Home / Headline / Part 3/4 – Dancing on the River, My Adventure at Selat Mariana Kimaam Merauke, Papua
Merenda Istimewanya Jogja
Sapi bantuan Pemda untuk masyarakat Kimaam, sehat dan gemuk, mereka tak tega menyembelihnya (dok. pribadi)

Part 3/4 – Dancing on the River, My Adventure at Selat Mariana Kimaam Merauke, Papua

Oleh: Ir. Justina E. Sianturi, M.Si.

Kimaam, Merauke, Aquilajogja.com – Kalau bertanya, mengapa dunia masih bernafas? Jawabnya ada di Papua sebagai paru-paru dunia, sang warisan agung bagi  bangsa dan dunia. Dan saya ingin mengenalkannya lebih jauh lewat Turkam 3 Distrik bersama Bupati Merauke, Frederikus Gebze, S.E., M.Si.

Bila Part 1 menerjang maut di gelombang Selat Mariana Kimaam, Part 2 menguji nyali diterjang ombak kesurupan yang memecahkan kaca kapal dan memaksa kami berhenti di Distrik Ilwayab.

Ilwayab sebenarnya tujuan ke-3 setelah Tabonji. Karena laut sungguh mengganas, kami mengubah rute sambil menunggu redanya laut.

Sepanjang hari di Ilwayab, kegiatan tidak berhenti hingga tengah malam. Balik kampung ‘Venesia’ Wogikel, bergegas saya rebahkan badan untuk sejenak waktu karena jam 2 subuh nanti, kami akan ke Tabonji.

Jam 01.30 subuh, 23 Maret 2018, dunia masih dipeluk malam. Kami keluar penginapan berteman senter HP. Rombongan tidur di beberapa tempat karena keterbatasan fasilitas dan titik kumpul di dermaga kayu tempat sandarnya kapal.

Sekitar 30 menit kemudian, layar keberanian dikembangkan dalam hati masing-masing supaya siap menuju Tabonji.

Bersiap menantang gelombang Selat Mariana menuju Tabonji (dok. pribadi)

KM. Torasi mulai bergerak dengan harapan laut akan lebih teduh. Apa mau dikata, gelombang dan ombak meninggi dengan angin dan hujan di tengah gelap gulita selat Mariana.

Gelap bagai selimut hitam tebal dan hanya satu cahaya lampu sorot, dipegang dua teman yang duduk di atas buritan kapal, untuk menerangi jalur pelayaran dan mengamati tepian selat ataupun kayu dan jaring yang dipasang oleh nelayan pesisir.

Perjalanan laut baik siang maupun malam mengajarkan ilmu tentang alam dan cuaca yang tidak bakal didapatkan di manapun selain sekolah pengalaman hidup yang tertempa alam. Hanya mereka yang sudah memiliki jam tayang tinggi saja yang akan mengerti dan dapat belajar dari lingkungan sekitarnya.

Jam 03.20 dini hari, kami tiba di tepian Distrik Tabonji. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 1,5 km lagi di malam gelap gulita.

Menyusuri pantai menuju Kampung Tabonji (dok. pribadi)

Saat kaki merasakan empuk dinginnya pasir pantai Tabonji, saat menapaki  jalanan licin yang berlumpur dibasahi hujan rintik-rintik (jalan akan dicor tahun ini), timbul perasaan haru dan bangga akan Bapak Mamak kami yang pernah bertugas di Pulau Kimaam dari 1965 – 1971.

Ini bukan kunjungan saya yang pertama ke Kimaam, tetapi mungkin yang tersulit karena dilakukan di musim cuaca buruk (Desember s/d April ).

Kulihat sekeliling masih gelap di subuh hari, cahaya lampu tak terlihat, penerangan didapat dari genset atau  beberapa fasilitas yang dilengkapi perangkat solar cell. Tabonji belum bisa benderang keseluruhannya pada tahun 2018.

Tepat 52 tahun lalu, sepasang suami istri dari Medan dengan 4 anak terkasihnya, menginjakkan kaki di Pulau Kimaam yang sangat terisolasi, gelap laksana keabadian malam, jutaan nyamuk mendenging dan ular-ular piton raksasa mendesis di malam hari.

Kimaam dan Tabonji harus dibayangkan bagaimana lagi di tahun 1965-1966 itu, bila 2018 saja masih seperti ini? Mereka juga anak-anak bangsa Indonesia, bukan?

Merenda Istimewanya Jogja
Bupati Frederikus dan Kadis PU, Ir. HBL. Tobing, M.Eng., bersama masyarakat (dok. pribadi)

Hati meneteskan rasa haru untuk orang Bapak Mamak kami dan guru-guru misi teman seperjuangan mereka yang melepas kenikmatan kota demi mencerdaskan anak-anak bangsa di belantara Papua. Nyaris tanpa fasilitas, melulu pengabdian yang sering kita nyanyikan sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”.

(Baca juga: Istimewanya Suara Emas Anak-Anak Papua, Flores dan Medan di Perayaan Paskah Jakarta 2018)

Ini satu tantangan bagi para guru bangsa saat ini yang relatif banyak difasilitas dengan segala tunjangannya. Mengapa masih ada anak usia sekolah yang tidak bisa baca tulis dan berhitung?

Saya sangat hormat pada Bapak Mamak yang telah menjadi guru di Pulau Kimaam. Apalagi sejak tahun 2000, yang menjadi bupati di Merauke adalah murid-murid beliau, yaitu Bapak Drs. Johanes Gluba Gebze  (murid di Kimaam) maupun Bupati Merauke saat ini, Bapak Frederikus Gebze, S.E., M.Si. (murid di Merauke).

Hari masih gelap, kami menunggu masyarakat di Pendopo kecil di rumah Kepala Distrik Tabonji, Aloysius Fanghoy, SIP.

Merenda Istimewanya Jogja
Menunggu fajar menyingsing di pendopo Kadistrik Tabonji (dok. pribadi)

Sekitar jam 07.00, dari arah kantor Distrik Tabonji, datang masyarakat yang gembira menyambut. Mereka menari penuh sukacita menjemput kami di rumah Kepala Distrik Tabonji,

Bupati menyambut masyarakatnya dan kami berjalan ke Kantor Distrik serta menari bersama di halaman.

Anak sekolah, orang tua, aparat distrik dan kampung, Tripika, petugas pustu dan petugas nusantara sehat, semua penuh sukacita. Bayangkan rasanya dikunjungi pemimpinmu yang menerjang mara bahaya demi warga yang bagai ‘terselip’ di Nusantara ini?

Warga bersukacita sambut Bupatinya (dok. pribadi)

Jam 08.00 pertemuan dimulai dengan seluruh masyarakat dan tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat sehingga pertemuan bergeser ke dalam ruangan.

(Baca juga: Istimewa! SD Bhayangkara Jogja Mencipta Dunia Lewat Tarian dan Permainan dalam Gelar Budaya 2018)

Saya perhatikan, Bupati Frederikus selalu menyampaikan beberapa pesan penting di setiap pertemuan.

Ada beberapa janji pembangunan yang harus bisa kami realisasikan seperti jalan menuju Gereja Katolik dan adanya fasilitas Puskesmas Kimaam dan perumahan yang belum pernah diberikan kepada warga di Kampung Deka dan pembangunan jalan menuju Puskesmas Wanam.

Di tengah hujan, Bupati Frederikus dan warga berbagi kegembiraan khas Papua (dok. pribadi)

Bupati secara langsung memberi reward bagi 3 Kepala Kampung yang mampu membangun rumah masyarakat dari dana kampungnya sebagai motivasi bagi para kepala kampung lainnya agar lebih baik dalam melayani dan memanfaatkan dana kampung.

Bupati menanggapi positif terhadap usulan agar para Kepala Distrik mendapat bantuan speedboat untuk pelayanan distrik karena akses antar kampung hampir semuanya menggunakan transportasi air. Tidak lupa, beliau memberi perhatian besar untuk pelayanan musik gereja, insentif bagi musik rakyat dan akses bagi usaha ekonomi kerakyatan.

Satu hal yang sangat menggembirakan adalah meningkatnya partisipasi masyarakat  dalam memikirkan berbagai kebutuhan dan prioritas mereka. Bersambung …

Mari membangun, bukan hanya bicara.
Izakod Bekai Izakod Kai, Satu Hati Satu Tujuan

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi atau pasang iklan, klik di sini ya

About Ir. Justina E. Sianturi, M.Si.

Ir. Justina E. Sianturi, M.Si.
Kepala BAPPEDA Kabupaten Merauke, Papua - Universitas Hasanuddin, Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean