Home / Bisnis dan Investasi / Part 1/3 – Cinta Putih di Kota Jogja, Pelaku UKM Tidak Lagi Kesepian
MErenda Istimewanya Jogja
Sebagian peserta workshop tampak bersemangat mengikuti sesi demi semi (dokumentasi pribadi)

Part 1/3 – Cinta Putih di Kota Jogja, Pelaku UKM Tidak Lagi Kesepian

Oleh: Arief Hidayat, S.Sos.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Masyarakat di tingkat lokal bergulat setiap harinya. Di tengah-tengah perjuangan ini, Usaha Mikro Kecil (UKM) Jogja merupakan primadona yang merenda denyut ekonomi akar rumput.

Sayang, ia belum cukup cantik ‘berdandan’.

Geliat UKM belum diikuti kemampuan yang cukup memadai baik dari sisi teknis maupun taktis agar sigap berlari cepat dan spartan dalam mengarungi iklim kompetisi bisnis yang cukup ketat. Banyak bertumbangan di tengah jalan sebelum impian yang diidamkan tergapai.

Seperti bunga kekurangan air, seperti cinta sebelah tangan, UKM layu sebelum berkembang.

Banyak faktor yang membuat bisnis skala mikro dan kecil tak mampu berdiri tegak dan lebih banyak ‘tiarap’ bahkan terjerembab kedalam kubangan kegagalan demi kegagalan yang memupus harapan yang sempat menggelora di awal merintis usaha. Banyak pelaku usaha mikro begitu mudah memutar haluan bisnis hanya karena merasa tak mampu bersaing di satu bidang usaha tertentu.

Muncul fenomena ‘pengusaha kutu loncat’, yakni konsentrasi bisnis yang sering berubah sebab kurang sabar menjalani ritme dan dinamika usahanya.

Satu hal yang menghambat laju pertumbuhan usaha para pebisnis pemula adalah lemahnya jejaring diantara para pelaku usaha mikro itu sendiri. Pola pikir primordial dan lokalistik masih sangat mendominasi mindset para wirausahawan kita.

Mereka cenderung berjuang sendirian dan kesepian dalam perjuangannya. Bahkan tak jarang saling jegal dan sikut antar teman yang seharusnya bisa menjadi mitra yang saling menguatkan.

Akibatnya, bisnis susah berkembang, rapuh dan mudah jatuh karena tiadanya kesamaan visi dalam jalinan sinergi dan kolaborasi yang harmonis.

Merenda Istimewanya Jogja
Arief Hidayat, S.Sos. sedang mengisi sesi pembinaan UKM Jogja (dokumentasi pribadi)

Berangkat dari kenyataan ini, Dinas Koperasi UKM Kabupaten Sleman, Jogja, memfasilitasi dan menginisiasi terbentuknya Forum Komunikasi (FORKOM) UKM di tingkat distrik atau kecamatan.

Ada 3 (tiga) lembaga yang digandeng sekaligus yaitu, Bio Hadikesuma Management Training & Consulting (BHMTC), Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Dinas Koperasi dan UMKM DIY serta Ikatan Pengrajin Sleman (IKAPIM) sebagai perwakilan asosiasi UKM yang ada di Kabupaten Sleman, Jogja.

Forum Komunikasi UKM mengawali dengan roadshow ke 17 Kecamatan di Bumi Sembada (Sleman), Jogja, dan diikuti oleh 20 perwakilan UKM setempat, terutama yang selama ini merasa ‘termarjinalkan’ dan belum ‘tersentuh’ oleh aneka pembinaan dan pelatihan dari instansi terkait.

(Baca juga: Mbok Darmi Memikul Berjuta Mimpi dan Harapan Kota Jogja)

Roadshow dikemas secara informal untuk membangun mindset para pelaku usaha pemula, sekaligus sebagai media evaluasi (assessment) dan identifikasi faktual terhadap problematika yang tengah dihadapi oleh para pebisnis start-up dengan cara berbagi dan diskusi interaktif di antara sesama peserta maupun dengan nara sumber.

Kegiatan ini menghasilkan rumusan dan pemetaan yang jelas dan konkret akan potensi, permasalahan serta program lanjutan yang sesuai dan selaras dengan kebutuhan UKM Jogja di tingkat distrik.

Kecamatan Godean mendapat kehormatan sebagai pembuka gelaran Forkom UKM ini pada Selasa, 6 Februari, 2018, yang lalu. Dengan mengambil tempat di Warung Spesial Welut, dan diikuti oleh 20 UKM yang berdomisli di wilayah ini, suasana diskusi berjalan cukup seru dan dinamis.

KLa Project menyuarakan komitmen pada cinta putih (Video: si Jahil Romi)

Ada satu hal yang cukup menggelitik dari sambutan dan pengarahan yang disampaikan oleh Plt Sekcam, Sarjiman, S.P., M.M.A. Menurutnya, Godean cukup terkenal sebagai sentra belut bahkan telah memiliki Pasar Kuliner Belut yang cukup representatif, namun ternyata ‘keropos’ di dalam.

Para pedagang di Pasar Kuliner Belut Godean ternyata 80-90 % berasal dari luar wilayah Kecamatan Godean. Selain itu bahan baku utama berupa belut mentah harus didatangkan dari beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sebuah ironi, sungguh!

Godean menyandang nama besar sebagai sentra kuliner belut namun manfaat ekonomisnya justru mengucur deras ke daerah lain. Diperkirakan ratusan juta hingga miliaran rupiah per tahun dari bisnis belut ini dinikmati oleh warga di luar kecamatan Godean. Bukankah ini sebuah peluang usaha yang sangat potensial dan menjanjikan untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat setempat? Lahan pertanian sebagai media pembiakan belut juga masih terhampar luas di kecamatan yang memiliki 7 desa sebagai salah satu penyangga lumbung beras Kabupaten Sleman, Jogja.

Branding sudah terbentuk, nama sudah dikenal. Apa lagi?

Komitmen pada cinta putih, kesetiaan pada bisnis yang dilakoni dengan memanfaatkan dukungan dari pemerintah lokal. Ini yang kurang!

Muncul sebuah tantangan menarik. Bagaimana harus mengolah dan mengemasnya agar benar-benar berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang digawangi para UKM?

Forum Komunikasi (Forkom) UKM adalah sebuah strategi untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki dengan berkolaborasi dalam jejaring.

Kejelian melihat peluang, kecerdasan mengolah potensi dan sumber daya dan kesigapan bertindak akan menjadi kunci agar tak lagi hanya menjadi pilar penyangga nama besar, tetapi menjadi tuan rumah dan memperoleh nilai ekonomis yang sebesar-besarnya.

Bagaimana dengan kecamatan-kecamatan lainnya? Tentu akan banyak cerita unik menyusul karena setiap distrik memiliki cita rasa dan potensi yang berbeda.

Satu hal yang pasti, UKM Jogja tidak lagi sendirian dalam sepi menyiksa.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

About Arief Hidayat, S.Sos.

Arief Hidayat, S.Sos.
Tim Program Pengembangan UKM Bio Hadikesuma Management Training & Consulting (BHMTC) Yogyakarta - Universitas Proklamasi '45 Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean