Home / Bisnis dan Investasi / Mbok Darmi Memikul Berjuta Mimpi dan Harapan Kota Jogja
Merenda Istimewanya Jogja
Mbok Darmi, pedagang sayur matang di emperen Pasar Demangan, Jogja, menghabiskan nyaris seluruh hidupnya untuk menyediakan vitamin bagi sebuah kota bernama Jogja (Foto: Aquilajogja)

Mbok Darmi Memikul Berjuta Mimpi dan Harapan Kota Jogja

Oleh: Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Jogjakarta, Aquilajogja.com – Seringkali kita kurang mengenal orang-orang biasa yang sesungguhnya merupakan tulang punggung dan denyut sebuah kota.

Pasar Demangan pagi dekat Jalan Solo, 27 Maret 2018, ada sosok seorang yang memiliki konsisten dan komitmen. mbok Darmi namanya, seorang pedagang aneka makanan sarapan pagi di pasar tradisional Jogja tersebut.

Ketika ditanya berapa lama ia telah menekuni jualan sayur matang, mbok Darmi menjawab “Sudah tidak ingat, mas, karena jualannya dimulai sejak masih muda hingga kini”.

Saking lamanya beliau menekuni usaha jualannya hingga sulit untuk mengingat berapa lama waktunya.

Mbok Darmi berjualan, tidak seperti layaknya penjual-penjual pasar yang lain, di loss atau lapak, dengan ruangan tertentu untuk menyimpan dagangannya.

Ia berjualan di lapak emperan dalam pasar, atau numpang di sebuah lapak pedagang pasar lain.

Terkesan mengganggu memang, tapi apa boleh buat, mbok Darmi menggantungkan hidupnya hanya dari jualan di emperan jalan pasar.

Ada juga pedagang yang senasib seperti mbok Darmi. Dan di Pasar Demangan Jogja jumlahnya cukup banyak hingga memadati jalan masuk. Tetapi mereka semua adalah pedagang yang nasibnya masih beruntung karena pengelola pasar masih mengijinkan mereka untuk tetap berdagang di luar lapak alias di emperan.

Berbeda dengan keadaan pasar yg sudah dibangun modern, atau dalam bahasa populernya adalah revitalisasi pasar tradisional menjadi pasar modern.

Merenda Istimewanya Jogja
Suasana Pasar Demangan, Jogja, yang dipenuhi aneka jualan segar (Foto: Aquilajogja)

Perbandingannya, pasar modern harus tertata dengan standar khusus layaknya swalayan atau sekelas supermarket. Tujuannya untuk memanjakan pembeli agar lebih nyaman dalam berbelanja, sehingga tata pasar dan kebersihan pasar sangat diperhatikan.

Bahkan dapat dikatakan, bahwa revitalisasi pasar adalah program nasional setiap pemerintah sejak dari dahulu. Tetapi konsekuensinya adalah menertibkan pedagang pedagang emperan untuk tidak berjualan di luar lapak atau kios pasar.

Terlalu banyak nasib pedagang seperti mbok Darmi, dan mereka ada di seluruh Indonesia.

Ekonomi sebuah kota, yang memberi kehidupan bagi banyak orang, tidak sekadar soal fulus, bukan berlokasi di swalayan, mall apalagi hypermart, namun di di pasar-pasar tradisional. Ketika krisis multi dimensi jelang tahun 2000 menghantam Indonesia yang berakibat jatuhnya rupiah secara menyakitkan, orang-orang terlupakan seperti mbok Darmi inilah yang menahan laju keterpurukan banyak rumah tangga.

Tidak salah bila dikatakan, mimpi-mimpi sebuah kota bisa ditemukan di dalam pasar.

Jika pasar direvitalisasi menjadi pasar modern, dengan konsekuensi menggusur orang-orang yang telah sekian lama menjadi bagian dari nafas dan denyut kota, bagaimana dengan nasib mereka?

Revitalisasi justru harusnya untuk memberi mereka kesempatan untuk berjualan secara lebih manusiawi.

Revitalisasi harusnya sebuah balas jasa dari pemerintah sebuah kota atas jasa orang-orang seperti mbok Darmi yang telah  merenda Jogja dengan harapan dan corak istimewanya.

Editor: Rudy Ronald Sianturi

Ingin berkontribusi dan pasang iklan, klik di sini ya

About Sigit Budi Harsono, S.Kom.

Sigit Budi Harsono, S.Kom.
Editor Aquilajogja.com - Penghobi Fotografi - Universitas Atma Jaya, Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chinese (Simplified)EnglishGermanIndonesianJapaneseKorean