Home / Headline / Part 1/3 – Autisme Membawa Berkah: Menjadi Orangtua Istimewa bagi Anak Istimewa
Merenda Istimewanya Jogja
Aina yang sekarang sudah remaja, aktif dan banyak bertanya (dokumentasi pribadi)

Part 1/3 – Autisme Membawa Berkah: Menjadi Orangtua Istimewa bagi Anak Istimewa

Oleh: Dariah Suhaedi, S.Si.

Jakarta, Aquilajogja.com – Bagi saya, menjadi orang tua adalah satu eposide kehidupan dimana kita dituntut untuk belajar dan terus belajar memahami  anak yg diamanahkan Tuhan pada kita.

Menyitir orang-orang Batak, anak adalah harta terbaik setiap orangtua. Putri yang diberikan Tuhan kepada saya adalah harta tak ternilai di setiap hari kehidupan yang kujalani baik sebagai ibu maupun pengusaha.

Aina adalah putri saya yang kedua dan ia menderita autistisme. Cinta saya padanya sama dengan cinta saya pada anak pertama.

Tak ada yang berbeda dari kehamilan pertama, saya mencoba sebaik mungkin menjalaninya, membaca Alquran setiap hari bahkan hingga masa kelahiran,  saya mampu khatam ( tamat) membaca Alquran dua kali.

Saya juga disipilin dalam menjaga asupan makanan. Saya tidak konsumsi minuman berbahan kimia, juga makanan dengan pengawet bahkan bumbu dari proses kimia pun tidak. Konsultasi dengan bidan dan dokter spesialis teratur saya  lakukan.

Aina lahir di sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak, Kramat Jati, Jakarta Timur, saat usia kehamilan baru delapan bulan dua minggu. Setelah sehari semalam  belum berhasil melahirkan juga, dokter akhirnya menyarankan saya melahirkan dengan proses vaacum. Lahirlah bayi cantik dengan berat 3,6 kg, panjang 51 cm, beralis hitam dan berrambut tebal.

Kebahagiaan keluarga kecil saya menjadi istimewa bahkan sempurna!

Anakkon Hi Do Hamoraon Di Au (Anakku Hartaku), lagu Batak yang mengungkap bahwa cinta orangtua kepada anak melebihi harta apapun di dunia (Video: Vidisuto)

Aina tumbuh seperti anak saya yang pertama, meski ketahuan kalau lebih rendah daya tahan tubuhnya. Di usia empat bulan, ia terkena campak dan setelahnya, tak pernah mengalami sakit yang berarti.

Aina tumbuh sehat dan wajar di setiap tahapan perkembangan. Tengkurap, merangkak dan berjalan seperti umumnya seorang bayi.

Memang masa merangkaknya pendek. Mengacu pada teori perkembangan, periode merangkak mestinya cukup lama karena di masa ini, anak sedang mengalami perkembangan otak.

Aina mulai belajar  berjalan pada usia 10 bulan dan berjalan pada usia satu tahun.

Aina mulai belajar bicara berbarengan dengan belajar berjalan. Tak ada yg aneh, memang agak lambat belajar bicaranya tapi sampai umur 2,3 tahun, dia mulai mampu menyanyi lagu cicak di dinding atau balonku, sepotong sepotong, dengan suara cadelnya dan kadang sambil menari.
Ia tumbuh menjadi anak yang periang, sehingga kalau sakit kentara sekali, dia akan lebih banyak diam.

Hingga tiba hari itu, Sabtu pengubah jalan hidup anakku.

Hari itu, Aina ikut serta dalam kegiatan  vaksin polio masal yang diadakan di berbagai puskesmas dan RW. Sepulangnya, dia mengalami demam hebat dan mulai menunjukkan adanya penurunan kemampuan bicara.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi atau pasang iklan, klik di sini ya

About Dariah Suhaedi, S.Si.

Dariah Suhaedi, S.Si.
Internusa - Aktivis Antihoax - Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean