagai cagar budaya dan warisan budaya adiluhung, Hotel Tugu tetap dipertahankan, tegas Ngarso Dalem di Kepatihan kepada wartawan. Seandainya di dalamnya ada aktivitas, tidak masalah asal keasliannya tetap terjaga.

(Baca juga: Logo Pariwisata Jogja: Menuju Keistimewaan atau Ketidakistimewaan?)

Akan tetapi, persoalannya bukan hanya soal animo masyarakat dan kalangan Pemda DIY serta lembaga-lembaga lain termasuk kalangan legislatif. Seperti dikatakan Ngarso Dalem, kawasan eks Hotel Tugu ternyata dimiliki oleh keluarga Alm. Bapak Probosutedjo. Artinya, pihak pemerintah daerah harus melakukan upaya atau langkah pendekatan kepada sang pemilik untuk menjadikannya sebagai cagar budaya dan harus dikelola oleh pemerintah daerah.

Dalam hal ini, pihak pemerintah harus melakukan langkah pendekatan dan negosiasi, karena kawasan itu milik pribadi. Mungkinkah keluarga Alm. Bapak Probosutedjo berkenan memberikan asetnya untuk kepentingan peradaban budaya bangsa?

Harapan besar bagi seluruh elemen rakyat Jogja untuk tetap menjaga kelestarian tonggak sejarah yang berarti bagi Jogja.

Keistimewaan Jogja akan kian istimewa jika kita dapat menjaga dan melestarikan Hotel Tugu sebagai cagar budaya dan spirit -tugu historis- wong Jogja.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi atau pasang iklan, klik di sini ya

About Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Sigit Budi Harsono, S.Kom.
Editor Aquilajogja.com - Fotografer - Atma Jaya Yogyakarta **Aquila memberi pelatihan/konsultasi berbasis menulis, creative thinking, terapis klinis, SDM dan coaching. Sila WA 082135424879.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean